KRAS Mengandalkan Restrukturisasi Utang - Bangkitkan Bisnis Baja Yang Lesu

NERACA

Jakarta – Berkomitmen untuk memangkas beban utang untuk menghasilkan kinerja keuangan yang positif, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) terus disibukkan untuk melakukan restrukturisasi utang kepada para krediturnya. Teranyar, perusahaan baja plat merah ini sesumbar akan segera merampungkan restrukturisasi utang dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim mengatakan, saat ini proses restrukturisasi terus berlangsung. Pihaknya menargetkan paling tidak pada akhir Juni ini kesepakatan dengan semua kreditor bisa segera dikantongi. Namun dia enggan menjelaskan secara detail terkait rencana tersebut.”Kesepakatan restrukturisasi paling enggak akhir bulan ini, enggak lebih dari bulan ini atau Juni. Kesepakatan dengan kreditor,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, Bank Mandiri menyatakan telah menyetujui proposal restrukturisasi utang yang diajukanKrakatau Steel. Skema restrukturisasi yang akan dilakukan adalah melalui pengurangan aset dan penerbitan obligasi konversi. Saat ini, Bank Mandiri menjadi kreditor terbesar bagi KRAS dengan kredit jangka pendek senilai US$ 225 juta atau Rp 3,17 triliun dan Rp 830 miliar.

Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo pernah bilang, pihaknya mendukung restrukturisasi. Apakagi, Krakatau Steel ini kan industri strategis nasional dan perseroan melihat prospek ke depan dengan pertumbuhan demand dari sektor infrastruktur dan konstruksi harusnya masih bagus, jadi Bank Mandiri mendukung.

Selain melalui skema pengurangan aset dan convertible bond, Bank Mandiri juga berharap peran PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum sebagai calon perusahaan holding Krakatau Steel diharapkan akan membantu kinerja KRAS. Asal tahu saja, Krakatau Steel menghadapi masalah yang pelik. Perusahaan mencatatkan kerugian selama tujuh tahun berturut-turut dan banyak utang jangka pendek.

Berdasarkan laporan keuangan KRAS 2018, tercatat utang mencapai US$ 2,49 miliar, naik 10,45% dibandingkan 2017 sebesar US$ 2,26 miliar. Utang jangka pendek yang harus dibayarkan oleh perusahaan mencapai US$ 1,59 miliar, naik 17,38% dibandingkan 2017 senilai US$ 1,36 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan utang jangka panjang sebesar US$ 899,43 juta.

Beban keuangan yang dicatatkan KRAS pada 2018 adalah sebesar US$ 112,33 juta atau setara dengan Rp 1,57 triliun (asumsi kurs Rp 14.000) tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan 2011 yang hanya US$ 40,62 juta. Akibatnya KRAS masih harus menelan kerugian sepanjang tahun lalu, meski pendapatan naik 20% dari 2017 sebesar US$ 1,44 miliar, menjadi US$ 1,73 miliar pada 2018. Rugi bersih perusahaan tercatat US$ 74,82 juta atau Rp 1,05 triliun (kurs R 14.000), meski angka ini turun dibandingkan kerugian 2017 senilai US$ 81,74 juta.

BERITA TERKAIT

Menteri LHK: Justru Pak Jokowi Membenahi yang Salah-salah - Divonis Bersalah Kasus Karhutla

Menteri LHK: Justru Pak Jokowi Membenahi yang Salah-salah Divonis Bersalah Kasus Karhutla NERACA Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan…

Sesuaikan Hasil Kajian RBB - Bank BTN Optimis Bisnis Tetap Tumbuh

Tahun 2019, menjadi tahun yang penuh tantangan karena pertumbuhan ekonomi dunia dan  domestik diperkirakan melambat akibat berkepanjangannya perang dagang antara…

CIMB Niaga Maksimalkan Potensi Bisnis Wealth Management

    NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) terus memaksimalkan potensi bisnis wealth management seiring…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perluas Inklusi Keuangan Lewat Inovasi Layanan Kekinian

Istilah fintech (Financial Technology)  kini bukan hal yang asing didengar seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital saat ini. Bergerak dinamis perubahan industri…

Bantah Kendalikan Harga Saham - Bliss Properti Siap Tempuh Jalur Hukum

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) angkat bicara soal tuduhan soal mengendalikan harga saham yang…

Alokasikan Dana Rp 1,2 Triliun - Tower Bersama Buyback 110,94 Juta Saham

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan harga saham di pasar, beberapa perusahaan masih mengandalkan aksi korporasi buyback saham. Hal inilah yang…