Pembajakan Masih Jadi Masalah Pemilik Kekayaan Intelektual

NERACA

Jakarta – Mentor program Katapel milik Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Mochtar Sarman mengatakan pembajakan menjadi masalah yang kerap kali dihadapi para pemilik kekayaan intelektual atau IP (intellectual property). "Banyak karya anak bangsa sudah di-copy, harus aware legal, itu bisa menjaga mereka," ujar Mochtar dalam temu media "Bekraf Katapel Goes to Licensing Expo China" di Jakarta, disalin dari Antara. "Supaya besar nanti tidak menemukan kendala legal ini tidak hanya melindungi karya mereka sendiri, namun saat rambah ke bisnis lainnya juga," lanjut dia.

Katapel merupakan program dari Bekraf untuk memberi pembekalan kepada para pelaku kreatif dari subsektor Desain Komunikasi Visual, Fotografi, Film dan Animasi, TV dan Radio untuk komersialisasi kekayaan intelektual.

Dalam pengembangan kekayaan intelektual, isu finansial, dalam hal ini pendanaan dan permodalan, menurut Mochtar, juga menjadi kendala yang dihadapi para pemilik kekayaan intelektual. "Dari segi finansial, dari IP kreator itu perlu dana, perlu pembiayaan untuk mengembangkan IP lebih kuat lagi. Ada riset, perlu pendanaan," kata Mochtar.

Saat komik diangkat menjadi animasi, misalnya, para pembeli lisensi biasanya meminta kreator untuk menyelesaikan komik, setidaknya 12 episode. Komikus tentunya perlu dana untuk menyelesaikan jumlah episode yang diminta.

Kendala selanjutnya, datang dari pemilik kekayaan intelektual itu sendiri. Menurut Mochtar pemilik kekayaan intelektual biasanya tidak percaya diri bahwa kekayaan intelektual mereka memiliki potensi yang besar.

Namun, saat pemilik kekayaan intelektual sudah berhasil mematenkan karya mereka, menurut Mochtar, mereka sering kali kurang konsisten. "Kadang-kadang penyakit orang Indonesia itu bisa buat tidak bisa menjaga. Terus dipelihara dikembangkan terus, berkembang terus supaya bisa lebih besar, bahkan tidak hanya di dalam negeri, juga di luar negeri," ujar dia.

Program Katapel telah membawa lima kekayaan intelektual terpilih dari batch 1 untuk berpartisipasi dalam Hong Kong Internasional Licensing Show pada awal 2019. Pada akhir bulan ini, program Katapel akan membawa 10 kekayaan intelektual terpilih dari batch 1 dan batch 2 untuk mengikuti pameran Licensing Expo China 2019 di Shanghai.

Mereka adalah Hey Blo!, Komik Ga Jelas, Tahilalats, Garudayana dan Educa Studio dari batch 1, dan Mintchan, Gugug!, Ghfosty's Comic, Manguni Squad dan Satria Dewa Gatotkaca dari batch 2.

Mengutip data dari Asosiasi IP Internasional, Lima, pendapatan yang dihasilkan dari kekayaan secara global mencapai 271,6 miliar Dolar AS. Sementara Asia Tenggara mencapai 10,4 miliar Dolar AS atau sekitar tiga hingga empat persen dari pendapatan global.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mendorong agar para talenta Indonesia, khususnya di industri musik, dapat memanfaatkan "gelombang Asia" atau banyaknya talenta dari Asia yang mendapat sambutan di dunia.

BERITA TERKAIT

KPK Tekankan Papua Barat Segera Tuntaskan Masalah Aset

KPK Tekankan Papua Barat Segera Tuntaskan Masalah Aset   NERACA Manokwari - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menekankan Pemerintah Provinsi Papua Barat…

Martina Berto Masih Merugi Rp 17,18 Miliar

Bisnis kosmetik dan kecantikan PT Martina Berto Tbk (MBTO) masih terteka di semester pertama tahun ini. Dimana tekanan ini sama…

Masih Kalah Pamor dari Perbankan - Pendalaman di Pasar Modal Perlu di Optimalkan

NERACA Jakarta – Geliatnya pertumbuhan industri pasar modal baik dari segi nilai transaksi, produk investasi hingga pertumbuhan jumlah emiten belum…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Program B20 dan Kendaraan Listrik Bisa Terwujud Bersama

NERACA Jakarta – PT GESITS Technologies Indo, produsen sepeda motor listrik nasional GESITS, menilai penerapan program Biodiesel B20 dan kendaraan…

Pemerintah Serius Atur Strategi Tekan Harga Tiket Pesawat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang mengatur strategi untuk menekan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga masyarakat mampu membeli…

Dikembangkan, Produksi Benih Kerang Abalone

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembangkan produksi benih kerang laut jenis abalone Haliotis squamata, yang bernilai ekonomi tinggi,…