Pertumbuhan Ekonomi Tergantung Waktu

NERACA

Jakarta - Direktur Riset Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef), Berly Martawardaya, memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,1 persen hingga akhir tahun 2019. "Melihat perkembangan sampai sekarang saya prediksi bahwa sampai akhir tahun bisa 5,1 persen, bila investasi meningkat dan konsumsi masyarakat bisa dipertahankan," kata Berly Martawardaya, seperti dilansir Antara, kemarin.

Dia menyarankan pemerintah untuk segera menyelesaikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2020-2025. Dokumen pembangunan lima tahun ke depan itu, lanjut dia, dapat menjadi landasan para investor untuk melakukan perluasan bisnis di Indonesia. "Pemerintah perlu segera finalisasi RPJMN 2020-2025 dan sampaikan arah pembangunan lima tahun ke depan, sehingga investor dalam negeri dan luar negeri confidence untuk ekspansi kegiatan usaha mereka," ujarnya.

Selain itu, pakar ekonomi Universitasi Indonesia ini juga menyarankan agar pemerintah memacu program-program pengentasan kemiskinan guna mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebelumnya, Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai 4,5 persen pada 2019.

Rizal mengatakan prediksi itu dibuat lantaran mayoritas indikator makro ekonomi Indonesia bergerak negatif, salah satunya defisit transaksi berjalan dan kebijakan yang diambil pemerintah belum optimal. Menyikapi prediksi itu, Berly menilai bahwa laju pertumbuhan ekonomi tergantung periode waktu. "Kalau dibandingkan dengan tahun 2011 yang growth PDB 6,5 persen memang sekarang lebih rendah, tapi kalau dibandingkan ketika Pak Jokowi mulai jadi presiden di 2014 yang 5,02 persen ya lebih tinggi, walau tidak jauh bedanya. Prediksi Indef Desember lalu bahwa tahun 2019 growth 5 persen," jelasnya.

Disisi lain, Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman sekaligus ekonom senior Rizal Ramli memprediksi ekonomi Indonesia bakal 'nyungsep' tahun ini. Rizal memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2019 cuma sebesar 4,5%. "Kami ingin mengatakan bahwa tahun ini ekonomi Indonesia akan makin nyungsep, pertumbuhan ekonominya paling hanya 4,5%," katanya.

Artinya pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah 5,2% di tahun ini menurut Rizal tak akan tercapai. "Pemerintah awal tahun mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal 5,2% tapi data terakhir 5,0%. Dugaan kami anjlok terus jadi 4,5%. Kemudian indikator makro menunjukkan kecenderungan makin merosot," jelasnya.

Rizal juga menyoroti laporan Bank Indonesia (BI) yang mencatat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kuartal II-2019 sebesar US$ 8,4 miliar atau 3,04% dari produk domestik bruto (PDB). "Grafik transaksi berjalan makin lama makin merosot, terakhir US$ 8 miliar dolar lebih, negatif, dari PDB meningkat. Ini sangat membahayakan," sebutnya.

Rizal menjelaskan bahwa apa yang dia sampaikan bertujuan untuk mengingatkan pemerintah untuk mempersiapkan diri dan mengantisipasi. Namun menurutnya pemerintah selalu membantah kondisi perekonomian Indonesia masih baik. "Bukan cari solusi gimana keluar dari masalah ini, malah sibuk membantah," tambahnya.

BERITA TERKAIT

Berdayakan Ekosistem Lokal, UC dan Lazada Sinergikan Program Belanja

  NERACA Jakarta - UC Browser bersama Lazada turut memeriahkan Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) 12.12 yang dirayakan setiap tanggal…

Perdagangan Berjangka Komoditi Makin Menarik Buat Investor

    NERACA   Jakarta - Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK), sebagai salah satu bentuk investasi alternatif di Indonesia kian menarik…

Impor Mesin Naik, Taiwan Jadi Pemasok Alat Mesin Ketiga Terbesar

    NERACA   Jakarta - Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), mengklaim total impor Indonesia untuk peralatan mesin dan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Berdayakan Ekosistem Lokal, UC dan Lazada Sinergikan Program Belanja

  NERACA Jakarta - UC Browser bersama Lazada turut memeriahkan Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) 12.12 yang dirayakan setiap tanggal…

Perdagangan Berjangka Komoditi Makin Menarik Buat Investor

    NERACA   Jakarta - Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK), sebagai salah satu bentuk investasi alternatif di Indonesia kian menarik…

Impor Mesin Naik, Taiwan Jadi Pemasok Alat Mesin Ketiga Terbesar

    NERACA   Jakarta - Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), mengklaim total impor Indonesia untuk peralatan mesin dan…