RI Targetkan Perundingan IK-CEPA Segera Rampung

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menargetkan perundingan rancangan perjanjian dagang Kemitraan Ekonomi Komprehensif Korea Selatan-Indonesia (Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement/IK CEPA) dengan Korea Selatan dapat selesai secara prinsip pada Oktober 2019.

"Untuk perundingan IK-CEPA, kita sepakati akan selesai pada 2019, bahkan dicoba untuk Oktober 2019 sudah substantialy concluded (selesai secara prinsip)," kata Enggartiasto usai pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Korsel Yoo Myung-Hee di sela Pertemuan Menteri Ekonomi Asean (Asean Economic Ministers' Meeting/AEM) ke-51, Bangkok, Thailand, yang disalin dari laman kantor berita Antara.

Mendag meyakini komitmen dari Korsel untuk segera menuntaskan perundingan IK-CEPA juga kuat. Menurut Enggartiasto, "Negeri Ginseng" juga membutuhkan perjanjian dagang dengan negara mitra untuk menggenjot ekspor dan investasi di tengah sengketa perdagangan bilateral mereka dengan Jepang yang kian memanas.

IK-CEPA juga diharapkan Enggartiasto menjadi payung perjanjian yang akan memuluskan rencana keberlanjutan investasi dari dua industri besar Korsel yakni perusahaan kimia Lotte Group dan perusahaan otomotif Hyundai.

"Kami mengetahui ada dua industri besar dari Korsel, ada Lotte di chemical (industri bahan kimia) dan juga Hyundai untuk otomotif. Saya sampaikan kita kasih perhatian besar mengenai itu," ujar Enggar.

Dalam pertemuan bilateral itu, Enggar juga mengapresiasi Korsel yang membantu kemajuan perundingan pakta perjanjian dagang multilateral Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Korsel menjadi salah satu negara raksasa Asia yang memiliki hubungan erat terkait perdagangan dan investasi dengan Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, hingga akhir 2018 perdagangan Indonesia dengan Korsel surplus 451 juta dolar AS dari total perdagangan 18,6 miliar dolar AS. Namun untuk kurun Januari-Juni 2019, Indonesia mengalami defisit perdagangan dari Korsel sebesar 441 juta dolar AS dari total nilai perdagangan 8,02 miliar dolar AS.

Hingga akhir 2018 komoditas ekspor andalan Indonesia ke Korea Selatan adalah batu bara, bijih tembaga, karet alam, kayu lapis, dan timah yang tidak ditempa. Sedangkan komoditas impor utama Indonesia dari Korea pada 2018 adalah karet sintetis, produk baja besi datar, sirkuit terpadu elektronik, kain tenun benang filamen sintetik, dan kapal lainnya.

Perjanjian dagang IK-CEPA menjadi salah satu dari tiga perjanjian dagang yang ditargetkan Indonesia selesai pada empat bulan terakhir di 2019. Dua perjanjian dagang lainnya adalah Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan Indonesia-Taiwan Preferential Trade Agreement (PTA).

Sebelumnya, Enggartiasto Lukita menilai bahwa Indonesia banyak kehilangan pangsa pasar (market share) di sejumlah negara akibat tertinggal dari Vietnam dan Malaysia dalam menjajaki perjanjian dagang.

Enggar mengakui bahwa Indonesia ketinggalan dengan Vietnam yang lebih gesit dalam menjalin perjanjian dagang. Baru sepuluh tahun terakhir ini, kata Enggar, Indonesia baru mengejar ketertinggalan itu untuk menyelesaikan perjanjian dagang.

"Malaysia sebagai contoh, dia sudah lebih dulu, banyak sekali kita kehilangan 'market share' di Turki dan India, oleh Malaysia. Itu karena dia ada perjanjian dagang," kata Enggar usai menghadiri diskusi CEO Connect -Exploring Asean yang diselenggarakan Standard Chartered di Jakarta.

Enggar menjelaskan akibat perjanjian dagang tersebut, Vietnam atau Malaysia memperoleh tarif yang lebih rendah dari negara tetangga lainnya, sehingga berakibat komoditas ekspor asal Indonesia sulit bersaing.

Oleh karena itu, Indonesia berupaya melakukan sejumlah perjanjian dagang yang ditargetkan dapat selesai pada tahun ini, antara lain Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Dalam waktu dekat, Indonesia juga akan memasuki pasar baru di Afrika dengan segera ditandatanganinya kerja sama perjanjian dagang Indonesia-Mozambik Preferential Trade Agreement (PTA).

Enggar mengatakan penandatanganan Indonesia-Mozambik PTA masih menunggu kecocokan jadwal dengan Menteri Industri dan Perdagangan Mozambik. "Saya tinggal menunggu karena menterinya harus dapat izin dari Presidennya, sama-sama menyesuaikan 'schedule'," kata Menteri Enggar.

BERITA TERKAIT

Perlu Tingkatkan Sinergi Perlindungan Konsumen

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengajak pemerintah daerah (pemda) meningkatkan sinergi dalam menyusun strategi penyelenggaraan program perlindungan…

Niaga Internasional - BPDP-KS Pastikan Tak Ada Pungutan Ekspor Sawit Hingga Akhir 2019

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) sepakat tidak melakukan pungutan ekspor sawit sampai akhir 2019, guna…

Serap 200 Ribu Naker, Ekspor Industri Batik Tembus USD18 Juta

NERACA Jakarta - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan industri batik merupakan salah satu sektor yang cukup banyak membuka lapangan pekerjaan.…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perlu Tingkatkan Sinergi Perlindungan Konsumen

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengajak pemerintah daerah (pemda) meningkatkan sinergi dalam menyusun strategi penyelenggaraan program perlindungan…

Niaga Internasional - BPDP-KS Pastikan Tak Ada Pungutan Ekspor Sawit Hingga Akhir 2019

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) sepakat tidak melakukan pungutan ekspor sawit sampai akhir 2019, guna…

Serap 200 Ribu Naker, Ekspor Industri Batik Tembus USD18 Juta

NERACA Jakarta - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan industri batik merupakan salah satu sektor yang cukup banyak membuka lapangan pekerjaan.…