Saham Trisula Textile Masuk Pengawasan BEI

NERACA

Jakarta – Lantaran mengalami kenaikan harga di luar kewajaran atau unusual market activity (UMA), perdagangan saham PT Trisula Textile Industires Tbk (BELL) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (10/6)

Merespon hal tersebut, pihak BEI mengimbar investor untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas konfirmasi bursa. Selain itu, investor juga dimintamencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya, serta mengkaji kembali rencana aksi korporasi emiten tersebut.

Sebagai informasi, pada perdagangan perdana Senin (10/6), saham BELL melesat 10,83%. Data perdagangan menunjukkan, pada penutupan sesi I, saham BELL naik 10,83% di level Rp 665/saham dengan nilai transaksi Rp 192,72 juta dan volume perdagangan 278.800 saham. Dalam sepekan terakhir perdagangan, saham BELL melesat 51,14% dan secara year to date atau tahun berjalan melonjak 177%.

Sepanjang tahun lalu, Trisula membukukan penjualan sebesar Rp 561,37 miliar atau mencapai 116,40% dari target sebesar Rp 482,27 miliar. Hasil penjualan tersebut naik 26% dibandingkan realisasi pendapatan tahun 2017 sebesar Rp 446,13 miliar. Kenaikan penjualan itu mendorong laba bersih perusahaan juga naik 61% menjadi Rp 24,02 miliar dari realisasi laba bersih tahun 2017 sebesar Rp 14,95 miliar.Adapun laba atribusi entitas induk juga naik 62% menjadi Rp 21,44 miliar dari tahun sebelumnya Rp 13,24 miliar.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 12 miliar. Karsongso Wongso Djaja, Direktur Utama PT Trisula Textile Industries Tbk pernah bilang, sumber dana belanja modal ini akan diperoleh dari internal perusahaan. Nantinya, BELL akan menggunakan belanja modal untuk melakukan investasi mesin weaving guna menciptakan produk yang lebih variatif, meningkatkan efisiensi, serta meningkatkan kualitas produk.

Dia mengatakan, perseroan akan menambah 12 mesin weaving, dengan begitu maka akan ada penambahan produksi 10.000 yard hingga 15.000 yard per bulan. BELL rencananya akan kembali menambah mesin pada tahun depan, hanya saja mereka belum menyebut jumlahnya.

Secara total, mereka menargetkan produksi sekitar 700.000 yard per bulan tumbuh 20% ketimbang tahun lalu. Sedangkan kapasitas terpasang saat ini 750.000 yard per bulan dan akan ditingkatkan menjadi 900.000 yard per bulan. Meski begitu, sambungnya, pada tahun ini mereka menargetkan pertumbuhan kinerja konservatif dengan perolehan target sebesar Rp 589,44 miliar atau naik 5% dan membidik laba bersih tumbuh 7% menjadi Rp 25,70 miliar pada 2019. “Saat ini target kita konservatif, tapi hasilnya bisa maksimal,”paparnya.

Dengan target tersebut, segmen usaha distribusi dan manufaktur masing-masing meningkat 5% sementara uniform berkontribusi 50% terhadap total penjualan. Sebagai informasi, kini BELL mempunyai total 6 distributor, 8 sub agen, dan 160 retailer. Selain itu mereka kini secara aktif mengikuti tender-tender di berbagai instansi.

BERITA TERKAIT

Konflik Jababeka, BEI Belum Tentukan Sikap

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan belum mengambil sikap soal penolakan tiga kontraktor PT Kawasan Industri Jababeka…

Kadin Berharap Investasi yang Masuk Berorientasi Ekspor

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap investasi yang masuk ke Indonesia merupakan investasi yang berorientasi ekspor…

Saham Berkah Prima Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Mengalami peningkatan harga saham di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawasi perdagangan saham PT Berkah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perluas Inklusi Keuangan Lewat Inovasi Layanan Kekinian

Istilah fintech (Financial Technology)  kini bukan hal yang asing didengar seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital saat ini. Bergerak dinamis perubahan industri…

Bantah Kendalikan Harga Saham - Bliss Properti Siap Tempuh Jalur Hukum

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) angkat bicara soal tuduhan soal mengendalikan harga saham yang…

Alokasikan Dana Rp 1,2 Triliun - Tower Bersama Buyback 110,94 Juta Saham

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan harga saham di pasar, beberapa perusahaan masih mengandalkan aksi korporasi buyback saham. Hal inilah yang…