Tantangan Ekonomi Kreatif

Presiden Jokowi pada setiap acara sering mengingatkan pentingnya budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Komitmen Jokowi terhadap kebudayaan sebagai salah satu pilar Trisakti tertuang dalam RPJM 2015-2019. Karena, kebudayaan tidak hanya penting bagi bangsa Indonesia pasca kemerdekaan sebagai proses nation-building. Tapi juga penting sebagai pilar menuju Indonesia maju dengan sumber daya manusia (SDM) yang unggul berkarakter kebangsaan, bukan hanya pintar dan piawai dalam teknologi.

Bagaimanapun, apa yang terjadi di Indonesia saat ini adalah krisis karakter budaya bangsa akibat puluhan tahun penyeragaman otoritarian dan kegagalan mengelola kekayaan budaya bangsa. Di satu sisi, manusia Indonesia dihadapkan pada arus kebudayaan yang didorong oleh kekuatan pasar yang menempatkan sebagai konsumen produk kebudayaan semata. Di sisi lain, muncul arus kebudayaan yang menekankan penguatan identitas primordial di tengah arus globalisasi.

Akumulasi dari kegagalan mengelola dampak persilangan dua arus kebudayaan ini menjadi ancaman bagi pembangunan karakter bangsa. Nation-building tidak mungkin maju kalau sekadar mengandalkan perombakan institusional tanpa melakukan perombakan manusianya yang menjalankan sistem dalam pembangunan negeri ini.

Jokowi melihat pembangunan bangsa cenderung menerapkan prinsip-prinsip paham liberalisme yang tidak sesuai dan kontradiktif dengan nilai, budaya, dan karakter bangsa Indonesia. Untuk itu, Jokowi mencanangkan revolusi mental untuk menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan nation-building baru sesuai dengan budaya nusantara.

Salah satu pendekatan yang dijalankan Presiden Jokowi dalam nation-building adalah kembali menguatkan karakter bangsa dengan kebijakan pembangunan “Indonesia sentris”. Indonesia sentris bukan hanya strategi pembangunan ekonomi, namun juga strategi kebudayaan sebagai upaya membangun koneksitas seluruh bangsa Indonesia. Konekstitas itu menjadi mendasar terkait keutuhan identitas bangsa Indonesia.

Indonesia sentris adalah visi Presiden Jokowi membangun kembali konsep keindonesiaan yang selama ini masih terfragmentasi berbagai kendala, baik politik, budaya, ekonomi, maupun infrastruktur. Dengan visi pembangunan Indonesia sentris, Jokowi bukan saja sedang membangun Indonesia melalui pembangunan infrastruktur, tapi juga berupaya memperkuat identitas keindonesian sebagai satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air.

Budaya juga dilihat oleh Jokowi sebagai sebuah proses kreatif yang mempunyai potensi ekonomi. “Saya percaya bahwa masa depan Indonesia akan didominasi oleh industri kreatif dan kerajinan,” ujarnya dalam sambutan konferensi World Conference on Creative Economy (WCCE) di Bali (Nov.2018).

Menurut UNCTAD, industri kreatif adalah sektor paling dinamis dalam perekonomian dunia dan menyediakan kesempatan bagi negara berkembang untuk ambil bagian dalam pertumbuhan yang tinggi ekonomi dunia. Menurut World Economic Forum, pada 2015 sektor ekonomi kreatif telah menyumbang 2,250 milyar dolar dalam perekonomian dunia atau setara dengan 3% GDP dunia.

Di Indonesia kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB terus meningkat. Pada 2018, kontribusi ekonomi kreatif mencapai Rp 1.105 triliun. Nilai ini naik dibandingkan 2017 Rp 1.009 triliun, dan 2016 Rp 922 triliun. Sumbangan PDB ekonomi kreatif terhadap PDB nasional 2017 mencapai 7,57%, mengalami peningkatan dari 2016 sebesar 7,44% dan 2015 sebesar 7,39%. Dari segi tenaga kerja juga mengalami peningkatan, pada 2015 tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif sebanyak 15,9 juta orang, tahun 2017 sebanyak 17,4 juta orang, dan 2018 mencapai 18 juta orang.

BERITA TERKAIT

Pembangunan Berkelanjutan

Visi Indonesia maju tidak pernah surut untuk segera diwujudkan Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Berbagai program jitu dan terukur telah disiapkan untuk…

Figur Asia 2019

Presiden Jokowi belum lama ini dinobatkan sebagai Asian of the Year 2019 dari media asing The Straits Times. Jokowi dinilai…

Cegah Berita Bohong

Masyarakat sekarang diramaikan dengan maraknya berita bohong (Hoaks) yang disebarkan melalui sarana media sosial (medsos), tabloid dan pamflet gelap.  Penyebaran…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Bank Bertahan atau Mati?

Perbankan nasional sekarang dihadapkan pada dua pilihan: ikut mengadopsi teknologi digital agar bank bertahan “hidup” atau tetap konvensional, namun perlahan-lahan…

Pembangunan Berkelanjutan

Visi Indonesia maju tidak pernah surut untuk segera diwujudkan Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Berbagai program jitu dan terukur telah disiapkan untuk…

Figur Asia 2019

Presiden Jokowi belum lama ini dinobatkan sebagai Asian of the Year 2019 dari media asing The Straits Times. Jokowi dinilai…