Kenaikan Harga Tiket Pesawat Agar Lekas Diatasi

NERACA

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi pada Q1 2019 berada di angka 5,07%. Walau ada peningkatan secara yoy dari Q1 2018, namun angka ini dirasa belum cukup untuk menopang target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2019 yang digagas pemerintah. Beberapa faktor yang diduga awalnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, ternyata tidak begitu signifikan perannya dalam capaian pertumbuhan tersebut.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menyampaikan, salah satu faktor yang berperan besar dalam melambatnya pertumbuhan ekonomi itu adalah adanya kenaikan harga tiket pesawat. Kenaikan harga tiket pesawat yang cukup tinggi ini perlu diatasi. Sektor transportasi udara berperan tidak hanya untuk mendorong mobilitas manusia antar daerah di negara kepulauan, namun yang juga sama pentingnya adalah perannya terhadap sektor pariwisata di Indonesia.

Bukan merupakan rahasia lagi bahwa apabila sektor pariwisata tumbuh, maka tingkat konsumsi di daerah tersebut juga akan kuat. Beberapa daerah di Indonesia yang bergantung besar terhadap sektor pariwisata pun juga terkena dampak dari kenaikan harga tiket pesawat akhir-akhir ini. Hal ini, lanjutnya, pada akhirnya akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

"Pertumbuhan PDRB di Bali dan Nusa Tenggara saja, yang notabene menjadi tempat pariwisata utama, itu memiliki tingkat pertumbuhan sebesar 4,64% atau masih di bawah capaian nasional. Kenaikan tiket pesawat tentunya memiliki hubungan terhadap performa sektor pariwisata. Arus mudik yang akan mendatang juga pasti akan dipengaruhi dengan harga tiket pesawat yang berlaku. Sehingga penting bagi pemerintah untuk terus memperbaiki struktur pasar dan struktur harga di sektor transportasi udara tersebut,” tandasnya, dikutip dari siaran resmi.

Ilman melanjutkan, anggaran Rp25 triliun untuk pemilu belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai yang diharapkan. Padahal, pemilu awalnya diharapkan dapat mendorong sektor konsumsi karena sektor investasi bisa dikatakan belum cukup berani bertindak untuk investasi karena menunggu hasil pemilu. Capaian pertumbuhan yang sudah ada saat ini juga kembali membutuhkan diskusi lebih lanjut, karena faktor pendorong konsumsi yang tersisa sepanjang tahun ini bisa dikatakan hanyalah Ramadan dan Lebaran, dan mungkin juga Natal dan Tahun Baru.

“Kedua momentum ini bisa dirasa belum cukup untuk menjaga pertumbuhan perekonomian di kuartal-kuartal selanjutnya dimana pertumbuhan ekonomi di periode tersebut harus mencapai rata-rata 5,4%. Sehingga, perlu cara lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu cara untuk mendorong konsumsi adalah dengan menghilangkan barrier atau hambatan yang dihadapi oleh sektor konsumsi untuk bisa tumbuh,” jelasnya.

Sementara itu pemerintah dinilai perlu bekerja ekstra keras untuk menerbitkan kebijakan atau terobosan inovatif, yang mampu mendongkrak kinerja ekspor dan investasi, agar dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi 5,3 persen sesuai target pada 2019.

Hal itu tidak lepas dari realisasi pertumbuhan ekonomi, yang hanya 5,07 persen pada kuartal I 2019, atau masih di bawah ekspetasi berbagai kalangan termasuk pemerintah, kata lembaga kajian Institute for Development of Economics and Finance (Indef) di Jakarta.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan pada paruh pertama tahun ini, sektor-sektor penggerak ekonomi seperti manufaktur dan investasi ternyata bertumbuh tidak sesuai harapan dan gagal mendorong laju perekonomian. "Maka dengan capaian kuartal I 2019 ini akan semakin sulit untuk pemerintah mencapai sebesar 5,3 persen di tahun ini," ujar dia.

Dari pencapaian kuartal I 2019, Tauhid menilai pertumbuhan di sektor pertanian serta transportasi menjadi biang keladi

lambannya pertumbuhan ekonomi.

PDB sektor pertanian menurun karena harga komoditas di sektor tersebut juga terkoreksi terutama untuk tanaman pangan. "Di antara sektor ini tanaman pangan sumbangkan penurunan terbesar meski ada juga di kehutanan dan penebangan kayu. Misalnya harga gabah kering panen trennya turun dari Rp5.400 sampai sekarang Rp4.400," ujar dia.

Sementara di sektor transportasi, kenaikan tarif angkutan udara menjadi beban utama untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Sejak awal kuartal I 2019, tarif tiket pesawat ekonomi rute domestik sudah bergerak naik secara liar.

Hal itu yang menyebabkan permintaan transportasi menurun dan mengganggu kegiatan konsumsi masyarakat.

BERITA TERKAIT

HARGA GARAM

Petani memanen garam di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (13/8). Sebagian petani dan buruh tani di daerah itu enggan…

Kemenkeu Pastikan Kenaikan Tunjangan Direksi BPJS Kesehatan Tak Pakai APBN

  NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan memastikan kenaikan tunjangan cuti tahunan bagi Direksi dan Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan…

HARGA CABAI NAIK DRASTIS

Pedagang menata cabai dagangannya di Pasar Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/8/2019). Menurut pedagang, harga berbagai macam jenis cabai mengalami…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Paviliun di World Expo Diminta Tampil Futuristik

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan Paviliun Indonesia dalam World Expo Dubai…

Difasilitasi, IKM Furnitur Sukoharjo Tembus Pasar AS

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin aktif memacu pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas…

Bantu UMKM Go Online - Ralali Gerakkan Ratusan Ribu Agen

NERACA Jakarta - Hari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Nasional yang jatuh setiap 12 Agustus, selalu dirayakan pemerintah baik pusat…