BEI Beri Sanksi Suspensi 10 Emiten “Nakal” - Telat Beri Laporan Keuangan

NERACA

Jakarta – Hingga Juni 2019 kemarin, PT Bursa Efek Indonesia memberhentikan perdagangan saham atau suspensi sepuluh emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan tahunan per 31 Desember 2019. Adapun komposisinya, sebanyak empat emiten baru diberikan suspensi per 1 Juli 2019 karena belum menyampaikan laporan keuangan tahunan per 31 Desember 2018.

Sementara itu, 6 emiten lainnya mendapat perpanjangan suspensi perdagangan efek karena belum menyampaikan laporan keuangan auditan 2018 dan belum membayar denda. Dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (1/7), BEI menyebutkan, empat perusahaan tercatat yang perdagangan sahamnya dihentikan sementara di pasar reguler dan pasar tunai sejak sesi I perdagangan Senin (1/7) adalah, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), PT Sugih Energy Tbk (SUGI) dan PT Nipress Tbk. (NIPS).

Kemudian enam perusahaan tercatat yang masa suspensinya diperpanjang adalah, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. (AISA), PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Golden Plantation Tbk (GOLL) dan PT Sigmagold Inti Perkasa Tbk (TMPI). Selanjutnya ada PT Cakra Mineral Tbk (CKRA) dan PT Evergreen Invesco Tbk (GREN). Berdasarkan peraturan nomor I-H tentang sanksi, bursa telah memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp150 juta kepada emiten yang terlambat menyampaikan lapkeu dan/atau belum membayar denda atas keterlambatan tersebut.

Sementara itu, berdasarkan peraturan nomor I-H tentang sanksi, bursa melakukan suspensi apabila mulai hari kalender ke-91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian lapkeu, emiten tidak memenuhi kewajiban penyampaian lapkeu dan atau meskipun telah menyampaikan lapkeu tapi belum membayar denda. Meski ada 10 emiten yang disuspensi, namun hal tersebut tidak mempengaruhi kegiatan transaksi di pasar modal.

Malah sebaliknya para analis menyakini paruh kedua tahun ini akan menjadi periode yang menguntungkan bagi pasar modal. Alasannya, ketidakpastian perang dagang antara AS—China dipercaya tidak akan memburuk—walau masih belum ada kesepakatan. Selanjutnya, potensi penurunan suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang akan diikuti oleh Bank Indonesia pun bakal menjadi katalis positif di pasar obligasi dan pasar saham.

Suria Dharma, Head of Research Samuel Sekuritas pernah bilang, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) pada semester II/2019 nanti akan lebih baik ketimbang semester I/2019. Dirinya menjelaskan, selain kondisi geopolitik yang mulai membaik dan potensi penurunan suku bunga dari Bank Sentral AS, indeks juga akan tertopang oleh pertumbuhan EPS (Earning Per Share) milik emiten.

Sementara itu, tantangan bagi pergerakan indeks diperkirakan masih berasal dari perkembangan perang dagang antara AS dan China serta susunan kabinet dari pemerintah yang baru. Hal senada juga disampaikan senior manager research analyst Kresna Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy.

Dirinya menuturkan, ekspeksi penurunan suku bunga serta kepastian politik pascapenetapan hasil Pemilu akan menjadi penopang utama penguatan indeks pada semester II/2019. Kresna Sekuritas pun memperkirakan IHSG akan melaju ke kisaran 6.650—6.700 hingga akhir tahun ini, masih sama seperti target yang ditetapkan pada awal tahun.

BERITA TERKAIT

Beragam Solusi Keuangan di GIIAS - Astra Berikan Nilai Tambah dari Sekedar Jual Mobil

Lesunya bisnis pasar otomotif dalam negeri tidak mengurangi minat masyarakat Indonesia untuk hadir di pameran tahunan GAIKINDO Indonesia International Auto…

Awasi Sektor Keuangan, KPK Bentuk Tim Forensik

  NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan membentuk tim akuntansi forensik untuk mengawasi aliran dana pada sektor keuangan,…

Audien Dengan Dirjen Pajak - BEI Keukeuh Suarakan Hapus Pajak ETF

NERACA Jakarta – Mendapat dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait soal insentif penghapusan pajak exchange traded fund (ETF) dalam…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Gandeng MRT Jakarta - Intiland Bidik Recurring Income Lahan Parkir

NERACA Jakarta – Memanfaatkan kawasan yang dekat dengan stasiun MRT Lebak Bulus, PT Intiland Development Tbk (DILD) menuai banyak berkah…

Kejar Pertumbuhan Penjualan 20% - Lorena Mengandalkan Bisnis Angkutan Udara

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan penjualan atau sales naik sebesar 15% - 20% sepanjang 2019,  PT Eka Sari Lorena Transport…

BEI Perbanyak Sekolah Pasar Modal di DIY

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal guna menjaga ketahanan pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan sosialisai…