BEI Juga Bidik Perusahaan Kecil Untuk IPO - Kejar Pertumbuhan Tertinggi di Asean

NERACA

Jakarta – Berambisi menjadi industri pasar modal dengan pertumbuhan jumlah emiten tertinggi di Asean, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) belum merevisi target jumlah emiten tahun ini sebanyak 57 perusahaan. Meski tahun ini baru tercatat 16 emiten baru, pihak BEI masih percaya diri dan optimis target tersebut bakal terealisasi.

Maka dalam rangka memenuhi target tersebut, kata Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi, pihaknya tidak hanya mengakomodasi perusahaan-perusahaan besar tetapi juga perusahaan-perusahaan dengan skala kecil dan menengah.“Yang jelas bursa itu tidak hanya untuk yang besar saja, kita juga konsentrasi untuk small-medium enterprise. Tentunya rising fund yang besar-besar kita juga mencari untuk go public,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan BEI, IGD N Yetna mengatakan hingga akhir pekan lalu jumlah emiten baru yang akan mencatatkan sahamnya di bursa masih ada 16 perusahaan lagi. Saat ini perusahaan ini tengah dalam proses pemenuhan ketentuan dari bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).”Target pipeline kita jangan lebih rendah daripada periode sebelumnya, terus pipeline terakhir kan 16 perusahaan. Kita sudah komunikasi ke underwriter sejumlah 33 sekuritas. Mudah-mudahan lebih dari 57 emiten baru bisa kita capai, tahun lalu kan kita 57 emiten,"jelasnya.

Asal tahu saja, dari sekian banyak perusahaan baru yang mencatatkan sahamnya di pasar tahun in, belum ada satupun anak usaha BUMN yang listing. Menurut Kepala Riset Ekuitas BNI Sekuritas, Kim Kwie Sjamsudin, fenomena penundaan IPO oleh anak usaha BUMN ditenggarai karena dalam proses pembesar aset perusahaan tersebut terlebih dahulu.“Kabarnya anak usaha BUMN diminta untuk perbesar aset terlebih dahulu, agar saat IPO dapat meraih dana dalam jumlah jumbo,”ujarnya Diriya memahami langkah tersebut karena dengan raihan dana jumbo maka dapat dipastikan anak usaha tersebut tidak melakukan aksi korporasi dengan melepas saham baru seperti right issue dalam waktu dekat.”Kalau sudah dapat dana jumbo, nantinyakan tidak perlu right issue dalam waktu dekat. Investor juga perhatian kalau baru setahun IPO sudah right issue berpotensi terdilusi,”jelasnya.

BERITA TERKAIT

APRESIASI BRI UNTUK TIM PASKIBRAKA NASIONAL

Anggota Tim Paskibraka Nasional 2019 menunjukkan Kartu ATM BRIZZI disela acara penyerahan dana pembinaan total sebesar Rp.241 juta berupa Tabungan…

BNI KEJAR

Sejumlah siswa Sekolah Dasar melihat hasil karya seni dari barang-barang bekas yang bergantungan di Instalasi Seni kreatif berbentuk lokomotif oleh…

BTN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) siap mendorong pertumbuhan ekonomi di Bengkulu agar bisa lebih maju lagi, salah satunya melalui…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Juli, Penjualan Semen Indonesia Naik 78,8%

NERACA Jakarta – Meskipun industri semen dalam negeri masih terjadi oversuplai, namun penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pada Juli…

Lagi, Bank Mandiri Kurangi Porsi Saham di MAGI

NERACA Jakarta – Kurangi porsi saham di PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bakal…

Lindungi Invetor Ritel - OJK Perketat Keterbukaan Informasi Emiten

NERACA Jakarta – Menciptakan industri pasar modal sebagai sarana investasi yang aman dan melindungi investor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan…