Investor Ritel Minta Kepastian Hukum - Kasus Hukum Menimpa Tiga Pilar

NERACA

Jakarta – Kisruh sengketa manajamen PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) masih menyisakan masalah bagi para investor, khususnya investor ritel. Pasalnya, proses panjang masalah hukum yang menimpa perseroan hingga gugatan pailit berdampak pada meruginya investasi yang dimiliki para investor.

Forum Investor Ritel AISA (Forsa) mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera menyelesaikan kasus yang menjerat perseroan. Tidak hanya itu, investor ritel juga meminta adanya kepastian hukum atas dugaan penggelapan, manipulasi dan pencucian uang yang dilakukan mantan direksiTPSFood. “Saat ini nasib investor ritel AISA terkatung-katung,”kata Ketua Forum Investor Ritel, Deni Alfianto di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, Forsa saat ini mewakili 6% dari seluruh saham publik di perusahaan produsen makanan ringan merek Taro tersebut. Rinciannya, 16.000 investor ritel publik, empat perusahaan dan 5.000 karyawan. Deni menuturkan bahwa ada salah satu anggotanya, pedagang sate di Bali yang berinvestasi Rp 500 juta di saham AISA. Namun karena menguapnya kasus ini, investor ritel itu mengalami kerugian (cut loss) hingga 80%.”Kami meminta OJK melakukan sinergi dengan penyidik Polri, kalau dengan sinergi kasus ini akan lebih cepat terungkap,"tegasnya.

Beredarnya kabar soalpenangguhan penahanan atas direksi lama AISA, Stefanus Joko Mogoginta dan Budhi Istanto Suwito juga turut dipertanyakan Deni. Keduanya ditahan di Badan Reserse Kriminal Polri lewat surat penahanan SP.Han/48/VII/2019/Dit Tipidum dan SP.Han/49/VII/2019/Dit Tipidum. Forsamenginginkan penangguhan penahanan dibatalkan demi adanya keadilan dan kepastian hukum di pasar modal.

Sebetulnya, bukan kali ini saja Forsamengadu. Segala upaya telah dikerahkan, termasuk menyurati Presiden Joko Widodo dan ditembuskan kepada jajaran terkait seperti Kapolri, Menteri Keuangan, agar kasus ini tidak dibiarkan mengendap. Namun, hasilnya masih saja nihil.

Dessy, ibu rumah tangga, anggota dari Forsa, mengaku telah menempuh sejumlah langkah, termasuk menyurati pihak OJK. Namun, respons yang diterimanya selalu sama dan belum menunjukkan ada tanda-tanda kasus ini akan diselesaikan.”Jawaban dari OJK selalu masih dalam proses. Kami sungguh sangat kecewa," ujar Dessy.

Padahal, kata dia, kasus ini harus terungkap agar investor ritel lain mendapat kejelasan. Dessy menuturkan, yang berinvestasi di instrumen saham AISA adalah anaknya yang dimulai sejak 2015 lalu. Awalnya, dia mengira, AISA memiliki kinerja keuangan yang baik dan digadang-gadang memiliki prospek baik ke depan.”Kasus ini sangat penting, untuk generasi muda yang baru belajar saham, saat ini anak-anak saya nabung saham tidak ada perlindungan dari pemerintah. OJK harus menindak tegas dan mendukung kami, investor ritel," jelasnya.

Sebagai informasi, data laporan keuangan terakhir AISA(per Desember 2017) mencatat saham publik di AISA sebanyak 1.054.561.127 saham, atau 32,75% saham Seri B, sementara mayoritas saham Seri B AISA dimiliki oleh PT Tiga Pilar Corpora 20,74%.

BERITA TERKAIT

Lagi, BUMI Bayar Cicilan Utang US$ 31,8 Juta

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan kesehatan keuangan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membayar cicilan…

Targetkan Penjualan Rp 400 Miliar - Itama Ranoraya Perkuat Jaringan di Enam Kota

NERACA Jakarta – Keputusan pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan diharapkan bisa membawa dampak positif terhadap kinerja keuangan PT Itama Ranoraya…

Kurangi Biaya dan Emisi Karbon - DHL Rlis Layanan Asia Connect + di Indonesia

NERACA Jakarta- Raup ceruk pasar logistik di dalam negeri, DHL Global Forwarding sebagai penyedia jasa logistik terkemuka di dunia meluncurkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sukseskan Target SDGs - BEI Perkuat Kemitraan Antar Perusahaan

NERACA Jakarta - Dalam rangka menyukseskan kemitraan strategis antar perusahaan di Indonesia, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terus terbuka…

Kantungi Pinjaman BCA Rp 624 Miliar - Dharma Satya Terus Perluas Pembangunan Pabrik

NERACA Jakarta – Musim kemarau yang berkepanjangan, ditambah kondisi harga komoditas yang masih lesu tidak menyurutkan recana PT Dharma Satya…

Bisnis Pembiayaan CNAF Tumbuh 93,3%

NERACA Jakarta- Kendatipun bisnis otomotif diprediksi masih akan lesu hingga akhir tahun, hal tersebut tidak memberikan dampak bagi bisnis pembiayaan…