Principal Luncurkan Reksa Dana Filantropi

NERACA

Jakarta – Menjawab kebutuhan masyarakat akan produk investasi sambil berbagi, PT Principal Asset Management meluncurkan reksa dana pendapatan tetap tematik bernama Principal Philanthropy Social Impact Bond Fund. Reksa dana ini bertujuan untuk menghasilkan financial return yang kompetitif untuk didonasikan kepada yayasan yang memiliki tujuan sosial dan lingkungan yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.

CEO Principal Asset Management Agung Budiono menyampaikan, reksa dana ini merupakan reksa dana pendapatan tetap pertama yang diluncurkan sejak perseroan berganti nama menjadi Princial Asset Management dari sebelumnya PT CIMB—Principal Asset Management.”Peluncuran reksa dana filantropi kami menandai tonggak baru untuk Principal di Indonesia,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya menambahkan, produk reksa dana tematik ini juga merupakan bagian dari misi global perseroan dalam membantu masyarakat untuk dapat hidup lebih baik, serta membantu para nasabah untuk menyalurkan dukungan kepada komunitas tempat tinggal maupun bekerja. Perseroan, lanjutnya, menargetkan dana kelolaan dari reksadana ini di akhir tahun mencapai Rp 50 miliar-Rp 60 miliar. "Saat ini sudah ada beberapa donatur institusi yang mau bergabung, kombinasinya 50% donatur luar negeri dan 50% donatur dalam negeri," kata Agung.

Secara keseluruhan, Agung menargetkan dana kelolaan PAM di akhir tahun bisa tumbuh ke Rp 9,5 triliun dari posisi per Juni sekitar Rp 7,4 triliun. Rencananya, PAM baru akan meluncurkan produk baru kembali di 2020. Disebutkan, reksadana yang baru saja diluncurkan akan mengembangkan dana kelolaan di aset obligasi pemerintah dan atau obligasi korporasi dengan porsi 80% dan 20% di instrumen ekuitas dan atau pasar uang.

Disampaikannya, investasi ini bukan mengejar return tetapi dampak terhadap lingkungan sosial masyarakat. Fadlul Imansyah, Head Fixed Income Principal Asset Management mengatakan untuk sementara, reksadana ini akan fokus berinvestasi 80% di obligasi negara tenor dua hingga tiga tahun dan 20% di pasar uang. "Obligasi tenor pendek dan pasar uang memiliki risiko yang minim tetapi kinerja atau stabilitas hasil investasi bisa terjaga, prudent, dan optimal di atas bencmark," kata Fadlul.

Ke depan Fadlul memproyeksikan, reksadana ini akan berkinerja positif karena didukung yield obligasi sedang dalam tren menurun sehingga harga naik. Secara historical rata-rata yield obligasi negara bertenor dua tahun berada di 5%-7%. Bagi investor yang tertarik menjadi donatur, PAM menyiapkan dua skema dalam menyumbangkan investasi mereka ke yayasan sosial.

BERITA TERKAIT

Bidik Dana di Pasar Rp 2 Triliun - Lagi, Jasa Marga Bakal Terbitkan Obligasi

NERACA Jakarta – Sukses menggalan dana di pasar lewat program dana investasi infrastruktur (Dinfra), memacu PT Jasa Marga (Persero) Tbk…

Patok Rights Issue Rp 900 Persaham - Anabatic Bidik Dana Segar Rp 396,128 Miliar

NERACA Jakarta -  Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnisnya dan juga modal kerja, PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) akan menggelar…

KOTA SUKABUMI - Sambut Revolusi Industri, Alfamart Luncurkan Alfagift 4.0

KOTA SUKABUMI Sambut Revolusi Industri, Alfamart Luncurkan Alfagift 4.0 NERACA Sukabumi - Berbagai pelayanan serta untuk memenuhi kebutuhan para konsumen.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Debat Calon Ketum HIPMI - Para Peserta Unjuk Kepiawan Memimpin

Menjelang munas Himpunan pengusaha muda Indonesia (HIPMI) ke XVI tanggal 16 September 2019 mendatang, 4 Calon Ketua Umum (Caketum) HIPMI,…

Lepas 414 Juta Saham Ke Publik - Telefast Indonesia Bidik Dana IPO Rp 80 Miliar

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan emiten di pasar modal, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) bakal membawa anak usahanya PT…

Lunasi Utang Jatuh Tempo - APLN Berharap Suntikan Pemegang Saham

NERACA Jakarta – Dalam rangka menyehatkan kinerja keuangan dan termasuk memangkas beban utang, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) terus…