Siklus Likuiditas LKMS di Ramadhan

Oleh : Agus Yuliawan

Pemerhati Ekonomi Syariah

Bulan suci Ramadhan ini adalah bulan yang sangat berkah bagi umat Islam yang menjalankannya. Di bulan Ramadhan inilah Allah memberikan segala kasih sayang kepada umat manusia. Namun dibalik semangat Ramadhan tersebut, sering kali ada siklus tahunan yang dihadapi oleh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yaitu penguatan likuiditas (permodalan). Pasalnya di bulan puasa tersebut, banyak diantara para anggota atau nasabah LKMS melakukan penarikan dananya untuk kebutuhan Ramadhan. Maka dari itu LKMS dalam menghadapi siklus tahunan harus siap dan tidak boleh miss managerial sehingga mengganggu terhadap pelayanan. Siklus likuiditas dalam LKMS bukan hanya di bulan puasa, akan tetapi jelang anak masuk sekolah juga sering disebut siklus likuiditas. Konteksnya sama dengan di bulan puasa, pada jelang anak masuk sekolah juga terjadi banyak penarikan dana di LKMS.

Lantas bagaimana strategi LKMS dalam menghadapi penarikan dana tersebut? Apalagi dalam kenyataanya di manajemen LKMS banyak yang tidak siap dalam menghadapi siklus tersebut yang disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, tak ada portofolio dana cadangan. Kedua, terlalu banyak dana yang dilendingkan kepada para anggota. Ketiga, banyaknya pembiayaan yang macet akibat kepatuhan analisa pembiayaan yang banyak dilanggar dan keempat, ketidaktrampilan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola manajemen keuangan. Empat faktor itulah, yang sejauh ini menjadi kendala dalam penguatan likuiditas.

Untuk menjembatani hal tersebut LKMS perlu melakukan strategi khusus, diantaranya membuat perencanaan lebih matang diawal tahun terhadap laporan keuangannya, sambil melakukan proyeksi – proyeksi kondisi keuangan dan probabilitas yang terjadi dalam tahun tersebut. Jika diperlukan LKMS memiliki analisa ekonomi baik makro dan mikro sehingga institusi LKMS memiliki kebijakan strategis dalam liquiditas. Bahkan, secara spesifik, LKMS ke depannya mampu membuat alokasi dana cadangan khusus dalam menghadapi siklus likuiditas. Kedua, diperlukan pengetatan dalam penyaluran pembiayaan kepada anggota dan nasabah dengan mengedepankan kepatuhan dalam prinsip analisa pembiayaan keuangan. Ketiga, melakukan antisipasi dengan membangun networking dengan sumber pendanaan.

Dalam membangun networking terhadap sumber pendanaan, alangkah baiknya, apabila LKMS membentuk APEX LKMS yang merupakan induk atau sekunder dari gabungan LKMS – LKMS. Dengan adanya APEX LKMS inilah berbagai kekurangan likuiditas yang dihadapi oleh LKMS bisa di support oleh APEX – LKMS sebagai holding. Dengan demikian ketika terjadi silklus likuiditas dan krisis keuangan LKMS bisa terjamin kelangsungannya.

Meski sudah terbangun adanya APEX LKMS atau LKMS sekunder, terkadang dalam praktik di lapangan masih saja ada permasalahan dalam komitmen diantara LKMS primer. Seperti ketika LKMS primer mengakses APEX – LKMS pendekatan risiko sering tidak diperhatikan, dan begitu juga ketika LKMS primer mengalami kelebihan dana enggan ditaruh di APEX dan memilih ditempatkan di lembaga keuangan lainya. Hal–hal yang demikian menganggu peran fungsi APEX LKMS sebagai ketahanan likuiditas dan sekaligus sebagai media akses keuangan. Untuk itulah terkait dengan pengutan likuiditas dan siklus Ramadhan tak bisa dinilai pada satu variabel saja tapi berbagai variabel yang mempengaruhinya. Untuk menyelesaikan siklus tersebut diperlukan kreativitas dalam manajemen keuangan dan kekompakan tim dalam menyikapinya.

BERITA TERKAIT

Pacu Likuiditas Transaksi di Pasar - Pelatihan Wakil Pialang Berjangka Digelar

NERACA Jakarta – Guna menciptakan industri bursa berjangka sebagai produk investasi yang aman, transparan dan likuid, tentunya diperlukan peran pelaku…

Momentum Ramadhan dan Lebaran - Kimia Farma Bukukan Penjualan Tumbuh 20%

NERACA Jakarta – Selama Ramadhan dan Lebaran, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berhasil mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 10%-20%. “Kenaikan penjualan terjadi…

Pajak Obligasi Dipangkas - Likuiditas Perbankan Pastikan Tidak Terganggu

NERACA Jakarta – Menepis khawatiran pelaku pasar terkait kebijakan pemerintah menurunkan pajak obligasi, membuat Presiden Direktur OCBC NISP, Parwati Surjaudaja…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kabinet Baru dan Nasib Sial RI

  Oleh: Gigin Praginanto Pengamat Kebijakan Publik Banyak hal harus dibenahi dalam manajemen pemerintahan agar kabinet yang baru bisa bekerja…

Masalah Pendapatan dan Arus Kas

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Makin rajin kita memahami dinamika ekonomi yang terjadi di lintasan global dan…

Balada Sengon

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Sepekan terakhir nama pohon sengon mendadak viral.…