Pendalaman di Pasar Modal Perlu di Optimalkan - Masih Kalah Pamor dari Perbankan

NERACA

Jakarta – Geliatnya pertumbuhan industri pasar modal baik dari segi nilai transaksi, produk investasi hingga pertumbuhan jumlah emiten belum semuanya memberikan dampak terhadap pendalaman pasar modal di masyarakat. Pasalnya, saat ini lebih banyak perusahaan masih mengandalkan pendanaan di perbankan dengan jumlah nilai pembiayaan yang terbatas ketimbang di pasar modal yang bisa mendanai jangka panjang untuk ekspansi usaha. Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Wimboh mengatakan, masih banyak tantangan yang dihadapi pasar modal untuk menarik minat korporasi untuk mendulang dana dari pasar modal. Salah satunya adalah dengan menyaingi cepatnya proses pencairan pembiayaan di perbankan.”Di perbankan ini cepat, prosesnya cepat. Apalagi nasabah yang sudah ada track record di perbankan itu paling cepat, paling mudah. Namun setiap nasabah kan ada kendala, ada legal lending limit sehingga ada batasnya. Nah, untuk itulah di sinilah pasar modal itu ada ruang," ujarnya di Jakarta, Senin (12/8).

Menyadari besarnya tuntutan terhadap peran dari pasar modal, maka upaya pendalaman pasar modal menjadi sangat penting, baik dari sisi supply, demand maupun penyempurnaan infrastruktur. Dari sisi supply, lanjutnya, instrumen yang bervariasi dan customized dengan profil investor perlu terus dikembangkan. Instrumen tersebut, antara lain sekuritisasi, syariah based dan juga green/blue financing (SDGs).

Selain itu, pasar modal perlu terus meningkatkan basis jumlah emiten. Sepanjang tahun berjalan 2019, sudah ada 32 emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Di sisi demand, pertumbuhan jumlah investor pasar modal perlu didorong melalui kerja sama antar sektor keuangan dan edukasi/sosialisasi, serta perkembangan investor institusi.

Untuk menunjang hal tersebut, infrastruktur pasar modal juga harus terus diperbarui dengan mengadopsi teknologi yang lebih reliable, mudah, cepat dan transparan. Selain itu, harus dilengkapi sinergi & penerapan manajemen risiko & GCG di emiten."Upaya-upaya tersebut tentu harus dilengkapi dengan sinergi yang baik dengan berbagai pihak, penguatan fundamental emiten melalui penerapan manajemen risiko dan juga tata kelola yang baik," ucap Wimboh.

Selanjutnya, dalam rangka mengoptimalkan peran pasar modal dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional, PT Bursa Efek Indonesia selaku Self Regulatory Organization (SRO) diminta untuk meningkatkan perannya dalam mendorong pertumbuhan pasar modal. Apalagi, perekonomian Indonesia tumbuh sangat lambat dalam tiga tahun terakhir.

Dia menjelaskan, perlambatan ekonomi beberapa tahun terakhir tidak bisa lepas dari pengaruh kondisi perekonomian global. Tensi trade war antara Amerika Serikat dan Cina diperkirakan masih berlanjut dan bahkan sudah mengarah ke currency war. Kondisi itu mengakibatkan prediksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan berbagai lembaga internasional menjadi semakin nyata dan memberikan tekanan pada perdagangan internasional.

Hal ini mengindikasikan tantangan dari perlambatan ekonomi global ini masih akan mewarnai perkembangan ekonomi domestik dan juga tentunya kinerja pasar modal ke depan. Oleh karena itu, dirinya berharap semua merespon dinamika ini dengan cepat dan tepat. Kemudian dalam upaya meningkatkan ekonomi yaitu dengan meningkatkan sektor riil. Wimboh berharap, SRO bisa lebih proaktif membantu sektor riil tumbuh melalui penggalangan dana di pasar modal.

Selain itu, lanjut Wimboh, OJK juga berharap agar pemerintah bisa menumbuhkan ekonomi melalui bidang-bidang lain, seperti sektor pariwisata. Terlebih lagi, kata dia, BI juga sudah merespons perlambatan ekonomi global dan tren penurunan suku bunga dengam menurunkan suku bunga acuan BI 7day Reverse Repo Rate menjadi 5,75%.

Wimboh memperkirakan, penurunan BI 7day Reverse Repo Rate tersebut bukan merupakan kebijakan suku bunga yang terakhir bagi bank sentral, lantaran masih ada ruang untuk melanjutkan langkah menurunkan suku bunga acuan. "BI sudah menurunkan bunga acuan. Ini bukan yang terakhir, masih ada ruang untuk menurunkan lagi," katanya. bani

BERITA TERKAIT

Bankir: Resesi Global Masih Jauh dari Kondisi Nyata

NERACA Jakarta-Kalangan bankir menilai resesi ekonomi global masih jauh dari nyata. Dengan demikian, masyarakat diimbau tak perlu menanggapi isu tersebut…

PERLU NILAI TAMBAH EKONOMI DIGITAL - JK: Tiru China Bangun Inovasi Digital

Jakarta-Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengingatkan agar pengusaha muda Indonesia tidak hanya membangun marketplace. Generasi muda katanya juga harus berpikir…

BI Tetapkan Tarif 0,7% Ke Penjual dari Transaksi Pakai QR Code

  NERACA Jakarta – Bank Indonesia (BI memutuskan transaksi yang menggunakan kode respon cepat atau Quick Response Code (QR Code)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

JAGA STABILITAS KEAMANAN - Pemerintah Siap Usut Tuntas Kerusuhan di Papua

NERACA Jakarta – Kerusuhan yang terjadi di Papua Barat merupakan dampak kasus yang terjadi di Surabaya dan Malang. Merespon hal…

Bareskrim Tindak 1.384 Tambang Ilegal

Jakarta-Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menindak 1.384 tambang ilegal dalam kurun waktu dari tahun 2013 hingga 2017. Menurut data…

Bankir: Resesi Global Masih Jauh dari Kondisi Nyata

NERACA Jakarta-Kalangan bankir menilai resesi ekonomi global masih jauh dari nyata. Dengan demikian, masyarakat diimbau tak perlu menanggapi isu tersebut…