Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA

Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah satunya dengan menggandeng pabrik untuk pengeringan cabai.

"Kami meminta kepada petani cabai untuk mengantisipasi terjadinya panen raya pada sepuluh hari sampai dua pekan mendatang," kata Dirjen Hortikultura Kementan RI Suwandi saat melakukan kunjungan kerja di Sidoarjo, Jatim, disalin dari Antara.

Ia mengemukakan, untuk produksi cabai tidak lama lagi akan panen raya, karena untuk tanaman bulan April-Mei saat ini sudah mulai dipanen meskipun jumlahnya masih belum banyak. "Tetapi untuk puncaknya masih sekitar dua pekan lagi," katanya.

Ia mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan ketika terjadi panen raya tersebut adalah menggandeng perusahaan untuk pengeringan cabai, demi menjaga supaya harga cabai tidak anjlok. "Saat ini para petani sedang menikmati harga cabai yang cukup tinggi, tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena sebentar lagi akan panen raya," katanya.

Ia menjelaskan, pemerintah bersama-sama dengan petani dan perusahaan akan bertemu demi mengantisipasi panen raya ini. "Dengan demikian, para petani tidak sampai merugi dengan anjloknya harga cabai," katanya.

Sebelumnya, salah satu pedagang sayuran di Pasar Besar Madiun, Suyati, mengatakan harga cabai lokal saat ini berkisar antara Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Harga itu merata untuk cabai jenis rawit, keriting, maupun merah besar. "Harga cabai naik bertahap sejak dua minggu terakhir. Sekarang saja sudah hampir Rp60.000 per kilogram. Terutama untuk cabai rawit dan keriting," ujar Suyati.

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Rusli Abdullah mengatakan salah satu alasan kenaikan harga cabai di berbagai daerah adalah kurangnya pasokan dan suplai yang terbatas akibat musim kering. "Itu karena suplainya terbatas, karena produksi yang belum optimal," kata Rusli.

Rusli mengatakan produksi cabai yang terhambat oleh musim kering menyebabkan pasokan terganggu. Apalagi saat ini belum ada penciptaan varietas unggulan yang tahan terhadap perubahan iklim serta inovasi pada cara tanam.

Dalam kondisi ini, ia mengharapkan adanya upaya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap cabai segar dan mulai menggunakan cabai bubuk atau sambal olahan agar produksi yang melimpah pada musim panen dapat terserap menjadi produk tahan lama. "Jadi pemerintah harus mendorong masyarakat agar mereka lebih bisa adaptif terhadap cabai olahan," kata Rusli.

Dalam kesempatan terpisah, pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Kudhori mengatakan kondisi gagal panen atau rusaknya tanaman saat kemarau tidak hanya dialami cabai, namun juga tanaman hortikultura lainnya.

"Ini seperti tanaman hortikultura yang lain, kalau ada gangguan di level budidaya dalam bentuk perubahan iklim pasti dampaknya di panen. Ketika terjadi anomali atau penyimpangan iklim cuaca itu juga bukan hanya soal air, karena berbarengan dengan hama dan penyakit," ujarnya.

Namun, menurut dia, para petani seharusnya bisa mengantisipasi datangnya musim kemarau, karena BMKG secara rutin telah mengumumkan perkiraan iklim per tiga bulan sekali agar tidak terjadi kendala di daerah yang selama ini menjadi basis produksi cabai.

Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menambahkan penyebab lain minimnya produksi cabai adalah ketakutan para petani untuk menanam di musim kemarau yang berkepanjangan, karena potensi gagal panen.

Menurut dia, pihak-pihak terkait harus bisa belajar dari kesalahan masa lalu karena siklus ini terjadi tiap tahun. Apalagi pola kemarau seperti saat ini dapat membuat produksi sejumlah komoditas pangan utama menjadi berkurang.

"Kementerian Pertanian harus meyakinkan petani untuk dapat menanam di luar musim kemarau. Jadi manfaatkan semaksimal mungkin menanam di luar musim kemarau, sebelum datangnya musim kemarau," katanya.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Suwandi menyatakan stok cabai merah masih memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan pasokan khusus bagi Jakarta per harinya mencapai 80 ton, yang diperoleh dari beberapa daerah di Jawa.

Namun, ia mengakui produksi di tingkat petani belum optimal, karena beberapa sentra petani di Jawa baru memasuki panen ke tiga, padahal tanaman cabai dapat dipanen antara 16-28 kali dengan masa tanam hingga lima bulan.

BERITA TERKAIT

Kemendagri Dorong Penegakkan Hukum Bagi Kepala Daerah dan ASN Pelaku Korupsi

  NERACA   Jakarta - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) hingga kini terus mendorong Penegakkan Hukum Bagi Kepala Daerah dan ASN…

KPU Kota Sukabumi Tetapkan Caleg Terpilih dan Perolehan Kursi Parpol

KPU Kota Sukabumi Tetapkan Caleg Terpilih dan Perolehan Kursi Parpol NERACA Sukabumi - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Sukabumi menetapkan…

PENDAPAT SEJUMLAH PRAKTISI DAN PENGAMAT PERPAJAKAN: - Kebijakan Tax Amnesty Jilid II Belum Perlu

Jakarta-Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah dan kalangan pengamat perpajakan meminta agar pemerintah memikirkan ulang…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Paviliun di World Expo Diminta Tampil Futuristik

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan Paviliun Indonesia dalam World Expo Dubai…

Difasilitasi, IKM Furnitur Sukoharjo Tembus Pasar AS

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin aktif memacu pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas…

Bantu UMKM Go Online - Ralali Gerakkan Ratusan Ribu Agen

NERACA Jakarta - Hari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Nasional yang jatuh setiap 12 Agustus, selalu dirayakan pemerintah baik pusat…