Solusi Ketahanan Pangan Ala Rumah Zakat

NERACA

Jakarta – Ketahanan pangan masih menjadi tugas pemerintah untuk menjaga agar ketersediaan pangan bagi masyarakat tercukupi. Rumah Zakat punya cara agar ketahanan pangan tetap terjaga yaitu dengan program optimalisasi qurban dengan mengolah dan mengemas daging qurban menjadi cadangan pangan dari protein hewani dalam bentuk kornet ataupun rendang. Proses tersebut dilakukan sesuai syariah yang dicontohkan pada zaman Nabi. Hewan qurban dipilih yang sudah sesuai umur, sehat, dan tidak ada cacat berdasarkan pengawasan dewan syariah dan dokter hewan. Pemotongannya dilakukan di hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyrik.

"Superqurban ini sesuai hadist yang disampaikan oleh Aisyah, bahwa dahulu mereka biasa mengasinkan (mengawetkan) daging udhiyyah (qurban) sehingga mereka bawa ke Madinah. Kemudian Nabi SAW bersabda: “Janganlah kalian menghabiskan daging udhiyyah (qurban) hanya dalam waktu tiga hari,” (HR. Bukhari-Muslim)." ungkap CEO Rumah Zakat, Nur Efendi dalam pemaparannya di Jakarta, Rabu (10/7).

Diproses dengan menggunakan tehnologi tinggi, Superqurban bisa tahan hingga tiga tahun. Hal ini yang membuat Superqurban bisa dinikmati sepanjang tahun oleh masyarakat pelosok Indonesia bahkan Dunia. Sebagai negara yang terletak di wilayah yang rawan bencana, Indonesia harus terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana serta potensi kerawanan pangan yang bersifat transien sebagai dampak bencana. Melalui program Superqurban Rumah Zakat memberikan solusi dalam ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat yang terkena bencana tersebut.

Selama 2018 Rumah Zakat telah menyalurkan 502.521 paket Superqurban untuk 251.257 penerima manfaat. Sedangkan dari Januari hingga Juni 2019 Rumah Zakat telah menyalurkan 161.986 paket Superqurban untuk 80.993 penerima manfaat. Dengan jumlah terbanyak disalurkan di desa dan pelosok, kemudian terbanyak kedua untuk wilayah bencana. Sementara itu di Idul Adha tahun 2019 ini Rumah Zakat menargetkan 15.000 pequrban dengan satu juta paket Superqurban untuk di distribusikan.

Menurut Nur dengan gizi seimbang, masyarakat desa akan memiliki energi lebih produktif, maju, dan berdaya. Demikian juga dengan masyarakat terdampak bencana. “Dalam kondisi serba terbatas karena bencana asupan pangan sumber protein sangat dibutuhkan. Terutama sebagai sumber energi bagi mereka. Disinilah Superqurban berperan untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” kata Nur.

Disamping itu, solusi pemenuhan pangan tidak hanya diperuntukan bagi masyarakat yang ada di Indonesia, tapi juga bagi para pengungsi di Empat Negara yang mengalami bencana perang maupun kelaparan seperti Palestina, Suriah, Myanmar, dan Bangladesh. Selama tahun 2018 – 2019 Superqurban tersalurkan bagi ribuan pengungsi tersebut. “Karena praktis saat disalurkan dan tahan lama, Superqurban menjadi paket andalan dalam penyaluran bantuan pangan bagi masyarakat di luar Indonesia. Dengan demikian kami berharap Superqurban benar-benar bisa menjadi solusi ketahanan pangan bagi Indonesia dan Dunia,” ungkap Nur.

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hasanudin mengatakan program Superqurban yang dilakukan oleh Rumah Zakat dengan cara mengkalengkan daging qurban merupakan sebuah inovasi. “Dari sisi hukum islam, program ini dikatakan boleh dan mubah. Bahkan sesuai dengan syariah hukum islam yaitu memberikan kemashlahatan umat,” kata Hasanudin di kesempatan yang sama.

Menurut dia, inovasi itu penting karena hukum islam itu berkembang. Terlebih, kata dia, dari sisi aspek syariah, tujuan hukum islam itu untuk kemashlahatan yaitu mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudharat. “Makanya saya usul nanti Rumah Zakat bisa menyampaikan surat ke MUI untuk dibuatkan fatwa bahwa kegiatan ini baik,” tukasnya.

Inovasi Superqurban yang digulirkan sejak tahun 2000 mendapat apresiasi dari berbagai pihak salah satunya Museum Rekor Indonesia (MURI). Menjadi pioneer dalam melakukan inovasi mengolah daging qurban menjadi kornet dan rendang, Rumah Zakat mendapatkan penghargaan sebagai Pengolah dan Pengemas Daging Qurban Pertama di indonesia dari MURI. "Alhamdulillah, semoga penghargaan ini menjadi pemicu kami menjadi lebih baik. Tidak hanya menjadi yang pertama tapi jadi yang terbaik," tutur Nur.

BERITA TERKAIT

Ayam Geprek Menara Tawarkan Sistem Waralaba

  NERACA Jakarta - Menu makanan ayam dari dulu sampai sekarang sangat banyak digemari di semua kalangan masyarakat. Mulai dari…

Mobvista Ungkap Peluang Besar dalam Konten Video

  NERACA Jakarta - Platform teknologi penyedia jasa mobile advertising dan analytic, Mobvista mengungkap bagaimana brand dan marketer di Indonesia dapat…

Pindahkan Ibukota, Bappenas Minta Saran Tokoh Dayak

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meminta saran dari para…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Masyarakat Dihimbau Lakukan Persiapan Hadapi Musim Peralihan

      NERACA   Jakarta - Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus…

Lakukan Kajian di Ibukota Baru, Pemerintah Gandeng McKinsey

    NERACA   Jakarta - Pemerintah telah menetapkan McKinsey Indonesia sebagai konsultan terpilih dalam membantu Kementerian PPN/Bappenas untuk melakukan…

Permintaan Ekspor Meningkat, JSKY Genjot Produksi

    NERACA   Jakarta - PT Sky Energy Indonesia, Tbk (JSKY) terus tingkatkan produksi modul surya miliknya untuk penuhi…