Diskon Tiket Pesawat Hanya Berlaku Jangka Pendek

NERACA

Jakarta – Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti menegaskan bahwa kebijakan diskon tarif pesawat untuk penerbangan berbiaya murah (LCC) hanya jangka pendek. “Itu ‘kan kebijakan jangka pendek,” kata Polana di Jakarta, sebagaimana disalin dari Antara.

Untuk itu, dia mengatakan pihaknya akan mengkaji kemungkinan ada skema baru yang lebih berjangka panjang terkait tiket pesawat. “Kami sedang mengkaji untuk kebijakan jangka panjang. Nanti kita bicarakan lagi,” katanya.

Sebelumya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membantah ada perubahan skema pemberian diskon tiket pesawat LCC. “Enggak (tidak ada perubahan),” ujarnya. Pernyataan tersebut menyusul wacana penghapusan skema diskon tarif LCC yang diucapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Menurut Darmin, masih banyak aspek yang bisa dicari untuk solusi mahalnya tiket pesawat ini dan tidak memberikan diskon pada hari serta jam tertentu. Pemerintah mewajibkan maskapai LCC untuk menurunkan harga tiket sebesar 50 persen dari tarif batas atas pada Selasa, Kamis dan Sabtu mulai pukul 10.00 hingga 14.00 waktu setempat.

Diskon tersebut hanya berlaku untuk 30 persen dari total kursi yang tersedia dalam satu pesawat. Untuk itu, Darmin mengatakan lebih baik mencari solusi yang lebih berkelanjutan dan harga tiket masih bisa diturunkan.

Sementara itu, semenjak kewajiban pemberian diskon, tiket pesawat Citilink dan Lion Air terpantau turun, misalnya untuk rute Jakarta-Surabaya yang sebelumnya sekitar Rp1 juta, sementara setelah ada diskon harga turun mencapai Rp800.000.

Kementerian Perhubungan sedang memformulasikan skema alternatif guna dalam upaya penurunan tiket pesawat penerbangan berbiaya murah rute domestik. “Insya Allah kita bisa membuat format-format harga tiket yang lebih terjangkau, tidak saja tiga hari, tetapi dengan format yang lain,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi disalin dari Antara.

Budi mengatakan pihaknya terus memonitor dan bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mengevaluasi. “Sudah kita evaluasi lakukan bersama-sama Kementerian Koordinator Perekonomian,” katanya.

Dia mengatakan tiket pesawat bukan hanya di Kementerian Perhubungan, tetapi juga ada pajak di dalam komponen harga tiket. “Kami mengatur tarif batas atas dan batas bawah agak tidak mengabaikan keselamatan penerbangan,” katanya.

Menurut dia, saat ini skema yang diterapkan, yaitu penurunan harga tiket untuk penerbangan berbiaya murah (LCC) rute domestik tiap Selasa, Kamis dan Sabtu pukul 10.00-14.00 sudah cukup efektif. Berdasarkan pengecekan di aplikasi salah satu agen perjalanan daring, tiket pesawat Lion Air rute Jakarta-Yogyakarta Rp600.000, Jakarta-Bali Rp700.000.

Direktur Operasi Lion Air Group Daniel Putut sebelumnya mengatakan pihaknya akan mengajak pemerintah untuk lebih memperbanyak tiket terjangkau. “Malah kita mengajak pemerintah untuk jangan cuma hari-hari itu saja, kalau bisa kita buat masyarakat lebih merasakan lagi, tapi dgn ada konsekuensi-konsekuensi,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya masih mengikuti perarutan yang tertera dalam Peraturan Menteri Nomor 106 Tahun 2019. “Soal tiket penumpang pesawat, dari yang susah disampaikan kita masih sesuai,” katanya.

Dia menyebutkan komponen harga tiket pesawat, bukan hanya harga tiket, melainkan pula PPN, asiransi jasa raharja, dan pajak bandara (airport tax). “Kalau kita ilustrasikan dengan bahan bakar di Terminal II domestik Soekarno-Hatta. Tiket kami Rp800.000, maka ada tambahan PPN Rp80.000, kemudian BPJS, pasanger service charge yang Rp85.000 mungkin saat ini totalnya, sehingga total menjadi Rp965.000, yang murni punya kami itu Rp800.000, ini yang menjadi issue akhir-akhir ini menjadi perhatian Menko Perekonomian yang juga rapat intens dengan menhub dan jajarannya,” katanya.

Daniel menuturkan akar masalah darintiket pesawat bermula dari nilai tukar rupiah yang terus melemah sejak 2013 membuat industri penerbangan tidak aman. “Memang asal muasalnya sejak 2013 dimana dolar AS enggak menyelematkan industri penerbangan, ‘save margin’ kita waktu itu diangka Rp11.000. Tapi, sejak menyentuh Rp13.000 hingga Rp15.000, seluruh komponen yang terkait dengan biaya pemakaian yang memakai mata uang asing 50 persen,” katanya.

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia lebih memilih untuk mendorong sektor pariwisata ketimbang harus menjaga harga tiket pesawat.

BERITA TERKAIT

Komoditas - Harga Nikel Untuk Pasar Domestik Disepakati US$30 Per Metrik Ton

NERACA Jakarta – Pemerintah dan pengusaha sepakat untuk menetapkan harga jual nikel untuk diserap di dalam negeri sebesar 30 dolar…

Niaga Domestik - Pengusaha Ritel Diminta Inovatif Seiring Perkembangan Teknologi

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta para pengusaha ritel untuk inovatif seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat. Ia…

Industri Mamin RI Siap Promosi di Pameran SIAL INTERFOOD

  NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman Indonesia siap unjuk gigi di pameran berskala internasional makanan, minuman, jasa boga,…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Masuk Jalur Distribusi Ritel Modern, Bulog Harus Jaga Kualitas Beras

NERACA Jakarta – Rencana Badan Usaha Logistik (Bulog) untuk mendistribusikan beras serapannya melalui jalur ritel modern merupakan sebuah inovasi yang…

Komoditas - Harga Nikel Untuk Pasar Domestik Disepakati US$30 Per Metrik Ton

NERACA Jakarta – Pemerintah dan pengusaha sepakat untuk menetapkan harga jual nikel untuk diserap di dalam negeri sebesar 30 dolar…

Niaga Domestik - Pengusaha Ritel Diminta Inovatif Seiring Perkembangan Teknologi

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta para pengusaha ritel untuk inovatif seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat. Ia…