Galeri Industri Kreatif Semarang Wadah Promosi Produk Inovatif

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri kreatif di Tanah Air sekaligus juga memacu daya saingnya agar mampu kompetitif di pasar domestik hingga global. Subsektor yang tergolong industri kecil dan menengah (IKM) ini dinilai mampu memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

“Masa depan industri kreatif cukup menjanjikan dan bisa menjadi sumber ekonomi dengan nilai tambah yang tinggi, karena dalam sektor ini terdapat konten gagasan, seni, inovasi, teknologi, serta kekayaan intelektual,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Gati menyampaikan, pihaknya aktif menjalankan berbagai langkah strategis dalam pengembangan industri kreatif di dalam negeri. Misalnya, memfasilitasi atau memberi kemudahan terhadap akses promosi baik itu secara offline maupun online. Ini bertujuan guna memperkenalkan produk kreatif anak negeri yang telah memiliki kualitas unggul, inovatif dan punya beragam desain menarik.

“Salah satu wujud konkretnya adalah Kemenperin bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), serta BNI bersinergi untuk terus mendukung kemajuan IKM di Kota Semarang,” paparnya.

Kolaborasi itu terealisasi melalui pendirian Galeri Industri Kreatif Semarang. Galeri yang terletak di gedung PT PPI, Kota Lama, Semarang ini telah diresmikan oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo didampingi Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu serta Direktur IKM Kimia Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka Kemenperin, E. Ratna Utarianingrum pada 26 Mei 2019.

Pendirian Galeri Industri Kreatif Semarang ini merupakan salah satu implementasi dari Nota Kesepahaman yang ditandatangani pada tahun 2017 antara Kemenperin dengan PT. PPI, dan Pemerintah Kota Semarang tentang Pengembangan IKM melalui Pemberdayaan Rumah Produksi di Kota Lama Semarang.

Galeri itu awalnya adalah gudang milik PT PPI yang telah direvitalisasi. Saat ini, Galeri Industri Kreatif Semarang diisi oleh puluhan pelaku IKM Kota Semarang, yang di antaranya dari sektor kerajinan, fesyen, logam, furnitur, dan kuliner.

Sejumlah sektor tersebut tercatat memberikan sumbangsih besar terhadap industri kreatif. “Sektor-sektor tersebut yang memberikan sumbangsih besar terhadap industri kreatif dan ekonomi nasional,” ungkap Ratna.

Kemenperin mencatat, jumlah IKM furnitur sebanyak 159 ribu unit usaha dengan menyerap tenaga kerja lebih dari 500 ribu orang. Selanjutnya, jumlah IKM fesyen tercatat 927 ribu unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 2,2 juta orang, serta IKM logam ada sekitar 158 ribu dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 490 ribu orang.

Ratna menjelaskan, kehadiran Galeri Industri Kreatif Semarang ini akan memberikan semangat baru bagi para pelaku industri kreatif untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitasnya. “Dukungan dari pemerintah daerah tentunya sangat memberikan energi yang besar bagi pertumbuhan industri kreatif seperti halnya penyediaan fasilitas Galeri Industri Kreatif Semarang ini,” tuturnya.

Kehadiran galeri ini pun mendapat apresiasi dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Menurutnya, konsumen pun dipermudah untuk mendapatkan produk-produk IKM yang kreatif dan berkualitas. “Satu langkah maju sudah dilakukan di Semarang. Ini membuat para pelaku industri kreatif memiliki wadah. Selamat buat Semarang,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian melalui unit di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), yakni Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta memperkenalkan aplikasi Batik Analyzer kepada para pengunjung pameran Gelar Batik Nusantara (GBN) 2019. Aplikasi ini berguna untuk membedakan kain batik asli (batik tulis, batik cap atau kombinasi) dengan tiruan batik.

Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menyampaikan, Galeri Industri Kreatif Semarang ini juga bakal menerapkan pembayaran digital dalam semua transaksinya yang dapat memudahkan pembeli. “Di sini yang menariknya, orang sudah dapat menggunakan kartu untuk membayar,” jelasnya.

Penggunaan metode pembayaran digital ini juga merupakan salah satu bagian dari penerapan industri 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Ke depan, diharapkan penerapan metode pembayaran digital ini menjadi salah satu instrumen untuk mendongkrak pertumbuhan sektor manufaktur di Indonesia.

BERITA TERKAIT

SERAPAN TENAGA KERJA INDUSTRI HASIL TEMBAKAU

Pekerja memproduksi rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) secara manual di pabrik rokok PT Praoe Lajar yang menempati bekas kantor perusahaan…

Pertumbuhan Industri Kopi Yang Didukung Pasokan Listrik PLN

    NERACA   Jakarta - Industri kopi di Indonesia mulai menunjukkan perkembangan yang masif, bahkan minum kopi dijadikan gaya…

Produk UMKM di Tengah Pasar Global

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) selama ini dikenal dalam tahan banting terhadap…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perjanjian Dagang RI-Mozambik Siap Ditandatangani

NERACA Jakarta – Perundingan perjanjian dagang atau Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia-Mozambik selesai dibahas, selanjutnya tim teknik kedua negara…

Pelaku Usaha Sarang Burung Walet Harus Tingkatkan Kualitas

NERACA Jakarta – Para pelaku usaha sarang burung walet di Jawa Tengah diajak untuk meningkatkan kualitas produksi agar bisa mengambil…

Indonesia Kehilangan Pasar Akibat Tertinggal Jajaki Perjanjian

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai bahwa Indonesia banyak kehilangan pangsa pasar (market share) di sejumlah negara akibat…