Beban Ekonomi Akibat DBD Capai US$ 381 Juta

NERACA

Jakarta - Indonesia telah melawan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah mencapai 50 tahun, akan tetapi setiap tahunnya selalu saja ada korban yang berjatuhan karena DBD. Berbagai langkah juga telah dilakukan baik dari pemerintah, akademisi, peneliti hingga melibatkan komunitas. Suatu studi menjelaskan kasus DBD memberikan beban ekonomi mencapai US$381,15 Juta pada 2015.

Indonesia juga berada dalam keadaan siaga menghadapai DBD tahun ini. Karena hingga awal Maret, terdapat 34.422 kasus DBD di 459 Kabupaten dan kota seluruh Indonesia. Di Jakarta, terdapat 2.282 orang yang didiagnosa menderita pada Januari. Untuk skala global, diperkirakan ada 3,9 miliar orang dari 128 negara berisiko terinfeksi virus DBD yang mana 390 juta kasus terinfeksi DBD. Bahkan sebuah studi mengungkapkan perkiraan biaya total beban ekonomi global karena DBD mencapai US$8,89 miliar pada 2016.

Menurut Pakar di bidang penyakit infeksi dan penyakit tropis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, DBD itu susah dikendalikan karena penyakitnya disebarkan oleh nyamuk. "Mengendalikan nyamuk itu cukup sulit, maka salah satu caranya adalah dengan mengubah gaya hidup manusianya agar nyamuk aedes aegypti tidak berkembang biak. Karena nyamuk itu suka sekali dengan bau manusia," ungkap Sri Rezeki saat ditemui usai konferensi pers Asia Dengue Summit si Jakarta, Senin (15/7).

Sekretaris Jenderal Pencegahan dan Pengendalian (P2P) Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono mengaku fasilitas kesehatan sudah merata. Meskipun secara proporsi belum akan tetapi tenaga kesehatam bertambah terlebih pengetahuan masyarakat soal DBD juga relatif baik. "Hingga pertangahan tahun ini, sudah ada 65 ribu kasus DBD di seluruh Indonesia," jelasnya.

Pemerintah, kata dia, juga terus melakukan upaya pemahaman dan pencegahan DBD kepada masyarakat. "Saat ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan soal DBD sehingga orang lebih menaruh perhatian atas kasus ini. Apalagi hari ini awal masuk sekolah, karena biasanya kejadian awal berawal dari sekolah. Makanya ini perlu menjadi perhatian pengelola sekolah untuk mulai dibersihkan," tukasnya.

Sekedari informasi, Asia menuju epidemik DBD lagi pada tahun ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejumlah negara termasuk Australia, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura dan Vietnam tengah menghadapi lonjakan tajam kasus DBD dalam enam bulan terakhir.

Seiring DBD yang terus menjangkiti Asia, para ahli penyakit menular terkemuka di seluruh dunia serta pejabat pemerintah, pembuat kebijakan dan otoritas kesehatan publik telah berkumpul pada 4th Asia Dengue Summit di Jakarta untuk membahas manajemen penyakit DBD dan mengidentifikasi strategi guna mendukung dan meningkatkan upaya negara-negara Asia melawan DBD. Tahun ini juga menandai 50 tahun Indonesia melawan DBD.

Ketua Panitia, 4thAsia Dengue Summit, Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan selama beberapa tahun terakhir, negara-negara di Asia telah memperkuat metode pencegahan dan pengendalian DBD yang sudah ada akibat perubahan situasi yang terjadi. “Summit ini berfungsi sebagai sarana para ahli untuk berbagi dan belajar sambil membahas langkah konkrit, berbagi keberhasilan dan kegagalan, dan mengidentifikasi strategi untuk mengatasi beban DBD secara bersama-sama. Hasil dari summit ini akan membantu mengembangkan kerangka strategi yang efisien dan hemat biaya untuk langkah-langkah pencegahan dan pengendalian DBD di wilayah tersebut,” katanya menambahkan.

"Di Indonesia, kami meluncurkan Komunitas Dengue Indonesia, sebuah organisasi non-pemerintah yang terdiri dari dokter, peneliti, pemimpin kesehatan masyarakat pemerintah dan pembuat kebijakan telah dibentuk untuk bertukar gagasan, pembaruan, dan pencapaian dalam strategi manajemen DBD di wilayah ini dengan pemerintah," tambah Prof Sri.

BERITA TERKAIT

UPAYA MEMULIHKAN EKONOMI - Penurunan Suku Bunga Acuan Jadi Pilihan Tepat

NERACA Jakarta – Merespon kebijakan suku bunga The Fed yang sudah melandai, beberapa bank sentral dunia sudah mengambil langkah pelonggaran…

Pangkas Beban Utang - Waskita Karya Divestasi Bisnis Lima Ruas Tol

NERACA Jakarta – Besarnya beban utang yang ditanggung PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dalam ekspansi bisnis di jalan tol, menjadi…

KPK Identifikasi Suap Kasus Garuda Indonesia Capai Rp100 Miliar

KPK Identifikasi Suap Kasus Garuda Indonesia Capai Rp100 Miliar NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengidentifikasi total suap pengadaan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Sasa Raih Penghargaan Top Brand Award 2019

    NERACA   Jakarta – Perusahaan yang bergerak di bidang bumbu makanan, PT Sasa Inti mengalami pertumbuhan dan perkembangan…

Indonesia Butuh Haluan Ideologi Pancasila

    NERACA   Jakarta - Aktivis penggagas gerakan PancasilaPower, Rieke Diah Pitaloka mendeklarasikan gerakan kebangsaan PancasilaPower di IKIP Budi…

Said Abdullah: Pendekatan Ekonomi dan Keamanan Jadi Lokomotif Penyelesaian Masalah Papua

  NERACA   Jakarta - Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah menegaskan sinergitas antara aspek ekonomi dan…