Darurat Kinerja

Oleh: Ambara Purusottama

School of Business and Economic

Universitas Prasetiya Mulya

Kurang dari seminggu yang lalu, beberapa daerah di Indonesia dikejutkan dengan hilangnya pasokan listrik secara serentak. Menjelang sore, masyarakat mulai panik dengan mendatangi pusat-pusat perbelanjaan untuk membeli persediaan listrik sementara. Kepanikan mulai terasa ketika sebagian masyarakat mulai menyerbu pusat pengambilan uang tunai karena durasi pemadaman tidak kunjung ada penjelasan. Akibat padamnya listrik, ekonomi pun turut memadam karena sulitnya bertransaksi. Pemadaman secara serentak yang terjadi pun dilaporkan sebagian masyarakat kepada pihak yang berwajib karena merasa dirugikan. Perhitungan kerugian akibat gagalnya pasokan listrik mencapai ratusan triliunan rupiah.

Situasi belum mereda, perusahaan plat merah kembali mebuat masalah. Pemadaman terjadi secara tiba-tiba dan herannya hingga sore status persoalan pemadaman belum juga diketahui masyarakat. beberapa isu pun berkembang, dari sabotase hingga persoalan teknis. Beberapa narasumber perusahaan hanya menyampaikan permohonan dukungan agar persoalan dapat diatasi tanpa menyebutkan akar masalah dan durasi perbaikan tanpa memperhatikan kepanikan sudah mulai terjadi di masyarakat. Seharusnya perwakilan perusahaan mampu mengungkapkan latar belakang masalah dan juga memberikan kepastian mengenai program perbaikan. Hal tersebut tidak lain untuk memberikan kepastian dan juga menenangkan masyarakat agar kepanikan setidaknya dapat diredam.

Karena sifatnya yang masif dan tidak jelas, Presiden Jokowi secara khusus mengalokasikan waktu untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Disambut oleh pimpinan perusahaan yang baru ditunjuk namun Presiden Jokowi memberikan gestur ketidakpuasan atas penjelasan permasalahan yang terjadi sebelumnya. Menurutnya, perusahaan tidak belajar dari masalah yang pernah terjadi. Persoalan yang sama pernah terjadi belasan tahun yang lalu. Sebagai organisasi besar yang diberi amanat untuk mengelola listrik, seakan-akan perusahaan tersebut tidak perlu menjelaskan kepada masyarakat. Persoalan listrik menjadi salah satu program stratejik Presiden Jokowi. Pemadaman serentak yang baru saja terjadi tentu saja menodai program kerja unggulannya.

Persoalan kinerja perusahaan plat merah lagi-lagi manuai sorotan masyarakat. Hilangnya pasokan listrik secara serentak menjadi topikpanas, tidak hanya dalam negeri namun juga luar negeri. Berkaca pada pengelolaan listrik di negara lain, sangat jarang pasokan listrik serentak hilang karena permasalahan teknis. Persoalan pemadaman serentak yang dihadapi oleh negara lain lebih disebabkan oleh bencana alam yang merusak infrastruktur hingga mengakibatkan proses elektrifikasi dan distribusi terganggu. Persoalan teknis yang lebih mudah untuk dikendalikan seharusnya dapat diatasi dengan mudah karena perusahaan pemasok listrik nasional memiliki kemampuan yang cukup. Namun demikian, kemampuan tanpa diimbangi dengan kemauan tidak dapat berjalan dengan baik.

Serbuan kritik berbagai lapisan masyarakat akan kinerja perusahaan plat merah yang semakin menjadi-jadi secara tidak langsung membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berangsur-angsur memudar. Kementerian BUMN sebagai penanggungjawab perusahaan plat merah seakan tidak memberikan respon padahal peristiwa penting berulang kali terjadi. Sistem pengawasan yang dikembangkan yang dibuat secara khusus untuk perusahaan plat merah terbukti tidak berjalan efektif. Pemadaman listrik serentak seharusnya menjadi tamparan bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan, terutama yang menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. Mekanisme pengawasan yang transparan penting dilakukan.

BERITA TERKAIT

Tak Mau Defisit, Iuran BPJS Naik Mencekik

Oleh: Pril Huseno, Pemerhati Ekonomi Sebagai salah satu kebutuhan dasar, kesehatan rakyat merupakan amanat undang-undang yang mewajibkan penyelenggara negara untuk…

Koperasi Produksi Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah   Kekayaan Indonesia sangat berlimpah ruah, hal ini dikarenakan didukung dengan alam yang…

Medsos & Koperasi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Era medsos dan industri 4.0 tidak bisa dipungkiri membawa…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Daya Saing Merosot, Kualitas SDM Digenjot

Oleh: Sarwani, Pemerhati Ekonomi Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu nasib Indonesia dalam Indeks Daya Saing Global 2019 yang dirilis World…

Memahami Geopolitik dan Geoekonomi Tiongkok

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Agenda kawasan Asia telah disusun di Beijing. Inisiasi Belt and Road (…

Tak Mau Defisit, Iuran BPJS Naik Mencekik

Oleh: Pril Huseno, Pemerhati Ekonomi Sebagai salah satu kebutuhan dasar, kesehatan rakyat merupakan amanat undang-undang yang mewajibkan penyelenggara negara untuk…