Peringkat Utang Naik Katalis Penguatan Rp dan IHSG

NERACA

Jakarta – Pasca libur panjang Lebaran, tren indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat tajam. Hal tersebut ditunjukkan mulai dari pembukaan perdagangan hingga penutupan perdagangan Senin (10/6) awal pekan ini. Lihat saja, mengakhiri perdagangan IHSG ditutup menguat 1,3% (80,49 poin) ke kisaran 6.289,61.

Saham-saham unggulan yang tergabung dalam Investor33 naik 2,5% ke kisaran 457,31, indeks LQ45 naik 2,5% ke kisaran 982,88, JII naik 2,3% ke 661,04. Rupanya tren penguatan IHSG seirama dengan penguatan nilai tukar rupiah. Mengutip Bloomberg, rupiah terapresiasi 0,13% ke level Rp 14.250 per dollar AS pada Senin (10/6). Adapun kurs tengah rupiah di Bank Indonesia menguat 1,07% ke level Rp 14.231 per dollar AS.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, penguatan rupiah didorong oleh data ekonomi AS yang gagal menemui ekspektasi ketika dirilis akhir pekan lalu. Ambil contoh data non-farm payroll AS di bulan Mei yang hanya tumbuh di level 75.000 atau lebih rendah dari ekspektasi pasar di level 177.000.”Potensi penurunan suku bunga acuan oleh The Fed makin besar seiring pelemahan data ekonomi AS ditambah situasi perang dagang yang tak menentu,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh kenaikan peringkat utang Indonesia menurut S&P dari BBB- menjadi BBB pada akhir bulan lalu. Karena ada momen libur lebaran di awal bulan Juni, sentimen tersebut baru terefleksikan ke pergerakan rupiah pada awal pekan ini.

Penguatan rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan besok, namun dalam rentang yang lebih terbatas. Pasalnya, para pelaku pasar masih mencermati perkembangan perang dagang antara AS dan China. Apalagi, AS sempat memberikan ancaman kenaikan tarif impor tambahan kepada produk asal China sebesar US$ 300 miliar.

Hal senada juga disampaikan direktur utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim Asuaibi, katalis positif penguatan rupiah tidak lepas dari sentimen lembaga rating S&P pada Jumat (31/5) lalu yang menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan proyeksi (outlook) stabil,"Keputusan ini membuat investor makin yakin untuk berinvestasi di aset-aset berbasis rupiah ,terutama obligasi, karena kemungkinan gagal bayar semakin kecil," katanya.

Selain itu, sentimen lainnya adalah rilis data inflasi Mei 2019 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Alhasil, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat seiring rilis data inflasi Mei 2019. Menurut Ibrahim, bagi negara berkembang seperti Indonesia, inflasi tinggi adalah sebuah setelan tetap (default setting), sebab permintaan terus tumbuh sementara industri domestik masih mencari bentuk terbaik. Artinya pasokan yang tersedia niscaya belum mampu memenuhi permintaan yang terus naik.”Jadi inflasi rendah adalah sebuah berkah, karena pertanda permintaan yang tumbuh mampu dipenuhi oleh sisi penawaran. Sisi pasokan Indonesia semakin baik, dunia usaha semakin mampu untuk menyesuaikan irama permintaan konsumen," ujarnya.

Dari eksternal, rilis data Non Farm Payroll AS pada Mei yang tercatat 75.000, lebih rendah dari perkiraan sebesar 185.000, mengindikasikan bahwa penciptaan lapangan kerja di AS melambat dan memberi indikasi perlambatan ekonomi AS."Selain itu, rilis data tenaga kerja AS tersebut mendorong pelemahan dollar AS yang diikuti juga oleh penurunan yield UST, mengingat ekspektasi pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga Fed mulai meningkat seiring dengan ekspektasi perlambatan ekonomi AS pada tahun ini," kata Ibrahim.

Bagi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, kenaikan rating dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P akan berdampak positif bagi ekonomi Indonesia. Pasalnya hal itu bakal membuat kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia akan semakin meningkat.”Alhamdulillah ada dua hal yang menonjol dari kenaikan rating ini, ini adalah karunia Allah yang betul-betul sangat besar terhadap Indonesia. Kemudian confidence S&P terhadap prospek ekonomi Indonesia itu baik," tuturnya.

Dia menyampaikan, saat ini kebijakan yang diambil oleh pemerintah seperti reformasi struktural berjalan dengan baik. Untuk itu, pemerintah mendorong ekspor, dan kemudian turut memacu industri dalam negeri, mendatangkan modal asing hingga memperbaiki iklim investasi. bani

BERITA TERKAIT

Rating Utang Naik Diiringi Kenaikan Utang

    NERACA   Jakarta – Belum lama ini, lembaga rating utang berbasis di Amerika Serikat Standard & Poor's (S&P)…

Efektivitas Utang Negara

Meski banyak pihak merisaukan masalah utang negara, Menkeu Sri Mulyani Indrawati di setiap kesempatan mengklaim bahwa pengelolaan utang Indonesia saat…

Penyaluran Gas PGN Naik 43,5%

  NERACA   Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN telah menyalurkan gas alam selama periode Januari sampai…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kejar Ekspor, Benahi Kebijakan Perdagangan Secara Struktural

NERACA Jakarta - Indonesia for Global Justice (IGJ) menilai tidak cukup hanya dengan mengejar nilai ekspor dengan memperbanyak perjanjian Free…

PERANG DAGANG AMERIKA SERIKAT-CHINA - AMRO Nilai Kawasan ASEAN Berisiko Perlambatan

Jakarta-Lembaga riset ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) menilai kawasan ASEAN saat ini tengah menghadapi risiko perang dagang antara Amerika Serikat…

KEBUTUHAN INVESTASI 2020 RP 5.803 TRILIUN-RP 5.823 TRILIUN - Pemerintah Waspadai Ancaman Defisit Perdagangan

Jakarta-Kementerian Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,3%-5,6% dalam asumsi ekonomi makro di 2020 dengan kebutuhan investasi sebesar Rp5.803 triliun hingga Rp5.823…