Refleksi Ekonomi Mudik

Oleh : Agus Yuliawan

Pemerhati Ekonomi Syariah

Setiap aktifitas lebaran di Indonesia—selalu diwarnai dengan tradisi “mudik dan balik” yang dilakukan pra dan pasca Idul Fitri tiap tahunnya. Peristiwa tersebut sunguh dasyat sekali—apalagi mampu memberikan daya kekuatan ekonomi kerakyatan, bahkan berbagai tempat wisata dan hiburan yang ada di daerah semuanya penuh dengan para pengunjung. Kemudian disisi yang lain dan menjadi rasa heran kita saat balik mereka ke Jakarta, suasana jalan tol nyaris penuh dengan kendaraan mobil. Melihat fenomena tersebut diri kita bertanya, apakah benar realitas ekonomi mudik dan balik yang terjadi pada lebaran memberikan arti? Benarkah saat ini terjadi tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia? Apalagi jika kita hitung jika setiap orang yang melakukan mudik dan balik tersebut minimal menghabiskan uang Rp 5.000.000.

Melihat dari peristiwa lebaran ini—semua peneliti ekononomi pada kebingungan dalam melihat realitas perilaku masyarakat, apalagi jika melihat indikator ekonomi yang ada dengan tingkat inflasi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang rendah. Jika ini dilogikakan, seharusnya kebanjiran ekonomi dari kota ke daerah sangat rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik kondisinya, meskipun pertumbuhan ekonomi rendah akan tetapi geliat masyarakat dalam konsumtif sangat tinggi terutama dari segi belanja dan kepemilikkan kendaraan. Anomali realitas inilah yang seharusnya kita cermati seksama sambil kita melihat apa dampak terhadap perubahan ekonomi nasional efek dari tradisi mudik dan balik lebaran tersebut.

Secara refleksi ekonomi, efek ekonomi mudik sudah banyak ulasan dan kita menyaksikan berapa triliun uang yang beredar ke daerah. Bagi daerah, adanya ekonomi mudik tersebut sudah banyak menyiapkan segalanya. Diantaranya membangun infrastruktur, sarana prasana dan fasilitas hiburan. Dengan demikian setiap daerah bisa merasakan ceruk bisnis dari ekonomi mudik tersebut.

Meskipun banyak daerah yang memanfaatkan peluang bisnis tersebut, sangat disayangkan peluang bisnis ritel saat lebaran dan pasca belum termanajemen dengan baik. Buktinya pemerintah daerah dan masyarakat khususnya pribumi belum mengoptimalkan. Jaringan bisnis ritel dengan segala jenis kebutuhannya masih dikuasai oleh para kartel. Pada hal efek dari ekonomi mudik tersebut yang paling besar ceruk ekonominya menyasar dari segi bisnis ritel.

Tentunya dengan refleksi ekonomi mudik dan balik ini menjadi tentunya menjadi catatan dan renungan kita bersama, bahwa selain menyiapkan pembangunan infrastruktur dan fasilitas lain di daerah. Tak lupa juga pembangunan manajemen bisnis ritel di daerah harus di bangun pula, dengan demikian segala produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) millik masyarakat daerah mampu terdistribusikan dengan baik. Upaya pembangunan bisnis ritel di daerah yang dilakukan oleh para pribumi di daerah akan memangkas peran para kartel besar yang selama ini eksploitatif.

Untuk membangun toko–toko ritel di daerah cukup mudah dengan cara dikelola melalui koperasi atau Badan Usaha Milki Desa, dan contoh di kabupaten Kulonprogo – Yogyakarta dengan membuat Toko Milik Rakyat. Semoga inspirasi dan refleksi ekonomi mudik dan balik ini menjadi inspirasi kemajuan kita bersama untuk membangun semangat gotong royong ekonomi di daerah kita dalam memanfaatkan momentum lebaran.

BERITA TERKAIT

Mendorong Ekonomi Syariah jadi Pilar Ekonomi Nasional

    NERACA   Jakarta - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan Bambang Kusmiarso mengatakan, Indonesia yang mayoritas penduduknya…

Harian Ekonomi NERACA Genap 34 Tahun

Di bulan Agustus ini, tepatnya pada 18 Agustus 2019, Harian Ekonomi NERACA genap berusia 34 tahun. Meski di tengah maraknya…

BTN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) siap mendorong pertumbuhan ekonomi di Bengkulu agar bisa lebih maju lagi, salah satunya melalui…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Darurat Kinerja

Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Kurang dari seminggu yang lalu, beberapa daerah di…

Menghadapi Ketidakpastian

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Membicarakan soal ekonomi tidak ada habisnya. Mata dan telinga selalu melihat dan…

Menguji Efektivitas “Super Deduction Tax”

Oleh: Nailul Huda, Peneliti INDEF Peran inovasi dan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi sangat vital mengingat kondisi perekonomian saat ini yang…