Merajut Masa Depan Indonesia

Oleh: Firdaus Baderi

Wartawan Harian Ekonomi Neraca

Pasca Pemilu 2019 bangsa Indonesia kembali menghadapi ujian keberagaman. Pesta demokrasi yang diwarnai dengan banyaknya isu hoax mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia sangat disayangkan banyak pihak. Meski ini hanya satu bagian isu diantara isu lainnya, yang pasti masa depan Indonesia sangat prospektif.

Indonesia harus terus bergerak untuk merajut masa depan. Masa demi masa sudah dilewati Indonesia. Indonesia pernah terancam terpecah belah saat 1998, tapi berhasil melewatinya. Berbagai krisis juga pernah menghantam Indonesia, tapi berhasil pula dilaluinya. Nah, sekarang ini optimistis untuk bisa melewati masalah-masalah juga harus dimliki seluruh stakeholders.

"Mari kita tetap bersatu. Rajut persatuan, gunakan SDM yang hebat, SDA yang hebat,” tegas Prof. Dr. Mahfud MD, mantan Ketua MK, saat memberikan keynote speech dalam dialog “Merajut Masa Depan” yang diselenggarakan United in Diversity (UID) di Jakarta, Kamis (4/7).

Merajut masa depan Indonesia, itu berarti memupuk nasionalisme, rasa cinta kepada tanah air. Bentuknya dengan menegakkan hukum dan keadlilan di Indonesia. “Dulu harta kita dikorupsi semua, kita diam. Sekarang kita hukum yang korupsi.” Baginya, penegakan hukum dan keadilan adalah basis nasionalisme.

Tokoh nasional lainnya, pendiri Maarif Institute Ahmad Syafii Maarif juga menegaskan kepada para politisi maupun tokoh-tokoh partai politik untuk naik kelas. “Kita harapkan kepada para politisi mau naik kelas, belajar menjadi negarawan,” ujarnya.

Apabila politisi maupun tokoh partai mau melakukan ini akan membuat kondisi lebih baik. Jangan sampai politisi itu bak mahluk bertopeng, kelihatannya baik tapi kelakuannya tidak seperti kenyataannya.

Patut disadari, bahwa demokrasi memang memberikan ruang sebesar-besarnya kepada segenap bangsa Indonesia untuk menyuarakan aspirasi dan kritiknya baik disampaikan secara langsung maupun tidak. Masalahnya, tidak jarang dijumpai politisi atau agamawan yang muncul ke permukaan dan memonopoli kebenaran. Dan tidak hanya itu, kelompok lain yang tidak sejalan dengan mereka baik di bidang keagamaan maupun kepemerintahan dianggapnya telah menyalahi aturan konvensional, bahkan terkadang diidentikkan dengan penghuni neraka.

Adalah Presiden Yayasan UID Mari E. Pangestu mengungkapkan, sebenarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang tangguh, bangsa yang toleran. Meski memang belakangan ini menghadapi kegalauan. Namun diingatkan ada tiga faktor utama yang dapat mengantarkan Indonesia untuk mencapai masa depan yang lebih baik, yaitu harus mampu bersikap open mind, open heart dan open will.

Bagaimanapun, Indonesia adalah salah satu negara yang sangat majemuk, beragam suku, agama, ras, budaya, serta kondisi geografis yang berbeda-beda. Harusnya kita paham bahwa menyeragamkan pihak-pihak lain dengan kita adalah tindakan utopis. Hal yang paling krusial dalam berbangsa dan bernegara adalah menemukan titik keberagaman di tengah perbedaan dan ancaman konflik. Memupuk semangat nasionalisme memang perlu saat ini.

BERITA TERKAIT

Ada ‘Gap’, Ada Ketimpangan

  Oleh: Ahmad Heri Firdaus Peneliti Indef Ketimpangan akan terus terjadi selama masih ada gap kesempatan, akses terhadap sumber ekonomi…

Investasi, Prospek dan Ekspor

Penulis: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Para pemimpin negara dan para pemimpin perusahaan di seluruh dunia terus putar otak…

Dubes Maritim

               Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Indonesia kembali terpilih…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ada ‘Gap’, Ada Ketimpangan

  Oleh: Ahmad Heri Firdaus Peneliti Indef Ketimpangan akan terus terjadi selama masih ada gap kesempatan, akses terhadap sumber ekonomi…

Investasi, Prospek dan Ekspor

Penulis: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Para pemimpin negara dan para pemimpin perusahaan di seluruh dunia terus putar otak…

Dubes Maritim

               Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Indonesia kembali terpilih…