Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

NERACA

Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia mencapai 256 tWh. Diprediksi kebutuhan listrik tersebut semakin meningkat seiring dengan populasi yang semakin bertambah, bahkan diprediksi mencapai 400 tWh di 2027. Disisi lain, sumber energi fosil jumlahnya terbatas, maka diperlukan energi terbarukan yang nantinya akan mengganti posisi dari energi fosil.

Salah satu energi terbarukan yang semakin diminati adalah pembangkit listrik tenaga surya. Maka dari itu, PT Sky Energy Indonesia (JSKY) mengeluarkan lini produk terbarunya yang diberi nama J-Leaf, J-Feather dan J-Bifacial. Presiden Direktur PT Sky Energy Indonesia, Jackson Tandiono mengklaim bahwa modul surya ini merupkan modul yang berbobot ringan pertama di dunia yang telah teregistrasi di Japan Patent Office.

“Kami menciptakan inovasi pertama dan satu-satunya di dunia, berupa modul surya berbobot ringan yang kami beri nama J-Leaf dan J-Feather. Produk ini merupakan solusi atas kelemahan modul surya konvensional yang memiliki bobot berat,” kata Jackson dalam peluncuran produknya di Jakarta, Kamis (18/7).

Produk J-Leaf memiliki bobot sebesar 5,6 kg/m2 dan J-Feather memiliki bobot 3,7 kg/m2. Bobot tersebut terbilang paling ringan dibandingkan dengan modul surya konvensional yang memiliki berat 10,2 kg/m2. Meskipun ringan, JSKY mengklaim modul surya tersebut tetap menghasilkan daya maksimum setara dengan 240 Pmax/W dengan tingkat efisiensi modul surya sebesar 18% dibandingkan modul surya konvensional yang hanya sebesar 16%.

Jackson menjelaskan dengan hadirnya produk terbaru ini, pihaknya juga menyiapkan care center yang akan tersebar di beberapa wilayah Jakarta seperti di Selatan, Utara, Barat dan Timur. “Care center ini kita buat untuk memaksimalkan layanan kepada para konsumen karena kedepannya kami akan menjual nya secara ritel sehingga masyarakat bisa mendapatkan layanan maksimal dari kami,” katanya. Nantinya, JSKY juga sedang membuat software untuk memonitor modul surya yang terpasang.

Terkait dengan Target, Direktur Marketing PT Sky Energy Indonesia, Ronald Sibarani mengatakan bahwa pihaknya mengingkan bisa menguasai pasar pada industri modul tenaga surya yang diperkirakan mencapai US$11 miliar. “Kalau kami menginginkan bisa menguasai pasar Indonesia. Karena memang produk ini memang andal dan banyak peminatnya di luar negeri,” jelasnya.

Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan China juga dimaksimalkan oleh JSKY. Amerika menjadi target ekspor produk JSKY. “Apalagi sejak adanya perang dagang, produk JSKY semakin diminati pasar AS untuk menggantikan produk dari China,” tambahnya.

Namun begitu, Jackson menegaskan bahwa ketiga produk ini belum diproduksi oleh JSKY. Pihaknya akan memproduksi pada September tahun ini sambil memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menggunakan solar sell. Diakui Jackson, saat ini omset terbesar dari JSKY dihasilkan dari ekspor ke beberapa negara seperti Eropa, Amerika dan Kanada.

Modul dari JSKY dengan desain tanpa bingkai (frameless) dan tanpa skrup untuk pemasangannya. J-Leaf dan J-Feather memiliki struktur yang sangat tipis sehingga lebih mudah dalam proses instalasinya dengan biaya yang lebih sedikit serta tidak akan merusak struktur atap. Kelebihan ini membuat produk J-Leaf dan J-Feather aman untuk dipasang di atap perumahan. Struktur J-Feather yang lebih fleksibel bahkan membuat modul surya ini dapat diaplikasikan diatap garasi dengan bentuk melengkung, electric solar boat dan JSKY flower.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha Berharap Banyak dengan Omnibus Law

      NERACA   Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia atau Kadin menyebutkan bahwa para pelaku usaha dan…

Atasi Defisit BPJS Kesehatan, Menkes Tawarkan Tiga Alternatif

    NERACA   Jakarta - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menawarkan tiga alternatif untuk mengatasi permasalahan defisit anggaran Badan…

Taiwan Optimis Tingkatkan Penjualan di TIBS 2020

    NERACA   Jakarta - Perhelatan Taiwan International Boat Show (TIBS) akan kembali digelar pada 12-15 Maret 2020 di…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Dunia Usaha Berharap Banyak dengan Omnibus Law

      NERACA   Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia atau Kadin menyebutkan bahwa para pelaku usaha dan…

Atasi Defisit BPJS Kesehatan, Menkes Tawarkan Tiga Alternatif

    NERACA   Jakarta - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menawarkan tiga alternatif untuk mengatasi permasalahan defisit anggaran Badan…

Taiwan Optimis Tingkatkan Penjualan di TIBS 2020

    NERACA   Jakarta - Perhelatan Taiwan International Boat Show (TIBS) akan kembali digelar pada 12-15 Maret 2020 di…