Mampu Tingkatkan Pendapatan Petani, KKP Gencot Program Mina Padi - Integrasikan Budidaya Ikan

NERACA

Yogjakarta - Minapadi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) yang merupakan teknologi tepat guna dalam rangka optimalisasi lahan sawah melalui integrasi budidaya ikan dengan menanam padi. Program ini dinilai sangat efektif karena mampu meningkatkan pendapatan petani. Oleh karenanya, program ini terus digenjot dan tahun ini targetnya bisa mencapai 1 juta hektar.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, saat melakukan kunjungan kerja di Bantul, Yogyakarta, pada Kamis 5 September 2019. Menurutnya, minapadi dijadikan kegiatan prioritas karena beberapa keunggulannya, diantaranya mampu menghasilkan padi organik dengan peningkatan hasil panen padi 2-3 ton serta pendapatan tambahan pendapatan dari ikan minimal 1 ton ikan per hektar. Selain tambahan pendapatan hingga 40%, keuntungan lainnya adalah pada saat proses produksi padi tidak menggunakan pestisida, serta minim dalam penggunaan pupuk. “Sistem minapadi ini tidak merusak lingkungan, ramah, dan berkelanjutan. Makanya program ini jadi program primadona kami,” katanya.

Oleh karenanya, lanjut Slamet, program ini bukan hanya diaplikasikan di Indonesia saja. Tapi, program mina padi ini sudah ditelah ditetapkan oleh FAO (Badan Pangan Dunia) sebagai rujukan model pengembangan minapadi level Asia-Pasifik. Karena dinilai telah berhasil dalam mengembangkan minapadi sebagai program prioritas nasional untuk mendukung ketahanan pangan. “Sekarang minapadi bukan hanya di Indonesia saja tapi sudah mendunia,” imbuhnya.

Di Indonesia sendiri program mina padi sudah mulai berkembang, bukan hanya di area padi saja. Tapi bisa ditanaman sayuran, atau yang lainnya. Dan untuk komoditas juga bukan hanya sekedar ikan Nila saja. Bisa lele, emas, atau komoditas ikan yang lain, menyesuaikan daerahnya. “Bukan hanya di tanaman padi saja, tanaman lain juga bisa selama airnya bagus. Komoditas ikannya juga bisa apa saja,” tuturnya.

Sebagai salah satu kegiatan prioritas KKP sejak 2016, menurut Slamet lagi, hingga 2018 Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), KKP sudah mengembangkan percontohan minapadi di lahan seluas 580 ha dan menyebar di 26 kabupaten di Indonesia. “targetnya tahun ini bisa mencapai 1 juta hektar yang tersebar di seluruh daerah,” paparnya.

Selain meningkatkan pendapatan, program mina padi diharapkan mampu meningkatkan tingkat konsumsi ikan para petani. Mengingat, konsumsi ikan petani saat ini sangat rendah. “Harapannya bukan hanya taraf ekonomi petani kita meningkat, tapi juga tingkat konsumsi ikannya juga. Apalagi Jogia yang saat ini tingkat konsumsi makan ikannya sangat rendah,” ujarnya.

Yang mana, tahun 2019 KKP menargetkan konsumsi ikan per kapita 54,49 kg per kapita per tahun, artinya harus ada ketersediaan ikan setidaknya sebanyak 13,6 juta ton ikan, dimana dari jumlah tersebut diprediksi 60%-nya akan bergantung pada hasil budidaya. Oleh sebab itu, upaya pencapaian produksi perikanan budidaya perlu ditunjang dengan ketersediaan input produksi yang memadai, terutama pakan yang menjadi input utama sebagai penunjang sistem produksi budidaya. “Selain peningkatan produksi kami juga menargetkan peningkatan konsumsi ikan domestik. Karena kita tahu makan ikan itu sehat,” paparnya.

Adapun untuk program bantuan, menurut Slamet lagi, pada tahun 2019, DJPB,KKP, memberikan bantuan ke Kab. Bantul berupa paket bantuan minapadi seluas 15 ha senilai 435 juta kepada kelompok Dwi Manunggal yang memiliki anggota 30-40 orang. Selain itu diberikan juga bantuan berupa pembangunan Unit Pembenihan rakyat senilai 200 juta kepada kelompok Mina Harapan Sejahtera yang beranggotakan 30-40 orang.

Di tempat yang sama, Asisten 3, Kabupaten Bantul, Pulung Hariadi, mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan pusat kepada daerahnya karena ini sangat membantu para petani di Bantul. “Bantul ini lumbungnya padi, makanya kami ingin mengombinasikan antara pertanian dan perikanan untuk meningkatkan perekonomian Bantul,” paparnya.

Selain, sistem minapadi, di Bantul sendiri sudah mulai mengaplikasikan budidaya ikan lele sistem bioflok. Untuk itu, dia berharap pemerintah terus memberikan perhatian lebih pada kami agar perikanan di Bantul bisa lebih berkembang. “Di sini juga sudah jalan budidaya ikan lele sistem bioflok. Kami berharap masih terus mendapatkan pendampingan guna keberhasilan sektor perikanan di Bantul,” tandasnya.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Lombok Barat Ditargetkan Bebas Stunting Pada 2024

NERACA Lombok Barat - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup…

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Lombok Barat Ditargetkan Bebas Stunting Pada 2024

NERACA Lombok Barat - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup…

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…