Menjaga Marwah Rupiah di Mata Asing

Oleh: Sarwani

Seperti menjawab kekhawatiran beberapa pihak akan terjadi pelemahan rupiah akibat merebaknya isu rush money di media sosial Twitter berbarengan dengan kondisi Jakarta yang memanas pasca aksi massa di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI pada 21-22 Mei, mata uang tersebut justru menguat.

Otoritas Jasa Keuangan memastikan tidak ada aksi rush money alias penarikan uang secara besar-besaran. Yang ada justru dana asing masuk kembali ke Tanah Air (capital inflow). Otoritas menganggap isu penarikan uang hanya hoaks dan meminta semua pihak untuk tidak membesar-besarkan isu tersebut.

Bisa jadi isu tersebut lebih bermuatan politis daripada kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya dan dimaksudkan untuk menimbulkan keresahan di tengah masyarakat sehingga tercipta ketidakpercayaan (distrust) kepada pemerintah dan perbankan.

Tindakan menarik uang secara besar-besaran pada jangka waktu pendek seperti yang pernah terjadi pada 1998 memang dapat mengguncang industri perbankan. Banyak bank kolaps karena likuiditasnya kering ditarik oleh nasabah. Bank umumnya hanya memiliki cadangan uang dalam jumlah terbatas sehingga tidak mampu menghadapi penarikan dana besar-besaran.

Isu penarikan uang besar-besaran ternyata tidak berhasil memperlemah rupiah. Lalu mengapa rupiah bisa bertahan saat ini di posisi Rp14.400-an? Apakah ada faktor lain yang membuat rupiah stabil? Apakah nilai tukar saat ini sudah mencerminkan kondisi rupiah yang aman?

Sejumlah pihak mengatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi stabil sekalipun pertumbuhannya melambat. Hal ini berbeda dengan kondisi pada 1998 dimana saat itu kondisi ekonomi mengalami krisis.

Di sisi lain, sudah ada penjaminan simpanan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang lahir dari keprihatinan krisis moneter 1998. Dengan demikian guncangan yang mungkin akan dialami bank jika terjadi krisis keuangan tidak sehebat pada 1998. Masyarakat memiliki kepercayaan dananya dilindungi dan dijamin.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa rupiah kerap berulah naik turun meskipun kondisi fundamental ekonomi dalam negeri baik. Apa yang menjadi penyebab utama fluktuasi nilai tukar mata uang Garuda tersebut? Apakah aliran dana asing masih dominan mempengaruhi nilai tukar rupiah?

Jika asing ditengarai masih dominan mempengaruhi kurs rupiah, bagaimana sebaiknya sikap pemerintah terhadap kehadiran mereka? Apakah dibutuhkan kebijakan khusus agar keberadaan investor asing di Indonesia membawa untung, bukan malah bikin buntung? Harapan apa saja yang bisa diberikan kepada mereka? Dan bagaimana jalan keluar jangka panjang yang baik bagi Indonesia dalam memperkuat nilai tukar rupiah? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

E-Commerce Dukung UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Ika Puspita Karyati, Staf Pusdiklat Keuangan Umum BPPK, Kemenkeu   Kita telah memasuki era digital, dimana semua hal memungkinkan…

Memilih Menteri Merupakan Hak Prerogatif Presiden

  Oleh : Rendi Alfiansyah, Pengamat Masalah Sosial Politik   Pemilu 2019 telah usai, masyarakat-pun mulai menerka – nerka siapa…

Menelisik Sosok Firli, Ketua KPK yang Baru

  Oleh : Dwi Ayu, Pemerhati Sosial Politik   Irjen Pol. Firli Bahuri, menjadi satu – satunya calon pimpinan KPK…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pasar Global Bawang Putih dan Posisi Indonesia

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Sampai pertengahan 1990-an, Indonesia mencukupi kebutuhan bawang putih konsumsi…

Upaya Bersama Atasi Karhutla

  Oleh:  Rahmad Kurniawan, Pemerhati Lingkungan Hidup Bencana Karhutla masih terus terjadi dan merugikan berbagai pihak, terutama masyarakat. Berbagai upaya…

Irjen Firli Bawa Angin Segar di KPK

  Oleh : Muhammad Zaki, Pengamat Kebijakan Organisasi  Jelang penetapannya sebagai Ketua KPK, Irjen Firli diterpa serangkaian fitnah. Dirinya disebut-sebut…