Intiland Pilih Kerjasama Kembangkan Proyek Maja - Pasar Properti Masih Tertekan

NERACA

Jakarta – Geliat pembangunan properti di Maja, Banten, seperti yang sudah dilakukan PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) menjadi daya tarik beberapa pemain properti lainnya untuk mengembangkan proyek disana. Alasannya, di tengah lesunya bisnis properti pasar segmen kelas bawah masih cukup menjanjikan dan salah satu yang bakal masuk adalah PT Intiland Development Tbk (DILD) yang nantinya menggadeng kerjasama untuk menggarap lahan disana. Apalagi, perseroan memiliki lahan cukup luas di Maja yang mencapai 2.066 ha dan sekitar 1.200 ha masih dalam proses pengembangan.

Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Development menyebutkan dari total lahan landbank belum semua dikembangkan. Untuk pengembangan Maja, dirinya menturkan saat ini terbuka akan investor yang masuk. Selain itu, disebutnya setiap kemungkinan masih dikaji. Hanya saja, dari pihaknya sendiri tahun ini lebih memilih untuk mengembangkan lahan kerja sama. "Karena itu juga akan lebih efisien bagi kami dalam penggunaan belanja modal,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Saat ini, lanjutnya, perseroan masih akan mengembangkan proyek-proyek properti di Jakarta dan Surabaya. Disebutkan, perseroan akan menggarap proyek eksisting seperti Praxis, Spazio Tower, Regatta yang tahun ini selesai. Kemudian masih ada Snow Bay, Graha Golf yang lagi konstruksi, dan proyek Fifty Seven Promenade.

Sedangkan untuk proyek baru, Archied mengungkapkan pada semester II nanti perseroan akan meluncurkan dua produk. Namun, sayang dia enggan merincinya. "Satu proyek di Jakarta dan satunya di Surabaya,"ungkapnya.

Adapun, belanja modal pada 2019 senilai Rp1,5 triliun yang akan digunakan untuk menyelesaikan proyek yang telah ada. Pada kuartal I/2019, DILD mengantongi marketing sales Rp254,2 miliar atau sekitar 10,2% dari target tahun ini senilai Rp2,5 triliun. Untuk mengejar target penjualan, DILD memprioritaskan pada penjualan proyek-proyek hunian, baik yang berasal dari pengembangan kawasan perumahan maupun apartmen.

Pada segmen perumahan, DILD kini mengandalkan penjualan Serenia Hills dan Talaga Bestari di Jakarta, serta Graha Natura di Surabaya. Sementara itu, untuk mengembangkan apartmen, DILD masih mengandalkan penjualan dari lima proyek apartmen yakni 1Park Avenue, Fifty Seven Promenade, dan Regatta di Jakarta, serta Graha Golf dan The Rosebay di Surabaya.

Dia menambahkan, penjualan dari proyek-proyek residensial, khususnya pengembang kawasan perumahan masih relatif stabil dan bisa diandalkan. Dia menambahkan, perseroan masih akan fokus pada penjualan unit-unit yang sudah ada. Pada tahun ini, DILD berencana untuk mempertahankan langkah konservatif untuk pengembangan high-rise, seperti apartmen dan perkantoran.

Target konservatif yang dilakukan Intiland mempertimbangkan kondisi pasar properti yang masih terteken di tahun ini. Tengok saja, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai sektor properti masih akan menghadapi tantangan pada tahun ini sebagai dampak naiknya tingkat suku bunga pada akhir tahun lalu dan nilai marketing sales yang dicapai para pengembang masih melemah.

Analis Pefindo, Niken Indriarsih pernah bilang, stimulus yang coba diberikan oleh pemerintah pada tahun ini masih belum bisa signifikan mengerek kinerja sektor properti. “Kebanyakan masih dari sektor properti. Masih ada tantangan karena tahun ini nampaknya juga tidak seperti yang diharapkan,” jelasnya.

Sementara analis Pefindo, Yogie Surya Perdana menambahkan bahwa tekanan kinerja berasal dari pengembang yang memiliki eksposur tinggi dalam membangun apartemen. Kondisi tersebut berkaitan dengan kondisi keuangan pengembang apartemen yang harus tetap menyelesaikan pembangunan kendati prapenjualan belum mencapai target seperti yang diharapkan.

BERITA TERKAIT

KERJASAMA PENYALURAN KPR

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Eko Putro Sandjojo (kedua kanan) dan Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Adi Sulistyowati…

Kerjasama Kartu Kredit Pemerintah

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI Eko Putro Sandjojo (kedua kanan) dan Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Adi Sulistyowati…

Potensi Besar, TCV Ingin Kembangkan Bisnisnya di Indonesia

      NERACA   Jakarta - Menurut Data & Informasi Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018 yang dirilis Kementerian Kesehatan,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Surya Semesta Siapkan Capex Rp 770 Miliar

NERACA Jakarta – Emiten pengembang kawasan industri, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) mengalokasikan belanja modal sebesar Rp770 miliar pada…

Ketua DPR Dorong Perusahaan Go Public

Ketua DPR Bambang Soesatyo menginginkan lebih banyak lagi perusahaan yang melantai atau mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena…

Tetapkan IPO Rp193 Persaham - Satyamitra Kemas Oversubscribed 1,5 Kali

NERACA Jakarta - PT Satyamitra Kemas Lestari (SKL) menetapkan harga penawaran umum saham perdana sebesar Rp193 per saham. Harga penawaran umum…