Bisnis E-Commerce, Pertarungan Harga Diri Produk Lokal

Oleh: Pril Huseno

Maraknya bisnis e-commerce di Indonesia yang bermain pada aneka situs belanja online (marketplace) seperti Lazada, Gojek, Tokopedia, Shopee dan lainnya, menjadi tantangan tersendiri bagi para perencana kebijakan dalam negeri. Khususnya yang bertanggungjawab terhadap masa depan UKM atau startup lokal.

Betapa tidak, UKM atau startup lokal saat ini harus bersaing dengan situs belanja online yang sudah mempunyai valuasi di atas 1 miliar dolar AS (Unicorn). Berhadapan dengan para raksasa marketplace, tiada pilihan lain bagi UKM lokal selain bersedia bergabung menjadi salah satu jaringan pemasok pada situs belanja online tersebut, atau pasar yang dimiliki akan punah diserap oleh penetrasi “Unicorn”.

Repotnya lagi, belakangan muncul sinyalemen yang menyatakan bahwa strategi merebut pasar UKM atau startup lokal diperoleh dengan cara yang--katakanlah culas--yakni taktik kloning produk UKM yang kebetulan sedang laku di pasaran.

Dengan taktik kloning, startup raksasa meniru produk tersebut di Negara asal dengan modifikasi dan mutu yang lebih baik, kemudian mengirim produk kloning tersebut ke Indonesia, bahkan dengan free ongkos kirim. Dengan demikian, otomatis produk UKM lokal akan tergerus karena kalah daya saing. Baik harga maupun kualitas produk di marketplace.

Tak heran, muncul kasus-kasus produk UKM lokal yang tak lagi laku dipasaran karena tergerus produk impor. Dan memang faktanya, produk yang dijual di marketplace raksasa 94 persen adalah produk impor. Itulah yang kurang lebih menimpa startup lokal “Qlapa” yang menyatakan gulung tikar setelah eksis beberapa tahun.

Menjadi pertanyaan, dengan merajalelanya raksasa situs jual beli online saat ini, bagaimana langkah yang seharusnya ditempuh untuk melindungi UKM atau produk lokal? Mungkinlah UKM atau startup lokal dapat membangun situs jual beli online yang mampu bersaing di level marketplace?

Pertanyaan di atas sepertinya penting diajukan, karena ke depan bisnis e-commerce akan semakin booming. Amat sayang jika kekuatan bisnis produk lokal melalui UKM tidak memanfaatkan celah e-commerce yang masih amat luas.

Dari catatan yang ada melalui perbandingan jumlah penduduk dengan kecenderungan penggunaan internet, dari 264,26 juta penduduk Indonesia sekitar 64,8 persen (171,17 juta orang) merupakan pengguna internet aktif. Dalam setahun, user internet naik sekitar 10,2 persen. Terbesar di Pulau Jawa dengan 55 persen penduduk, lalu Sumatera (21 persen) Kalimantan (9 persen), Sulawesi, Maluku dan Papua (10 persen), dan Bali-Nusatenggara (5 persen).

Dengan besarnya pangsa pasar belanja online yang kebanyakan menjual consumer goods, maka jika peluang tersebut bisa dimanfaatkan oleh UKM lokal dengan dukungan penuh pemerintah dalam perlindungan produk, maka sepertinya bukan hal tidak mungkin marketplace lokal akan bisa bersaing.

Apalagi, data dari Badan Ekonomi Kreatif-Bekraf, menunjukkan bahwa pada 2017 saja target pertumbuhan PDB ekonomi kreatif yang dipatok 6,75 persen sudah terlampaui. Jumlah tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif sebesar 16 juta orang saat ini telah mencapai 18,1 juta. Sumbangan ekonomi kreatif terhadap PDB mencapai Rp1.105 triliun. Dua bidang ekonomi kreatif yang tengah naik daun, yakni film dan game diharapkan dapat terus dipertahankan. Di samping bidang lainnya yang jadi maskot ekonomi kreatif seperti fashion, kuliner dan kriya. Begitu pula desain komunikasi visual/grafis dan desain produk.

Mampukah UKM lokal dan ekonomi kreatif bersaing dengan raksasa marketplace? Atau dibiarkan saja menjadi subsistem atau supplier saja dari marketplace yang disediakan oleh asing? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Bisnis - Sentral Mitra Informatika Bidik Pasar Hotel di Bali

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan, PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK) membidik pasar perhotelan di Bali dengan menawarkan manager…

HARGA GARAM

Petani memanen garam di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (13/8). Sebagian petani dan buruh tani di daerah itu enggan…

Kejar Penjualan Rp 3,15 Triliun - Integra Indocabinet Luncurkan Produk Baru

NERACA Jakarta – Sepanjang semester pertama 2019, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) berhasil membukukan penjualan Rp 977,54 miliar atau tumbuh…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Krisis Ekonomi 10 Tahunan di Depan Mata?

Oleh: Sarwani Aksioma sejarah berulang terjadi di semua sisi kehidupan, tidak terkecuali ekonomi. Kejayaan dan kemakmuran yang pernah dialami satu…

Membatasi Mobilitas Sepeda Motor

Oleh: Joko Setijowarno,  Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyaratakatan MTI Pusat Hasil kajian Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), total jumlah perjalanan…

Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Indonesia

  Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pengamat Sosial Politik   Radikalisme merupakan ancaman nyata bagi keamanan dan keutuhan bangsa. Masyarakat Indonesia…