Pelemahan Rupiah Belum Mengkhawatirkan

NERACA

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar sedang mengalami pelemahan seiring dengan perang dagang antar Amerika Serikat dengan China yang kembali memanas. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore melemah seiring semakin memanasnya perang dagang dimana Amerika Serikat dan China saling membalas dengan menaikkan tarif impor. Rupiah melemah 11 poin atau 0,08 persen menjadi Rp14.434 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.423 per dolar AS.

Menanggapi pelemahan rupiah tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memandang pelemahan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini tidak mengkhawatirkan. Darmin menilai, faktor pemicu pelemahan kurs rupiah kali ini lebih banyak dari sisi eksternal yakni perang dagang Amerika Serikat dan Cina, bukan dari dalam negeri.

"Ya memang situasinya sekarang lebih dinamis. Setelah tadinya mulai agak tenang mendekati Rp 13.900 (per dolar AS). Sekarang kan lebih dinamis lagi. Kalau mengkhawatirkan sih tidak," jelas Darmin usai menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kantor Presiden, Selasa (14/5).

Sebelumnya, ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan saling mengancam dan membalas antara AS dan Cina membuat sentimen negatif pasar global seiring dengan ketidakpastian yang meningkat. "Konflik dagang ini akan membuat volume perdagangan dunia turun dan melambatnya ekonomi global," ujar Lana di Jakarta.

Pasca gagalnya kesepakatan dagang antara AS-Cina dan mulai efektifnya tarif baru dari AS sebesar 25 persen atas barang-barang impor Cina senilai 200 miliar dolar AS pada Jumat (10/5) pekan lalu, Cina melakukan pernyataan pembalasan akan mengenakan kenaikan tarif terhadap barang-barang impor dari AS senilai 60 miliar dolar AS pada 1 Juni 2019.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan nilai mata uang garuda dipengaruhi oleh memanasnya tensi perang dagang antara AS dan China. Selain itu, pelemahan rupiah juga didorong oleh permintaan dolar AS di dalam negeri yang cenderung meningkat seiring mendekatnya jadwal pembayaran dividen beberapa perusahaan.

Meski semakin terpuruk, tapi Josua melihat bahwa rupiah tidak akan tembus hingga Rp14.500 per dolar AS pada hari ini. "Rupiah pada hari ini diperkirakan akan berada di rentang Rp14.400-Rp14.485 per dolar AS," ujarnya. Menurutnya, sejauh ini pelemahan nilai tukar rupiah lebih dominan diakibatkan oleh faktor global dan itu hanya akan berlangsung sementara.

"Sejauh ini masih aman mengingat pelemahan rupiah ini hanya bersifat sementara karena faktor musiman permintaan dolar yang meningkat dan disertai sentimen negatif dari eksternal. Rupiah akan cenderung menguat terhadap dolar AS ketika sentimen perang dagang mereda dan akan ditopang oleh perbaikan defisit transaksi berjalan pada tahun ini," jelasnya.

BERITA TERKAIT

PENDAPAT SEJUMLAH PRAKTISI DAN PENGAMAT PERPAJAKAN: - Kebijakan Tax Amnesty Jilid II Belum Perlu

Jakarta-Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah dan kalangan pengamat perpajakan meminta agar pemerintah memikirkan ulang…

Peso Anjlok, BI Intervensi Cegah Pelemahan Rupiah

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengaku sudah melakukan intervensi di pasar spot dan pasar domestik mata…

PENGUSAHA RUGI RUPIAH AKIBAT BLACKOUT - Pemerintah Kaji Regulasi Baru Kompensasi

Jakarta-Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, regulasi baru besaran kompensasi pemadaman listrik masih dikaji,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Adira Insurance Buka Kantor Representatif di Mall

    NERACA   Jakarta - Guna mewujudkan pelayanan yang menjangkau seluruh Pelanggan, Adira Insurance buka kantor representatif di Gajah…

Laba CIMB Niaga Naik 11,8%

    NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk melaporkan perolehan laba bersih konsolidasi (unaudited) sebesar Rp1,98 triliun…

Awasi Sektor Keuangan, KPK Bentuk Tim Forensik

  NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan membentuk tim akuntansi forensik untuk mengawasi aliran dana pada sektor keuangan,…