Ketika Botol Plastik Sumbang Pendapatan Pemda - Menggugah Masyarakat Ramah Lingkungan

Indonesia tercatat sebagai negara peringkat kedua di dunia sebagai penghasil sampah plastik ke laut setelah Tiongkok. Prestasi ini bukanlah sebuah kebanggaan, tetapi menjadi catatan buruk karena besarnya tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk plastik tidak di imbangi dengan kesadaran yang masih rendah akan bahanya sampah plastik terhadap alam sekitar. Oleh karena itu, banyak perusahaan swasta hingga pemerintah daerah menyerukan warganya untuk peduli lingkungan dengan meminimalisir penggunaan kantong plastik atau mengoptimalkan daur ulang sampah plastik.

Hal inilah yang dilakukan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya yang sukses mengajak masyarakatnya melakukan daur ulang sampah plastik, termasuk botol plastik. Disebutkan, sampah botol plastik dari hasil penukaran tiket naik Suroboyo Bus sejak awal beroperasi pada 2018 hingga Januari 2019 sudah terkumpul sebanyak 39 ton dan saat ini sudah dilelang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKRTH Kota Surabaya, Eri Cahyadi di Surabaya, kemarin mengatakan hasil pengumpulan sampah botol plastik tersebut sudah dilelang langsung melalui Dirjen Kekayaan Negara (DJKN) senilai Rp150 juta.”Hasil penjualan tersebut kemudian masuk dalam PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kota Surabaya," ujarnya.

Menurutnya, karena botol plastik yang terkumpul itu sudah ditetapkan sebagai kekayaan daerah, sehingga secara otomatis botol sampah 39 ton tersebut dilelang oleh DJKN. Sistem lelang yang digunakan ini mencari pemenang dengan penawaran tertinggi, waktu itu dibuka dari harga Rp80 juta. Hasil lelang tersebut kemudian dimenangkan perusahaan pengelola sampah plastik menjadi biji plastik yakni PT Langgeng Jaya Plastindo senilai Rp150 juta.

Eri menjelaskan, lelang tersebut merupakan pertama kali dari hasil pendapatan Suroboyo Bus karena sebelumnya memang belum ditetapkan siapa yang berwenang untuk menangani ini. "Jadi kita simpan dulu di rumah-rumah kompos dan baru dilelang beberapa waktu lalu setelah semuanya clear," katanya.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini menyampaikan, hasil dari lelang Rp150 juta itu, kemudian dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD).”Dananya masuk ke APBD lalu dicampur. Masuk ke PAD retribusi, atau bisa masuk ke pajak Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau bisa masuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) masuk jadi satu, setelah itu baru dibelanjakan," ujarnya.

Berikan Nilai Ekonomi

Dia menilai, jumlah bus sebanyak 20 unit itu terus mengalami perkembangan minat warga untuk menggunakan alat transportasi ini. Terhitung sejak awal bus tersebut beroperasi sampai pada 2019, jumlah pemasukan botol sampah plastik terus meningkat. Artinya, semakin banyak minat warga yang menggunakan bus tersebut.

Oleh karena itu, lanjut dia Pemkot Surabaya terus mengupayakan pembayaran Suroboyo Bus menggunakan sampah botol plastik. Cara ini dinilai efektif untuk menangani dampak dari sampah plastik itu sendiri.”Mudah-mudahan masih terus berlaku karena botol yang dilakukan untuk tiket bus tersebut digunakan sebagai percontohan sampai international," katanya.

Menurut data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Sementara Perwakilan UNDP Indonesia, Tony Hutabarat membenarkan bahwa sampah plastik ini berbahaya sebab ada yang tidak bisa terurai malah akan menjadi mikro plastik."Plastik yang degradable ini yang bahaya ketika kena hujan, panas, lalu ada bagian yang tidak terurai dan menjadi mikro plastik ini tidak bisa terserap oleh alam dan mikro plastik ini yang bahaya, bisa masuk menjadi komponen dirantai makanan kita, sangat sangat sedikit sekali plastik yang biodegradable," ungkap Tony.

Sebagai informasi, data dari Kementerian LHK menyebutkan, saat ini sampah Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dan 64% berakhir di TPA. Sementara menurut data BPS, tingkat perilaku memilah sampah di rumah tangga masih relatif rendah, yaitu 18,84%. Sementara perilaku tidak memilah sampah sebelum dibuang masih relatif tinggi yaitu 81,16%. Dalam Perpres No. 97/2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, ditetapkan target pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah sebesar 70% pada tahun 2025, ditambah dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi sampah plastik di laut sebesar 70% pada tahun 2025.

Asal tahu saja, setiap tahun produksi plastik menghasilkan sekitar delapan persen hasil produksi minyak dunia atau sekitar 12 juta barel minyak atau setara 14 juta pohon. Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50% dari kantong plastik tersebut dipakai hanya sekali lalu langsung dibuang. Dari angka tersebut, hanya lima persen yang benar-benar di daur ulang.

BERITA TERKAIT

Selamatkan Teluk Jakarta - Ancol Jernihkan Air Laut Lewat Restorasi Kerang Hijau

Isu lingkungan yakni pencemaran air laut dari sampah plastik masih menjadi perhatian besar karena Indonesia menjadi negara peringkat kedua dengan…

Indocement Bantu Masyarakat Atasi Krisis Air Bersih

Air menjadi sumber kebutuhan hidup manusia, namun tidak semua masyakat Indonesia memiliki sumber akses air yang layak dan bahkan masih…

IndiHome Digital Learning - Telkom Fasilitasi Pemerataan Kualitas Pendidikan di Papua

Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya bagi milenial Papua. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk…

BERITA LAINNYA DI CSR

Menjaga Eksistensi Warisan Nenek Moyang - Festival Pesona Lokal Membawa Cerita di Masa Kecil

Bandung Paris Van Java atau Paris dari Jawa adalah sebutan yang tidak asing lagi untuk menggambarkan kota Bandung yang terkenal…

Peduli Budaya Suku Pedalaman - Menteri BUMN Berikan Bantun Peletarian Suku Badui

Pesatnya dan majunya perkembangan zaman, tidak membuat eksistensi suku Badui sebagai suku terdalam di Lebak, Banten ikut punah. Bahkan sebaliknya,…

Bank Muamalat dan BMM Renovasi Rumah Warga Sukabumi

Rumah sebagai tempat tinggal atau berlindung merupakan kebutuhan pokok dari masyarakat, namun seiring dengan membengkaknya harga tanah tiap tahunnya membuat…