PGN Pede Penggunaan Gas Bumi Akan Lebih Optimal - Berkah Menjadi Sub Holding Gas

Menyadari luasnya cakupan wilayah Indonesia dan juga besarnya populasi masyarakatnya, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi PT Perusahan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) untuk menghadirkan layanan gas bumi di tengah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan energi yang ramah lingkungan dan efisien. Tercatat hingga semester pertama tahun 2019, PGN telah menyalurkan gas bumi sebesar 2.938BBTUD. Rincian penyaluran tersebut adalah volume gas distribusi sebesar 932 BBTUD, dan volume transmisi gas bumi sebesar 2.006 BBTUD.

Dengan angka tersebut, PGN melayani lebih dari 350 ribu pelanggan dengan cakupan infrastrukur pipa gas bumi sepanjang lebih dari 10.000 km. Termasuk juga jaringan gas untuk melayani sektor rumah tangga sepanjang lebih dari 3.800 km. Meskipun angka ini terus tumbuh dibandingkan tahun lalu, namun masih minimnya pemanfaatan gas bumi dibandingkan negara lain menjadi pekerjaan rumah bahwa penyaluran dan distribusi gas bumi tidak bisa dilakukan dengan sendiri oleh PGN.

Maka keputusan pemerintah menjadikan PGN sub holding gas setelah mengakuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas) menjadi harapan besar percepatan infrastruktur, khususnya jaringan piga gas tidak lagi menjadi kendala karena kedua perusahaan gas negara ini memiliki potensi pasar yang besar. Meskipun rencana awal pembentukan sub holding mendapatkan resistensi atau penolaan, termasuk dari serikat pekerja PGN dengan berbagai penilaian negatif.

Namun hal tersebut berhasil dibuktikan PGN pasca menjadi sub holding gas dengan penyaluran gas bumi yang terus tumbuh. Kata Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama, proses holding migas dan peran PGN sebagai sub holding gas telah menggenjot kinerja penyaluran gas bumi. “Naik hampir 50% untuk periode lima bulan saja, kami harapkan kenaikan yang signifikan inipun akan terus melonjak hingga akhir tahun,” ujarnya.

Dia menilai, lewat integrasi infrastruktur gas setelah bergabungnya PT Pertamina Gas (Pertagas) di bawah PGN selaku sub holding gas, mampu mendongkrak nilai efisiensi dan efektivitas. Dari catatan internal, pada tahun lalu, total volume yang disalurkan mencapai 11.469.504 M3 dan sebesar 405 MMSCF.“Tahun ini, kami pastikan volume itu akan tedongkrak secara signifikan,” tegas Rachmat.

Terdapat 14 area operasi penyaluran gas alam oleh PGN. Seluruh area operasi itu tersebar di Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Batam, dan Papua. Rachmat mengungkapkan secara perlahan, holding migas di bawah PT Pertamina (Persero) akan memperkuat ketahanan energi nasional. Secara khusus, tegasnya, pengembangan dan penguatan infrastruktur akan berjalan secara massif dalam jangka waktu ke depan.”Kalau saat ini saja pasca Holding, PGN telah mengelola infrastruktur distribusi dan transmisi gas paling besar di Tanah Air. Namun jumlah itu belum cukup, kami bahu membahu dengan pemerintah untuk memperluas dan memeratakan distribusi gas alam yang terbukti efisien dan aman bagi masyarakat kita,” ungkap Rachmat.

Indonesia saat ini merupakan eksportir gas bumi terbesar kelima di dunia, dengan memiliki cadangan gas tebesar ke-13. Tidak heran, harga jualnya bisa lebih murah dari LPG yang masih harus impor untuk komponen minyaknya. Sementara Direktur Utama PGN, Gigih Prakoso menjelaskan, menjadi sub holding gas menjadi lembaran baru bagi perseroan untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur dan pemenuhan gas bumi sebagai energi baik.”Sekarang, PGN adalah pemain gas bumi terbesar di Indonesia. Kami percaya, kolaborasi dengan Pertagas dan beberapa perusahaan terafiliasi lainnya akan memberi manfaat jangka panjang dalam memenuhi kebutuhan energi yang ramah lingkungan, efisien dan sumbernya tersedia sangat besar di Indonesia," ujar Gigih.

Disampaikannya, saat ini PGN mengelola sekitar 3 miliar kaki kubik per hari (billion cubic feet per day/Bcfd), setara dengan 98% pangsa pasar bisnis transmisi gas. Sementara gas yang dikelola baru 25% dari total pangsa pasar pemanfaatan gas domestik. Berdasarkan data SKK Migas, lanjut Gigih, pemanfaatan gas domestik di Indonesia pada 2018 mencapai 60% dari produksi gas nasional. Namun, dengan menguasai dan mengoperasikan 96% dari total infrastruktur gas di Indonesia, PGN baru memenuhi 20% kebutuhan infrastruktur gas bumi.

Perkuat Jaringan

Gigih menyatakan, untuk memenuhi kebutuhan 80% pasar tersebut, diperlukan inisiatif dan sinergi baik dari pemerintah pusat dan daerah maupun badan usaha, termasuk seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap pemanfaatan gas bumi. Sebagai contoh, untuk memperkuat perluasan jaringan gas bumi ke semua sektor, baik untuk sektor kelistrikan, industri, komersial, transportasi, UMKM dan bagi rumah tangga.

Dirinya juga mengungkapkan, banyak manfaat yang didapat perseroan menjadi sub holding gas. Dimana PGN akan mengelola rantai bisnis midstream dan downstream secara terintegrasi, baik optimalisasi pasokan, infrastruktur, serta pengelolaan pasar di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga akan meningkatkan kehandalan penyaluran gas bumi, serta penyediaan gas dengan harga yang kompetitif dengan tetap memperhatikan keberlangsungan usaha penyediaan gas bumi.”Di usia yang semakin matang ini, PGN yang juga merupakan pionir pemanfaatan gas bumi nasional, terus melakukan inisiatif dan terobosan untuk memperluas pemanfaatan gas bumi ke berbagai segmen melalui pembangunan berbagai infrastruktur gas bumi dalam rangka menjalan peran agent of development untuk peningkatan pemanfaatan dan memenuhi kebutuhan domestik gas bumi," jelas Gigih.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widayawati menambahkan, melalui integrasi PGN ke dalam Pertamina Group akan semakin memperkuat peran BUMN migas dalam menjalankan tugas menyediakan dan menyalurkan energi secara terintegrasi, end to end hulu hilir.

Sehingga, diharapkan tujuan pemerintah dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengembangan infrastruktur dan pemanfaatan gas bumi dapat terwujud nyata dalam peningkatan pembangunan ekonomi nasional.”Menjadi pekerjaan rumah bersama bahwa sub holding gas harus mampu membuktikan dan memberikan dampak nyata terhadap akses energi gas bumi ke seluruh masyarakat. Selain itu, sub holding gas juga dapat tetap memberikan pelayanan terbaik dengan portofolio produk dan layanan yang dimiliki dalam keluarga besar Holding Migas dan fokus kepada layanan pelanggan ke seluruh masyarakat Indonesia. Tidak hanya mudah di akses namun energi yang dinikmati masyarakat juga harus affordable," ujar Nicke.

BERITA TERKAIT

Sikapi Kasus Industri Reksadana - APRDI Tekankan Pembinaan Kode Etik

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayarnya keuntungan dari hasil produk investasi Narada Asset Manajemen kepada investor dan juga kasus yang…

Dukung Pengembangan Starup - Telkom dan KB Financial Rilis Centauri Fund

NERACA Jakarta – Sebagai salah satu langkah untuk mengembangkan bisnis digitalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melalui anak usahanya…

Topang Pertumbuhan Pendapatan - BEEF Diversifikasi Bisnis Logistik di 2020

NERACA Jakarta –Menunjang bisnis utama di pengolahan daging sapi, PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) merambah bisnis baru di sektor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Divestasi Bank Permata - Astra Luluh Ke Tawaran Bank Bangkok

NERACA Jakarta – Sikap bersikukuh PT Astra International Tbk (ASII) untuk tetap mempertahankan kepemilikan saham di PT Bank Permata Tbk…

Wujudkan Perusahaan Sehat - Garuda Bekukan Rute London Yang Bikin Tekor

NERACA Jakarta – Perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/12) pada sesi…

Perintis Tiniti Bidik Dana IPO Rp 250 Miliar

NERACA Jakarta –Tutup tahun 2019, minat perusahaan untuk mencatatkan saham perdananya di pasar modal masih tinggi. Salah satunya, PT Perintis…