Volkswagen Bakal Produksi E-Skuter Bareng Pabrikan China

NERACA

Jakarta – Produsen mobil Jerman, Volkswagen akan menggandeng pabrikan China NIU untuk memproduksi skuter listrik (e-scooters) bertenaga baterai, menurut warta media Jerman Die Welt, dilansir Reuters, disalin dari Antara.

Laporan itu menyatakan bahwa e-skuter yang dinamai Streetmate itu dapat menjelajah hingga 60 kilometer dengan tenaga baterai. "Perusahaan-perusahaan akan bersama-sama membangun model Streetmate, yang memiliki kecepatan tertinggi 45 kilometer (28 mil) per jam dan jangkauan 60 kilometer," kata laporan itu, disalin dari Antara.

Volkswagen memang serius menggarap pasar kendaraan listrik. Selain skuter, pabrikan yang identik dengan model VW Beetle itu juga akan meluncurkan mobil listrik pesaing Tesla di pasar China.

Mereka juga mendorong para mitra usahanya, meliputi SK Innovation (SKI) dan Samsung, agar membangun pabrik baterai mobil listrik berkapasitas produksi 1 gigawatt. Pembuat mobil Jerman itu juga sedang merenovasi 16 pabrik untuk memproduksi kendaraan listrik, sejalan dengan rencana memproduksi 33 model mobil berbeda di bawah merek Skoda, Audi, VW dan Seat pada pertengahan 2023.

Produsen mobil "Tiga Besar" (Big Three) Amerika Serikat, General Motors (GM), Ford dan Fiat Chrysler Automobiles (FCA) menghadapi lebih banyak tantangan di China, kata seorang pakar industri otomotif, Selasa dalam sebuah acara Asosiasi Pers Otomotif di Detroit, media setempat melaporkan.

Detroit News melaporkan bahwa Michael Dunne, CEO penasihat otomotif China ZoZo Go, mengatakan bahwa Tiga Besar yang berbasis di Detroit berisiko kehilangan tempat bagi perusahaan-perusahaannya di China dalam perlombaan menuju ruang otonomi dan elektrifikasi mobil 2.0 serta dalam ekuitas merek, karena para pembuat mobil China dan perusahaan-perusahaan teknologi meningkatkan produk mereka.

Tiga Besar teknologi China - Baidu, Alibaba dan Tencent - bertujuan untuk memimpin pada teknologi utama seperti kendaraan otonom, kendaraan listrik dan konektivitas. Menurut Dunne, produsen mobil AS "rentan" di pasar otomotif terbesar di dunia itu. Bahkan "mesin laba" GM di China dalam risiko karena penjualannya jatuh pada 2018 - penurunan tahun-ke-tahun pertama dalam setidaknya satu dekade - dan pada kuartal pertama 2019.

Titik terang bagi pembuat mobil AS yang beroperasi di China terus menjadi merek-merek mewah. Cadillac GM dan Ford Lincoln beresonansi dengan pelanggan China dengan cara yang sebagian besar tidak dimiliki oleh pasar massal.

Cadillac menjual sekitar 154.700 kendaraan di Amerika Serikat tahun lalu dibandingkan dengan 205.605 di China. Lincoln, yang berharap untuk terus memperkuat posisinya di pasar Asia, menjual 55.315 kendaraan di China pada tahun lalu dibandingkan dengan 103.587 kendaraan di Amerika Serikat.

BERITA TERKAIT

Lagi, BEI Bakal Lelang Kursi Anggota Bursa

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali melelang dua kursi kosong Anggota Bursa (AB) yang ditinggalkan oleh PT Merrill Lynch…

Gandeng Kerjasama Trum Junior - Proyek Prestisius Bakal Dongkrak Kinerja MNC Land

NERACA Jakarta – Menindaklanjuti keseriusan bisnis Donald Trump menggarap properti di Indonesia dengan menggandeng perusahaan MNC Group, ditunjukkan dengan kehadiran…

Hingga Akhir 2019, Sembilan Ruas Jalan Tol Bakal Diresmikan

      NERACA   Jakarta - Sebanyak 9 ruas jalan tol dengan panjang keseluruhan sekitar 406,14 Km secara bertahap…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Program B20 dan Kendaraan Listrik Bisa Terwujud Bersama

NERACA Jakarta – PT GESITS Technologies Indo, produsen sepeda motor listrik nasional GESITS, menilai penerapan program Biodiesel B20 dan kendaraan…

Pemerintah Serius Atur Strategi Tekan Harga Tiket Pesawat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang mengatur strategi untuk menekan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga masyarakat mampu membeli…

Dikembangkan, Produksi Benih Kerang Abalone

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembangkan produksi benih kerang laut jenis abalone Haliotis squamata, yang bernilai ekonomi tinggi,…