Saham BLUE Dibuka Menguat 69,23% - Perdana di Pasar Modal

NERACA

Jakarta –Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) dibuka langsung melejit 69,23% menjadi Rp 220 per saham. Emiten produsen penunjang jasa percetakan seperti tinta isi ulang atau lebih dikenal Blueprint ini melepas sebanyak-banyaknya 168 juta saham baru dengan harga penawaran Rp 130 per saham. Lewat IPO ini, BLUE memperoleh dana segar sebanyak Rp 21,84 miliar .

Pada masa penawaran umum saham BLUE terjadi oversubscribed sebanyak 2,8 kali dari total penawaran. Emiten tinta isi ulang ini menunjuk PT Indo Capital Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek beserta PT Semesta Indovest Sekuritas dan PT Bosowa Sekuritas sebagai penjamin emisi.

Direktur BLUE Herman Tansri menjelaskan, pencatatan perdana saham menjadi pertama dan satu-satunya perusahaan tinta compatible yang tercatat di bursa."Kepercayaan masyarakat kepada kami akan menambah semangat Blueprint untuk terus berinovasi dalam bisnis printing consumableyang sangat menjanjikan," jelasnya saat di BEI, Senin (8/7).

Dirinya pun menjelaskan, tujuandariIPOadalahuntukmemperkuatstrukturpermodalandanmemperolehmodalkerjauntukpengembangan lini bisnis baru serta menerapkan prinsip good corporate governance dalam menjalankanperusahaan.Untuksenantiasamemberivalue‐adddanreturnkeinvestor,manajemenperseroanberkomitmenuntukmembagikanminimal20%darilabahasiloperasionalperusahaantiap tahunnyadalambentukdividen.

Dengan terjualnya seluruh saham baru BLUE, persentase kepemilikan saham publiknya sebesar 40,19% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Seluruh dana yang diperoleh saat IPO setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan untuk beberapa kebutuhan. Pertama, sebesar Rp 10,67 miliar untuk pelunasan pokok obligasi wajib konversi yang dimiliki oleh Koperasi Bintang Timur Kapital.

Kedua, sebesar Rp 7,42 miliar untuk pelunasan pokok obligasi wajib konversi yang dimiliki oleh PT MNM Indonesia. Ketiga, sekurang-kurangnya Rp 633,5 juta atau 7% per tahun yang dihitung dari nilai obligasi wajib konversi, akan digunakan untuk pembayaran denda pelunasan atas obligasi wajib konversi yang dimiliki oleh Koperasi Bintang Timur Kapital dan PT MNM Indonesia.

Terakhir, sisa dana sebesar Rp 3,11 miliar akan digunakan untuk modal kerja kegiatan bisnis dalam pembelian persediaan barang dagangan seperti tinta, kertas thermal dan printer thermal portable. Herman menjelaskan dalam perjalanannya, Blueprint dikenal sebagai mereka kompatibel dengan kualitas paling premium di setiap kategori produk yang dijual dan telah menyabet beberapa penghargaan salah satunya rekor MURI produk tinta produsen printer.

BERITA TERKAIT

Pasar Industri Mainan Indonesia Yang Menggoda

    NERACA   Jakarta - Pasar mainan Indonesia yang terbilang besar, maka Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi industri…

MKDA Private Placement 215 Juta Saham

NERACA Jakarta – Emiten pertambangan emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) bakal perkuat modal dengan aksi korporasi penambahan modal…

Saham Trikomsel Masuk Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham di luar kebiasaan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati pergerakan saham PT Trikomsel…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Catatkan Penjualan Lahan 25,3 Hektar - DMAS Masih Mengandalkan Kawasan Industri

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih fokus mengembangkan kawasan industri. Apalagi, perseroan menerima permintaan lahan…

Targetkan Pembiayaan Rp 1 Triliun - Astra Finacial Tawarkan Promo Bunga 0%

NERACA Jakarta – Proyeksi pasar otomotif dalam negeri yang masih lesu, menjadi tantangan bagi pelaku industri otomotif untuk terus menggenjot…

Perkenalkan Fortofolio Bisnis - Astra Tampil di 1st Pacific Expo Selandia Baru

NERACA Jakarta – Menunjukkan eksistensinya di dunia internasional, PT Astra Internasional Tbk (ASII) menjadi satu dari lebih dari 100 perusahaan…