Penjualan Arwana Citamulia Tumbuh 13,35%

NERACA

Jakarta –Paruh pertama 2019, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA). berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih dua digit. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2019 yang dirilis di Jakarta, kemarin disebutkan, Arwana membukukan penjualan Rp1,05 triliun. Penjualan tersebut naik 13,35% secara tahunan.

Selain itu, emiten produsen keramik ini mampu menjaga beban pokok penjualan sebesar Rp775,62 miliar, naik 9,92% sehingga menghasilkan laba kotor Rp271,16 miliar atau tumbuh 24,44% dibandingkan dengan laba kotor Januari-Juni 2018. Perseroan mengantongi laba selisih kurs Rp580,96 juta, membaik dibandingkan dengan semester I/2018 yang membukukan rugi selisih kurs Rp2,53 miliar.

Dengan demikian, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp102,09 miliar. Laba bersih itu tumbuh 46,64% dibandingkan dengan semester I/2018. Total aset perseroan per 30 Juni 2019 sebesar Rp1,63 triliun, turun 1,21% dibandingkan dengan total aset per 31 Desember 2018 sebesar Rp1,65 triliun. Total liabilitas sebesar Rp554,88 miliar, sedangkan total ekuitasnya sebesar Rp1,08 triliun.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan memasang target laba bersih sebesar Rp200,71 miliar atau tumbuh 28,15% dibandingkan capaian tahun lalu. Perseroan juga membidik kenaikan marjin menjadi 9,4% dari semula 7,94% pada 2018.Chief Financial Officer Arwana Citramulia, Rudy Sujanto, pernah bilang, perseroan agresif mengejar pertumbuhan laba bersih sebesar 28,15% pada tahun ini, lebih besar dari rata-rata pertumbuhan sebesar 25% sejak 2015.

Adapun volume penjualan ditargetkan mencapai 59,454 juta meter kubik atau bertumbuh 5,5% dari tahun lalu, yang sebesar 56,35 juta meter kubik. Raihan penjualan bersih dapat tumbuh 7,78% menjadi Rp2,12 triliun, dengan kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) dijaga di level 2%-3%.

Selain itu, perseroan menargetkan dapat menekan Cost of Goods Sold (COGS) sebesar 0,68% menjadi Rp26.431 pada tahun ini, dari semula Rp26.611 pada 2018. COGS bisa lebih rendah seiring dengan konsumsi gas yang mendekati 1,65 kubik untuk 1 meter persegi keramik, dari level 1,71 kubik pada 2018.“Pertumbuhan ini akan didominasi oleh produk yang lebih bagus pada 2019. Kami mencanangkan COGS akan turun sekitar Rp26.400 seiring konsumsi gas yang turun mendekati 1,65 kubik, sehingga akan ada efisiensi lebih lanjut,"ujarnya.

BERITA TERKAIT

Sikapi Kasus Industri Reksadana - APRDI Tekankan Pembinaan Kode Etik

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayarnya keuntungan dari hasil produk investasi Narada Asset Manajemen kepada investor dan juga kasus yang…

Dukung Pengembangan Starup - Telkom dan KB Financial Rilis Centauri Fund

NERACA Jakarta – Sebagai salah satu langkah untuk mengembangkan bisnis digitalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melalui anak usahanya…

Topang Pertumbuhan Pendapatan - BEEF Diversifikasi Bisnis Logistik di 2020

NERACA Jakarta –Menunjang bisnis utama di pengolahan daging sapi, PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) merambah bisnis baru di sektor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Divestasi Bank Permata - Astra Luluh Ke Tawaran Bank Bangkok

NERACA Jakarta – Sikap bersikukuh PT Astra International Tbk (ASII) untuk tetap mempertahankan kepemilikan saham di PT Bank Permata Tbk…

Wujudkan Perusahaan Sehat - Garuda Bekukan Rute London Yang Bikin Tekor

NERACA Jakarta – Perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/12) pada sesi…

Perintis Tiniti Bidik Dana IPO Rp 250 Miliar

NERACA Jakarta –Tutup tahun 2019, minat perusahaan untuk mencatatkan saham perdananya di pasar modal masih tinggi. Salah satunya, PT Perintis…