MNCN Garap Potensi Pasar Layanan VOD - Gandeng Perusahaan Asal China

NERACA

Jakarta - Kembangkan ekspansi bisnis di industri media digital, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) terus berpatner dengan berbagai perusahaan internasional. Teranyar, perseroan menggandeng perusahaan penyedia konten video asal China, iQIYI guna membuat platform penyedia layanan video on demand (VOD). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Melalui kerjasama tersebut, perseroan membuat perusahaan patungan. Dimana MNCN memiliki saham sebesar 51% dan 49% bakal dipegang iQIYI. Adapun, MNCN akan mengurus pemasaran, penjualan dan dukungan dari sisi regulasi. Sementara itu, iQIYI bakal bertanggung jawab dari sisi teknologi dan pengembangan ke depan.

Kata Direktur Utama MNC Group, Harry Tanoesoedibjo, MNCN memilih iQIYI karena perusahaan tersebut memiliki kemampuan mumpuni dari sisi teknologi yang merupakan bagian dari perusahaan pengembang mesin pencarian Baidu. “Perusahaan patungan itu ditargetkan bisa berjalan pada kuartal IV/2019 dengan membuat konten dan memulai layanan freemium dari layanan video berbasis iklan (advertisement based video on demand/AVOD) dan layanan video berbasis langganan (subscription video on demand/SVOD),”ujarnya.

Dirinya berharap, melalui kerjasama tersebut bisa mendongkrak kinerja perseroan. Apalagi saat ini, belanja iklan digital bakal terus tumbuh dari 16% menjadi di atas 30% dalam kurun waktu lima tahun. Pertumbuhan tersebut bakal terus terjadi dengan bobot double digit. Di sisi lain, pendapatan masyarakat perkapita pun bakal terus tumbuh dari US$4.000 ke US$6.000 dalam waktu 5 tahun dan akan berada di kisaran US$10.000 dalam kurun waktu 10 tahun dengan pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 3 juta hingga 4 juta per tahun.

Sejalan dengan itu, dia berujar, konsumsi masyarakat terhadap produk-produk digital SVOD akan terus naik. Guna menangkap peluang tersebut, Hary Tanoe menuturkan kombinasi iQIYI dan MNC akan menciptakan sinergi yang sangat kuat dalam layanan siaran video di Indonesia.“Konsumsi akan tumbuh secara tajam termasuk belanja pada layanan SVOD. Kombinasi iQIYI dan MNCN akan menciptakan sinergi yang kuat dalam layanan video streaming di Indonesia,” katanya.

Mengacu pada Media Partners Asia (MPA), bisnis video daring di Asia diproyeksikan tumbuh berganda dari US$26 miliar pada 2019 menjadi US$52 miliar pada 2024. Indonesia sendiri menawarkan potensi besar untuk layanan AVOD dan SVOD. Sebelumnya, MNCN melakukan penetrasi di media sosial, dengan jumlah subscribers 37,6 juta dan jumlah penonton 13,7 miliar. Bisnis MNCN terus naik melalui ekspansi ke aplikasi seluler di RCTI+.

BERITA TERKAIT

Pieter Tanuri Tambah Porsi Saham di BOLA

NERACA Jakarta –Perkuat porsi kepemilikan saham, Pieter Tanuri menambah kepemilikan sahamnya pada PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) menjadi 23,52%…

BEI Kantongi 22 Calon Emiten Bakal Go Public

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sesumbar bakal mencatatkan 60 emiten baru sampai akhir tahun 2019 seiring dengan…

Lippo Karawaci Tunjuk Rudy Halim Jadi COO

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) resmi menunjuk Rudy Halim sebagai Chief Operating Officer (COO) yang telah efektif…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Mardani Terpilih Ketum HIPMI 2019-2022

Hasil musyawarah nasionak (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) memilih Mardani H. Maming (Mardani) sebagai ketua umum HIPMI Priode 2019-2022…

Genjot Pertumbuhan Investor - BEI Gelar Sekolah Pasar Modal HIPWI FKPPI

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus perluas edukasi  manfaat pasar…

Raih Global Islamic Finance Awards - Pasar Modal Syariah Indonesia Terbaik di Dunia

NERACA Jakarta –Kesekian kalinya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan penghargaan internasional Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2019 untuk kategori…