OJK Perketat Keterbukaan Informasi Emiten - Lindungi Invetor Ritel

NERACA

Jakarta – Menciptakan industri pasar modal sebagai sarana investasi yang aman dan melindungi investor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memperketat pengawasan terhadap industri pasar modal, baik itu terhadap perilaku transaksi investor maupun terhadap emiten. “Jumlah investor sudah mencapai 2 juta, sedangkan investor saham saja sudah 900 ribu-an. Sehingga perlindungan investor ritel menjadi perhatian kami,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen di Jakarta, kemarin

Dia menyebutkan, salah satu bentuk perlindungan investor adalah keterbukaan informasi dari emiten. Tapi keterbukaan tersebut harus dipastikan kehandalannya. Dirinya menjelaskan, pihaknya dengan tiga SRO pasar modal yakni BEI, KSEI dan KPEI akan menganalisa data yang tersedia, memastika pasar wajar, teratur dan efisien.“Data kan semakin banyak, kita akan analisa bersama dengan SRO,” kata dia.

Untuk diketahui, hingga tanggal 9 Agustus 2019, regulator pasar modal itu telah melakukan pemeriksaan terhadap 36 emiten, 22 pemeriksaan terkait transaksi dan lembaga efek dan tiga pemeriksaan terkait pengelolaan investasi. Masih dalam rangka melindungi investor, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerbitkan surat edaran yang mewajibkan seluruh anggota bursa (AB) untuk menampilkan notasi khusus pada kode saham dalam kriteria khusus.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi mengatakan, surat edaran tersebut akan mewajibkan AB dengan wahana perdagangan efek digital untuk menampilkan notasi khusus pada kode saham untuk tampilan penawaran jual dan beli.”Surat edarannya akan diterbitkan pada Agustus 2019 dan enam bulan kemudian akan diwajibkan,” kata Hasan.

Dia menambahkan, selama enam bulan kedepan, AB yang belum menampilkan notasi khusus pada aplikasi perdagangannya diharapkan dapat mempersiapkan penambahan fitur tersebut.“BEI akan memberikan bantuan dana pengembangan untuk penambahan fitur itu kepada anggota bursa. Kami sudah menyiapkan dana sebesar Rp600 juta untuk itu,” kata dia.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dari 80 AB dengan wahana perdagangan digital, sudah ada 15 AB yang telah menampilkan notasi khusus. Tapi 15 AB tersebut mewakili 70% dari total nilai transaksi investior ritel.“Jadi secara total nilai transaksi sudah lebih dari 50%, sedangkan dari sisi jumlah AB memang masih ada 65 AB lagi,” kata dia.

Lebh jauh, Hasan menegaskan, jika sampai Februari 2020 masih terdapat AB yang belum menampilkan notasi khusus, maka BEI akan mengenakan sanksi terhadap AB bersangkutan. Saat ini, BEI sudah mengenakan notasi khusus terhadap 45 efek bersifat ekuitas.

BERITA TERKAIT

Dukung Pasar Modal Syariah - Tren Layanan Wakaf Saham Bakal Tumbuh

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan produk layanan pasar modal syariah, beberapa perusahaan manajer investasi terus berinovasi dengan menghadirkan layanan menjawab kebutuhan…

Sidang Bangun Cipta Kontraktor - PN Minta Lengkapi Legal Akta Perusahaan

NERACA Jakarta - Menyoal permohonan perusahaan asal Selandia Baru, H Infrastructure Limited (HIL) kepada Pengadilan Niaga (PN) pada Pengadilan Negeri Jakarta…

IPO Itama Ranoraya Oversubscribed 34,96 Kali

NERACA Jakarta – Penawaran umum saham perdana PT Itama Ranoraya mendapatkan respon positif dari investor. Dimana berdasarkan hasil penawaran di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Modernland Realty Raih The 11th IICD GCG Award 2019

PT Modernland Realty Tbk. (MDLN) berhasil meraih penghargaan dalam acara The 11th IICD Corporate Governance Conference & Award 2019 yang…

Rencanakan Divestasi Saham - Vale Indonesia Matangkan Transaksi Dengan Inalum

NERACA Jakarta – Setelah pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di istana September lalu mendapatkan dukungan soal rencana divestasi, kini…

Ketapatan Laporan Keuangan - BEI Catatkan 12 Emiten Belum Rilis Keuangan

NERACA Jakarta – Meskipun kepatuhan dan kedispilinan emiten dalam penyampaian laporan keuangan terus meningkat, namun pihak PT Bursa Efek Indonesia…