Barito Pacific Raih Izin Stock Split Saham 1:5 - Jangkau Investor Ritel

NERACA

Jakarta – Perkuat likuiditas saham di pasar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) bakal menggelar stock split saham 1:5. Pada aksi korporasi ini, perseroan telah mendapatkan restu pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Perdagangan saham dengan nilai nominal baru diperkirakan pada pertengahan Agustus 2019.

Direktur Utama Barito Pacific, Agus Salim Pangestu menuturkan, faktor likuiditas menjadi pertimbangan perseroan dalam aksi korporasi ini. “Setelah stock split diharapkan akan membuka kesempatan yang lebih besar bagi pemegang saham publik untuk memiliki saham BRPT dengan tingkat harga yang lebih terjangkau,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan memberikan perhatian terhadap investor ritel. Dia berharap harga saham setelah stock split dapat kembali menarik minat investor ritel. Disampaikannya, pemegang saham perseroan lebih banyak institusi, seperti ETF, index fund, fund management. Namun yang diperhatikan, bagian ritel menciut. Oleh karena itu, dengan aksi korporasi stock split diharapkan investor ritel bisa kembali berminat berinvestasi.

Disampaikanya, untuk refinancing, BRPT optimistis bisa mengandalkan hasil kinerja perusahaan untuk menutup lubang utang. Kata Agus, BRPT memiliki utang yang akan jatuh tempo paling dekat pada tahun 2021. “Itupun kami masih optimistis bisa tutup dengan kinerja kami,” tuturnya.

Selain kondisi keuangan internal yang dinilai masih kuat, Agus juga menilai beberapa proyek BRPT tahun ini sudah bisa dibilang aman secara pembiayaan. Sebagai informasi, tahun ini BRPT fokus menggarap beberapa proyek baru. Misalnya untuk proyek PLTU Jawa unit 9 dan 10. Agus mengatakan proyek tersebut sudah fully funded. Asal tahu, BRPT bersama PLN menjadi pihak inisiator pembangunan PLTU tersebut. Sebagai pihak swasta, BRPT menggenggam sekitar 41% dari kepemilikan PLTU itu. Sedangkan sisanya dikempit oleh PLN.

Proyek pembangkit listrik berkapasitas 2x1000 megawatt itu memiliki nilai investasi sebesar US$ 3,1 miliar. Perusahaan memperkirakan penyelesaian pendanaan akan rampung di akhir tahun. Begitu juga dengan proyek anak perusahaan BRPT, PT Chandra Asri Pethrocemichal Tbk (TPIA). Tahun ini TPIA sedang membangun dua pabrik baru untuk polietilena dan polipropilena.

Agus mengatakan, tak ada masalah untuk pendanaan pembangunan tersebut. “Minat partner kami tinggi untuk proyek tersebut. Apalagi untuk TPIA baru saja mendapat pemeringkatan yang baik dari Standard and Poor’s,” kata Agus.

BERITA TERKAIT

Waspadai Dampak Sistemik - BEI Terus Pantau Reksadana Gagal Bayar

NERACA Jakarta –Guna memberikan kepastian hukum dan perlindungan investor terhadap produk investasi reksadana yang gagal bayar, PT Bursa Efek Indonesia…

Saham Perdana IFSH Dibuka Melesat 47,73%

NERACA Jakarta – Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) pada Kamis (5/12) dibuka menguat tajam…

Raup Bisnis Daur Ulang Sampah Plastik - Coca Cola Inisiasi Packaging Recovery Organization

NERACA Jakarta – Sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam mengurangi sampah plastik, produsen minuman kemasan Coca Cola Indonesia sangat aktif dalam…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jakarta Garden City Raih Golden Property Awards 2019

Perumahan skala kota (township) Jakarta Garden City seluas 370 hektar yang dikembangkan PT Mitra Sindo Sukses, anak perusahaan dari PT…

Waspadai Dampak Sistemik - BEI Terus Pantau Reksadana Gagal Bayar

NERACA Jakarta –Guna memberikan kepastian hukum dan perlindungan investor terhadap produk investasi reksadana yang gagal bayar, PT Bursa Efek Indonesia…

Saham Perdana IFSH Dibuka Melesat 47,73%

NERACA Jakarta – Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) pada Kamis (5/12) dibuka menguat tajam…