KOTA Optimis Bisnis Properti Masih Tumbuh - Bangun Rumah Tapak di Tangsel

NERACA

Jakarta – Bisnis properti yang lesu tidak menyurutkan rencana ekspansi bisnis PT DMS PropertindoTbk (KOTA). Resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan melepas 933 juta saham senilai Rp 200 per saham, perseroan langsung kebut ekspansi bisnis dengan menambah landbank dan termasuk membeli lahan di Jawa Barat untuk mengembangkan bisnis properti dengan membidik kelas menengah.

Direktur Utama PT DMS Propertindo Tbk, Mohamad Prapanca mengatakan, peluang bisnis di sektor properti masih cukup terbuka meski tahun ini adalah puncak perkembangan sektor properti,”Sesuai rencana, DMS akan menggunakan dana hasil IPO Rp 100 miliar untuk membeli lahan di Jawa Barat dan sisanya, dana akan digunakan untuk modal kerja entitas anaknya PT Padjajaran Raya dalam bentuk penyertaan modal,”ujarnya di Jakarta, Selasa (9/7).

Emiten properti ini mengantungi dana segar hasil initial public offering (IPO) senilai Rp 186,6 miliar. Saat ini DMS Propertindo memiliki persediaan tanah yang sedang dan akan dikembangkan. Bersamaan dengan aksi korporasi tersebut, KOTA akan membangun rumah tapak di atas tanah seluas 1,8 ha di Serpong, Tangerang Selatan.

Proyek tersebut akan digarap melalui anak perusahaannya yaitu DMS Graha. Serta tanah seluas 1,4 ha di Serpong yang akan digarap menjadi apartemen oleh anak perusahaannya yaitu DMS Laguna.KOTA juga akan mengembangkan tanah miliknya seluas 49,2 ha di Samarinda menjadi rumah tapak dan area komersial yang akan digarap oleh anak perusahaannya yaitu DMSPS.

Dalam upaya ekspansi tersebut, salah satu risiko utama yang akan dihadapi dan pengaruhnya signifikan terhadap perusahaan adalah risiko melemahnya permintaan properti. Pasalnya, para calon konsumen yang membeli rumah untuk ditempati sendiri dapat sewaktu-waktu menunda keputusan pembelian, sementara itu calon pembeli rumah untuk tujuan investasi akan mengalihkan ke sektor lain apabila prospeknya lebih menguntungkan.

Di sisi lain, Indonesia juga masih dibayangi situasi global yang fluktuatif. Salah satunya adalah aksi The Fed yang pada tahun lalu menaikkan suku bunga sehingga banyak aliran modal keluar dan menyebabkan rupiah melemah. Dampaknya harga barang impor jadi tinggi dan melemahkan perekonomian domestik. Investasi juga masih dalam kondisi melambat terutama karena penawaran return yang lebih baik dari luar negeri.

Hal ini berakibat pada melambatnya penyerapan tenaga kerja dan menurunkan daya beli masyarakat di masyarakatekonomi menengah dan bawah. Kondisi pelemahan tersebut dapat berpengaruh negatif pada sektor konstruksi.Meski demikian, KOTA melihat pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,12% per tahun menjadikan peluang yang potensial bagi pengusaha di sektor properti."Hal ini disebabkan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka akan semakin besar pula kebutuhan akan hunian," jelas dia.

Di sisi lain, meskipun masih lambat, foreign direct investment (FDI) kembali menunjukkan tren peningkatan sehingga mendorong pertumbuhan industri dan gedung perkantoran.Ada juga program sejuta rumah murah yang dicanangkan pemerintah sehingga memberikan kesempatan para pengembang untuk memperoleh lahan baru dan kemudahan dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya.

Selain itu, KOTA melihat siklus pasar properti mulai bergerak naik mulai tahun 2016 dan akan berada pada kondisi puncak alias property bloom pada tahun 2019. Sehingga potensi permintaan pasar properti pada beberapa tahun ke depan diprediksi mengalami peningkatan.

BERITA TERKAIT

Sikapi Kasus Industri Reksadana - APRDI Tekankan Pembinaan Kode Etik

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayarnya keuntungan dari hasil produk investasi Narada Asset Manajemen kepada investor dan juga kasus yang…

Dukung Pengembangan Starup - Telkom dan KB Financial Rilis Centauri Fund

NERACA Jakarta – Sebagai salah satu langkah untuk mengembangkan bisnis digitalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melalui anak usahanya…

Topang Pertumbuhan Pendapatan - BEEF Diversifikasi Bisnis Logistik di 2020

NERACA Jakarta –Menunjang bisnis utama di pengolahan daging sapi, PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) merambah bisnis baru di sektor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Divestasi Bank Permata - Astra Luluh Ke Tawaran Bank Bangkok

NERACA Jakarta – Sikap bersikukuh PT Astra International Tbk (ASII) untuk tetap mempertahankan kepemilikan saham di PT Bank Permata Tbk…

Wujudkan Perusahaan Sehat - Garuda Bekukan Rute London Yang Bikin Tekor

NERACA Jakarta – Perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/12) pada sesi…

Perintis Tiniti Bidik Dana IPO Rp 250 Miliar

NERACA Jakarta –Tutup tahun 2019, minat perusahaan untuk mencatatkan saham perdananya di pasar modal masih tinggi. Salah satunya, PT Perintis…