Harus Lebih Fokus Membangun Koperasi

Harus Lebih Fokus Membangun Koperasi

NERACA

Jakarta – Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Teguh Boediyana mengungkapkan, secara nyata kita dapat lihat gerak yang sangat dinamis dari koperasi dan UMKM di berbagai negara lain seperti Jepang, China, Korea , India, Singapura, negara di Skandinavia, ikut menentukan roda perekonomian negara mereka masing masing. Bahkan, mereka telah tumbuh menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan proses industrialisasi yang ada di negara tersebut karena koperasi dan UMKM yang menjadi pendukung utama sehingga industri apapun merupakan harmoni antara UMKM dengan usaha besar.“Dari adanya koeksistensi inilah akhirnya dapat dilahirkan suatu tingkat efisiensi yang optimal dan kemampuan daya saing di pasar global”, kata Teguh dalam keterangannya di Jakarta, kemarin.

Teguh yang juga Staf khusus Menteri Koperasi dan UKM mengakui, pemerintah sekarang ini sudah mencoba melakukan berbagai upaya yang dituang dalam beberapa Paket Kebijakan Ekonomi untuk mendongkrak peran koperasi dan UMKM. Namun, “Di sisi lain, kita juga menyadari bahwa memang tidak mudah untuk menghadapi suatu kondisi perekonomian yang sudah sangat didominasi warna liberalisasi dan globalisasi sejak era Orde Baru”, ucap Teguh.

Oleh karena itu, lanjut Teguh, dalam rangka membangun koperasi dan UMKM, perlu suatu konsep pemikiran yang mampu melibatkan seluruh komponen yang ada di negara kita ini yang diyakini dapat mendorong laju pertumbuhan dan perkembangan UMKM.“Hal inilah yang harus menjadi perhatian dari Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf Amin untuk masa pemerintahan 2019-2024 yang akan datang. Termasuk dalam hal ini memperkirakana berbagai lingkungan strategis yang akan terjadi dan kondisi yang ada”, jelas Teguh.

Teguh menambahkan, dalam lima tahun ke depan ini dipastikan akan terjadi banyak sekali perubahan yang sangat cepat lingkungan strategis di berbagai aspek kehidupan. Seperti Jepang sudah menggagas tentang Society 5.0. China sudah menetapkan visi Made in China in 2025. Juga negera maju lain sudah menyiapkan diri menyesuaikan berbagai perkembangan yang dipengaruhi oleh adanya Internet of Think (IoT), Artificial Intelegencia (AI), dan Robbotic.

“Perubahan lingkungan strategis tersebut juga dipastikan akan berpengaruh juga terhadap perekonomian Indonesia dan tentu saja terhadap koperasi dan UMKM sebagai bagian integral perekonomian nasional. Masih ada berbagai perubahan lingkungan strategis yang lain yang pasti berpengaruh terhadap masa depan koperasi dan UMKM”, tukas Teguh.

Meski begitu, Teguh masih merasakan sampai saat ini komitmen membangun koperasi di kalangan pemerintah belum satu persepsi. Banyak pihak yang masih ragu dengan peran dan fungsi koperasi. Kementerian ataupun lembaga pemerintah yang menangani sektor riil lebih asyik untuk mengembangkan kelompok kelompok seperti Kelompok Tani, KUBE, Bumdes, dan sebagainya.

Selain itu, bagi Teguh, keberadaan Kementerian Koperasi dan UKM tampaknya masih sangat esensial. Bahkan, perlu ditingkatkan posisinya agar dapat memiliki power dan dukungan APBN yang lebih memadai.“Perlu ditata ulang agar pengembangan dan pembinaan, khususnya UMKM, tidak terpecah-pecah seperti saat ini dimana terdapat sekitar 26 lembaga/kementerian yang menggarap UKMK berdasar persepsinya sendiri-sendiri”, tandas Teguh.

Mencermati apa yang menjadi misi pasangan Presiden terpilih Joko Widodo dan Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin, kita pantas memberikan apresiasi karena khususnya untuk misi ke-3 yakni pembangunan yang merata dan berkeadilan, dinyatakan secara tegas dinyatakan bahwa koperasi dan UMKM merupakan satu pilar penting perekonomian nasional. Untuk itu, akan dilakukan apa yang sebelumnya sudah dilaksanakan antara lain meningkatkan akses pembiayaan, meneruskan reformasi koperasi, insentif pajak, dan beberapa kebijakan yang lain. Tidak kurang dari 12 langkah kebijakan yang direncanakan untuk memacu pengembangan dan pertumbuhan koperasi dan UMKM.

“Meski dalam lima tahun terakhir Produk Domestik Bruto (PDB) Koperasi meningkat dari 1,4% menjadi sekitar 5%, tidak berarti kita harus puas diri. Ke depan, koperasi dituntut untuk lebih berperan dalam perekonomian nasional. Sedikit-dikitnya berperan dominan dalam perekonomian domestik”, pungkas Teguh. Mohar/Rin

BERITA TERKAIT

Dewas Akui KPK Harus Sering “Digonggongi”

Dewas Akui KPK Harus Sering “Digonggongi”   NERACA Jakarta - Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) Syamsuddin Haris mengakui…

BPOM Dukung Stem Cell Dikomersilkan

BPOM Dukung Stem Cell Dikomersilkan NERACA Surabaya - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mendukung agar teknologi…

Pemberantasan Korupsi di 100 Hari Jokowi-Ma'ruf Buruk

Pemberantasan Korupsi di 100 Hari Jokowi-Ma'ruf Buruk   NERACA  Jakarta - Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Haris Azhar mengatakan bahwa pihaknya tidak…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

Arbi Sanit: Mangkirnya Zulhas Bisa Hancurkan PAN

Arbi Sanit: Mangkirnya Zulhas Bisa Hancurkan PAN NERACA  Jakarta - Ketidakhadiran Wakil Ketua MPR Zulkifli Hasan memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan…

Presiden Jokowi Akui Indonesia Mengalami Obesitas Regulasi

Presiden Jokowi Akui Indonesia Mengalami Obesitas Regulasi   NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo mengakui bahwa Indonesia mengalami obesitas regulasi yang…

Pakar Hukum: Pengangkatan Penasihat Ahli Kapolri Perkuat Polisi

Pakar Hukum: Pengangkatan Penasihat Ahli Kapolri Perkuat Polisi   NERACA Purwokerto - Pengangkatan 17 Penasihat Ahli Kapolri, dua orang di antaranya…