Jaga Momentum Ekonomi 2019

Membaca kinerja ekonomi Indonesia hingga triwulan I-2019 terlihat cukup positif. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,07% (yoy), tumbuh stabil dibandingkan pertumbuhan periode yang sama tahun lalu (2018) tercatat 5,06%. Begitu pula komponen konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01% (yoy), sedikit di atas triwulan I-2018 sebesar 4,95%. Inflasi stabil 2,48% (yoy) dengan inflasi inti 3,03% (yoy) pada akhir Maret 2019, yang mengindikasikan daya beli masyarakat terjaga dengan baik.

Sementara komponen konsumsi pemerintah meningkat signifikan dari 2,71% (yoy) pada triwulan I-2018 menjadi 5,21% (yoy) pada triwulan I-2019. Peningkatan ini didukung oleh persiapan Pemilu 2019 serta realisasi bantuan sosial yang mencapai 36% dari yang dianggarkan pada APBN 2019.

Di sektor investasi tumbuh melemah dari 7,94% (yoy) pada triwulan I-2018 menjadi 5,03% (yoy) pada triwulan I-2019. Namun hal ini terkait dengan tahun politik yang menyebabkan realisasi penanaman modal menjadi lebih lambat. Ini terjadi seiring perilaku investor asing bersikap wait and see untuk sementara waktu.

Kinerja komponen net ekspor juga masih di bawah harapan. Berbagai kebijakan pemerintah untuk membatasi impor berhasil menurunkan impor -7,75% (yoy) pada triwulan I-2019. Akan tetapi, penurunan impor dibarengi ekspor yang terkontraksi -2,08% (yoy) akibat melambatnya perekonomian dunia, sehingga menyebabkan permintaan turun signifikan.

Potret neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I-2019 tercatat surplus US$ 2,4 miliar ditopang berlanjutnya surplus investasi portofolio di neraca finansial. Capaian itu meningkatkan cadangan devisa sebesar US$ 3,9 juta dari posisi akhir tahun lalu. Sementara defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit-CAD) menurun menjadi 2,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari triwulan sebelumnya 3,59% terhadap PDB, didukung oleh neraca barang yang kembali surplus. Namun, CAD triwulan I-2019 masih lebih tinggi dibanding posisi triwulan I-2018 sebesar 2,01% terhadap PDB.

Nah, menjelang semester II-2019 potensi ekonomi Indonesia supaya terus tumbuh cukup tinggi, tantangan terutama yang berasal dari sisi eksternal kembali meningkat. Ini akibat tensi perang dagang AS dan Tiongkok yang sebelumnya mereda kembali meningkat. Apalagi Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor produk asal Tiongkok senilai US$ 200 miliar menjadi 25%. Tiongkok pun melakukan aksi balasan dengan menjadwalkan kenaikan tarif impor barang asal AS senilai US$ 60 miliar sampai dengan 25% pada 1 Juni 2019. Kondisi ini tentu akan semakin memberikan tekanan pada ekspor Indonesia.

Tidak mengherankan, jika CAD triwulan II-2019 juga diprediksi melebar. Akan tetapi, hal ini berkaitan dengan faktor musiman kebutuhan pembayaran dividen non-residen dan bunga utang luar negeri yang memuncak tiap triwulan II, serta meningkatnya impor seiring meningkatnya permintaan domestik pada Ramadan dan Idul Fitri yang dapat membuat neraca perdagangan kembali defisit.

Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, keberlanjutan koordinasi dan sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia memiliki peran krusial untuk mendorong pertumbuhan di sisa tahun 2019. Untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga, pemerintah dan BI perlu terus menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi sehingga momentum peningkatan konsumsi akibat Ramadan dan Idul Fitri, masa libur sekolah dan tahun ajaran baru dan pemberian tunjangan hari raya dan gaji ke-13 menjadi optimal.

Untuk meningkatkan aliran modal masuk yang diprediksi naik pada semester II-2019 seiring meredanya ketidakpastian tahun politik dan diumumkannya kabinet kerja baru, pemerintah perlu memberikan berbagai insentif pajak dan non-pajak, memperbaiki peraturan terkait ketenagakerjaan, meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dengan pemerintah daerah, dan menyederhanakan birokrasi perizinan.

Kebijakan investasi juga perlu diarahkan ke sektor berorientasi ekspor dan substitusi impor berbasis industri pengolahan 4.0, seperti industri makanan-minuman, tekstil dan produk tekstil, industri elektronik, industri otomotif, dan industri kimia. Saat ini sektor industri pengolahan berkontribusi 20% terhadap PDB, 30% terhadap perpajakan, dan lebih dari 70% terhadap ekspor. Semoga!

BERITA TERKAIT

PAMERAN UMRAH DAN HAJI 2019

Sekretaris Perusahaan BNI Syariah, Rima Dwi Permatasari (kedua kiri), bersama Pemimpin Divisi Dana Ritel BNI Syariah, Bambang Sutrisno (kedua kanan),…

Pelantikan DPRD Banten 2019-2024 Pada 2 September 2019

Pelantikan DPRD Banten 2019-2024 Pada 2 September 2019   NERACA Serang - Pelantikan anggota DPRD Banten terpilih periode 2019-2024 direncanakan pada…

LIPS Persembahkan Pemenang Penghargaan di AIBP 2019

LIPS Persembahkan Pemenang Penghargaan di AIBP 2019 NERACA Jakarta - Perusahaan LIPS, penyedia teknologi penginderaan 3D terdepan di dunia, dengan…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Masa Depan KPK

Setelah berkiprah selama hampir 16 tahun, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memang telah berbuat banyak dalam memberantas korupsi di negeri ini.…

Menjaga Indonesia Damai

Di tengah maraknya budaya asing secara masif masuk ke negeri ini, generasi muda Indonesia kini menghadapi tantangan cukup berat. Selain…

Ancaman Kejahatan Siber

Kejahatan dunia siber berupa peretasan data masih mengincar perusahaan besar, khususnya industri jasa keuangan dan perbankan. Paparan studi yang dilakukan…