Sumsel Targetkan Kemiskinan Turun Satu Persen Setiap Tahun

Sumsel Targetkan Kemiskinan Turun Satu Persen Setiap Tahun

NERACA

Palembang - Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menargetkan dapat menurunkan angka kemiskinan setidaknya satu persen setiap tahun karena saat ini tercatat 12,71 persen atau di atas angka rata-rata nasional yang sudah satu digit, yakni kisaran 9,6 persen.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan pemerintah daerah berupaya menekan angka kemiskinan itu secara bertahap sehingga pada 2019 sudah bisa 9,91 persen dan pada 2023 menembus 9,20 persen.

“Ini memang tidak mudah di tengah penurunan harga komoditas, tapi jika mau berusaha, target ini bisa dicapai apalagi pertumbuhan ekonomi di Sumsel di atas angka rata-rata nasional dan inflasi yang terus terjaga,” kata dia di Palembang, Kamis (8/8).

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Sumsel pada 2018 mencapai 6,04 persen atau di atas angka nasional 5,17 persen, sedangkan pada 2017 sebesar 5,51 persen, pada 2016 yakni 5,04 persen, pada 2015 sebesar 4,42 persen, dan pada 2014 sebesar 4,79 persen.

Oleh karena itu, pemda saat ini cenderung membuat kebijakan yang dapat berpengaruh pada penurunan angka kemiskinan, salah satunya fokus pada peningkatan produksi pertanian dan pemerataan infrastruktur di daerah.

Berdasarkan data BPS Sumsel, angka kemiskinan Sumsel telah turun 0,11 persen dari semula 12,82 persen per September 2018 menjadi 12,71 persen per Maret 2019.

Jumlah penduduk miskin pada periode terbaru tercatat mencapai 1,07 juta orang atau berkurang 2.660 orang, sedangkan secara sebaran, jumlah penduduk miskin lebih tinggi di perdesaan ketimbang perkotaan.

Kepala BPS Sumsel, Endang Tri Wahyuningsihmengatakan pemda harus berupaya keras menurunkan angka kemiskinan karena penurunan yang tercatat BPS masih tergolong lambat atau belum signifikan.“Kemiskinan di Sumsel tidak signifikan penurunannya karena tampaknya kita (bantuan, red.) masih 'stuck' di kelompok masyarakat menengah dan ke atas,” kata dia.

Endang menjelaskan pemerintah seharusnya lebih fokus memberikan kebijakan dan program bantuan kepada 40 persen penduduk terbawah secara pengeluaran.

Berdasarkan pengelompokan Bank Dunia, kata dia, penduduk dibagi dalam tiga kelompok, yakni 40 persen berpengeluaran rendah, 40 persen berpengeluaran menengah, dan 20 persen berpengeluaran tinggi.

Namun demikian, Endang menilai banyak faktor yang mendukung penurunan angka kemiskinan di Sumsel, salah satunya terjadi kenaikan upah buruh tani dari Rp1,39 juta per bulan pada Agustus 2018 menjadi Rp1,69 juta pada Januari 2019.“Upah buruh kami catat naik signifikan sebesar 21,58 persen. Selain itu, upah buruh konstruksi juga meningkat 1,57 persen,” ujar dia. Ant

BERITA TERKAIT

Gubernur Sumsel: Pemberian Beras untuk ASN Ditiru Provinsi Lain

Gubernur Sumsel: Pemberian Beras untuk ASN Ditiru Provinsi Lain   NERACA Palembang - Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru mengatakan, pemberian…

Semester Pertama, Pajak Daerah Kota Sukabumi Sudah Mencapai 65,67 Persen

Semester Pertama, Pajak Daerah Kota Sukabumi Sudah Mencapai 65,67 Persen   NERACA Sukabumi - Realisasi pendapatan pajak daerah yang dikelola oleh…

Sistem Data Kemiskinan Palembang Masuk 10 Inovasi Terbaik Geospasial

Sistem Data Kemiskinan Palembang Masuk 10 Inovasi Terbaik Geospasial   NERACA Palembang - Sistem Informasi Data Kemiskinan Kota Palembang masuk 10…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

ExRaya Jadi Bursa Kripto Pertama Indonesia yang Memproduksi Koinnya Sendiri

ExRaya Jadi Bursa Kripto Pertama Indonesia yang Memproduksi Koinnya Sendiri NERACA Jakarta - Ditujukan ke Asia Tenggara, yang mana minat…

Ini 5 Alasan Harus Pilih HPB Untuk Portfoliomu

Ini 5 Alasan Harus Pilih HPB Untuk Portfoliomu  NERACA Jakarta - Belakangan ini, di forum-forum diskusi blockchain sedang ramai-ramainya membahas…

Said Abdullah: Currency War Menekan Mata Uang Rupiah

Said Abdullah: Currency War Menekan Mata Uang Rupiah   NERACA Jakarta - Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah memperkirakan…