BEI Masih Tagih Klarifikasi Manajeman KIJA - Berikan Kepastian Bagi Investor

NERACA

Jakarta – Guna memberikan kepastian informasi kepada investor terkait potensi gagal bayar, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali meminta klarifikasi dengan manajemen PT Kawasan Industri Jabebka Tbk (KIJA) dengan memanggil manejemen.”Sejak kemarin BEI belum mendapatkan informasi sehingga protokol yang dilakukan adalah menghentikan sementara saham KIJA,”kata Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna di Jakarta, kemarin.

Nyoman bilang, suspensidilakukan untuk memberikan kesempatan bagi KIJA menyampaikan responnya. Untuk itu, hari ini BEI melakukan hearing dengan memanggil direksi KIJA untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.Nyoman menyarankan untuk tidak melakukan judgment terlebih dahulu dan tunggu saja hasil pertemuan. Asal tahu saja pengumuman tentang potensi gagal bayar surat utang senilai US$ 300 juta berbuntut panjang. Belakangan tersingkap hubungan di antara para pemegang saham tidak harmonis.

Pada pertemuan KIJA, Senin (8/7) kemarin, Direktur Utama KIJA Budianto Liman menyatakan, sejumlah direksi merasa menjadi korban dari keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang di luar dugaan. Pada RUPST tersebut, PT Imakota Investindo yang memegang 6,39% saham dan Islamic Development Bank sebagai pemegang saham 10,84% saham KIJA menyetujui pengangkatan Sugiarto sebagai direktur utama KIJA dan Aries Liman sebagai komisaris.

Keputusanini ditengarai sebagai acting in concert atau kerja sama pihak tertentu yang menyebabkan terjadi pengubahan pengendalian sehingga menyebabkan Jababeka International BV berkewajiban menggelar buyback kepada para pemegang notes dengan harga pembelian sebesar 101% dari nilai pokok notes sebesar US$ 300 juta ditambah kewajiban beban bunga.

Sedangkan jumlah kas internal KIJA sendiri tidak mencukupi untuk membayar notes tersebut. Sebelumnya, Corporate Secretary Kawasan Industri Jababeka T. Budianto Liman pernah bilang, perseroan memiliki risiko besar tidak mampu untuk melaksanakan kewajiban terhadap para pemegang notes dalam waktu dekat.

Notes yang dimaksud ialah surat utang global yang diterbitkan oleh anak perusahaan KIJA, Jababeka International B.V dengan nilai pokok US$300 juta. Berdasarkan syarat dan kondisi notes tersebut, perseroan atau Jababeka International B.V. berkewajiban untuk memberikan penawaran pembelian kepada para pemegang notes dengan harga pembelian sebesar 101% dari nilai pokok US$300 juta ditambah kewajiban bunga.

Dalam hal tersebut, apabila perseroan tidak mampu melaksanakan penawaran pembelian tersebut, maka perseroan atau Jababeka International B.V. akan berada dalam keadaan lalai atau default. Keadaan lalai atau default tersebut mengakibatkan perseroan atau anak-anak perusahaan perseroan lainnya menjadi dalam keadaan lalai atau default pula terhadap masing-masing kreditur mereka lainnya.

BERITA TERKAIT

Tantangan Dihadapi Masih Besar

  Oleh: Tauhid Ahmad Direktur Eksekutif INDEF Indef telah melakukan penelitan-penelitian termasuk dampak perang dagang. Perhitungan indef terhadap dampak perang…

Kemenkop Gelar Bimtek Mitigasi Risiko Bencana Bagi KUMKM

Kemenkop Gelar Bimtek Mitigasi Risiko Bencana Bagi KUMKM NERACA Palangkaraya - Kementerian Koperasi dan UKM memandang pentingnya KUMKM mengetahui secara…

Menteri Pertahanan (Menhan) - Jangan Ada Lagi Perpeloncoan Bagi Mahasiswa Baru

Ryamizard Ryacudu Menteri Pertahanan (Menhan) Jangan Ada Lagi Perpeloncoan Bagi Mahasiswa Baru Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengharapkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Libur Sekolah dan Lebaran - Laba Bersih ROTI Melesat Tajam 153,82%

NERACA Jakarta – Emiten produsen Sari Roti, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) membukukan kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan…

Benahi Fundamental Bisnis - KS Rencanakan Tiga Anak Usahanya Go Public

NERACA Jakarta – Minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal atau go public cukup besar, namun sayangnya dari sekian…

Permintaan Obligasi Indosat Capai 1,7 Kali

NERACA Jakarta  -Aksi korporasi PT Indosat Tbk (ISAT) menerbitkan surat utang senilai total Rp 3,38 triliun yang terdiri dari obligasi…