May Day, Buah "People Power"

Oleh: Djony Edward

May Day, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei oleh kaum buruh di hampir seluruh negara di dunia sebagai hari buruh internasional, lahir karena people power. May Day itu sebenarnya untuk mengenang hari pemogokan sekitar 350.000 orang buruh yang dilakukan oleh serikat buruh Amerika Serikat sejak April 1886. Pemogokan terjadi dengan tuntutan waktu kerja delapan jam sehari. Slogan mereka ketika itu antara lain “delapan jam kerja, delapan jam istirahat, delapan jam rekreasi”.

Ketika itu, para buruh di Amerika memang diharuskan bekerja dengan waktu kerja yang panjang. Perjuangan untuk meminta pengurangan jam kerja itu sudah dimulai sejak belasan tahun sebelumnya, dan keinginan untuk pengurangan jam kerja itu sudah terasa sejak kemerdekaan Amerika Serikat.

Ada dua tokoh buruh yang dianggap sebagai motor pergerakan menuntut pengurangan jam kerja itu, yakni Peter McGuire dan Matthew Maguire, pekerja mesin dari Paterson, Negara Bagian New Jersey.

Dia juga berusaha melakukan pendekatan dengan pemerintah agar menetapkan tuntutan mereka sebagai peraturan resmi negara. Di kalangan pengusaha, dan juga di mata sebagian aparat pemerintah, pekerja keturunan Irlandia itu dianggap sebagai pengganggu ketertiban.

Untuk meluaskan sayap pendukungnya, pada tahun 1881 McGuire pindah ke St. Louis, Missouri. Di sana meyakinkan para buruh untuk membentuk organisasi demi mencapai tujuan bersama. Dukungan buruh di Missouri pun didapatkan, dan mereka sepakat membentuk serikat buruh perkayuan, United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America. McGuire ditunjuk sebagai sekretaris jenderal.

Dalam pemogokan tanggal 1 Mei 1886 itu, praktis semua kegiatan ekonomi dan industri di Amerika Serikat lumpuh. Pada hari kedua aksi mogok, terjadilah kerusuhan.

Ketika pasukan polisi berusaha membubarkan aksi demo di lapangan Haymarket di kota Chicago, seseorang yang tak dikenal tiba-tiba melemparkan sebuah bom ke tengah barisan polisi. Puluhan polisi terluka akibat ledakan. Akibatnya polisi dengan membabi buta menembaki para pengunjuk rasa. Puluhan orang tewas di tempat kejadian, dan ratusan orang lainnya mengalami luka-luka.

Penyelidikan polisi tidak dapat menemukan siapa pelaku pelemparan bom tadi. Akibatnya, polisi menangkap delapan pemimpin aksi sebagai penanggungjawab dan menetapkan mereka sebagai tersangka. Kedelapan orang ini dikenal sebagai pemimpin buruh terkemuka di Chicago. Padahal ketika kerusuhan itu terjadi, hanya satu orang di antara mereka yang langsung berada di tempat kejadian. Kedelapan tokoh buruh itu lalu diseret ke pengadilan, dan dijatuhi hukuman mati.

Berita tentang hukuman mati para pemimpin buruh di Chicago itu tersiar ke seluruh dunia, dan kontan menuai protes dari berbagai serikat buruh di banyak negara. Tahun 1889 Sosialisme Internasional pun kemudian menyatakan 1 Mei sebagai hari demonstrasi. Setahun kemudian, sejak 1890, tanggal 1 Mei untuk pertama kalinya dirayakan sebagai Hari Buruh Internasional.

Tetapi, peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat dan diperingati secara internasional itu, di negeri asalnya sendiri justru tidak diperlakukan sebagai hari yang istimewa.

Buruh Amerika memilih hari libur nasionalnya pada Senin pertama setiap bulan September. Tanggalnya bisa berubah-ubah. Awal September itu bukannya tidak memiliki arti khusus bagi kaum buruh Amerika. Empat tahun sebelum mogok di Chicago, pada 5 September 1882 diadakan aksi demonstrasi sekitar 25 ribu orang buruh di New York.

Inilah demonstrasi pertama untuk menuntut pengurangan jam kerja. Duet McGuire dan Maguire menjadi inspirator sekaligus organisator dalam kegiatan ini.

Selain itu, alasan lain di balik pemilihan Senin pertama September adalah karena hari itu berada di antara peringatan Hari Kemerdekaan pada bulan Juli dan Thanksgiving Day pada bulan November. Pada tahun 1894, Pemerintah Negara Bagian Oregon menetapkan Senin pertama September itu sebagai hari libur umum 1894.

Oregon menjadi negara bagian pertama yang menetapkan ketentuan tersebut. Dan beberapa tahun kemudian, Presiden Grover Cleveland menandatangani Undang-undang yang menetapkan hari Senin pertama September sebagai hari libur umum nasional di seluruh Amerika Serikat dan Puerto Rico.

Kalau diperhatikan, mengapa Senin pertama September dan bukannya 1 Mei yang diperingati di Amerika, ada beberapa tafsiran yang dapat dilakukan. Hari 1 Mei, karena menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit, seolah mengandung semangat militansi yang kuat. Karena para aktifis buruh itu berani melakukan perlawanan fisik kepada penguasa untuk mencapai tujuannya.

Momen bersejarah dengan semangat militansi (dan sekaligus bisa memancing emosi) itu menjadi alasan kuat mengapa gerakan sosialisme internasional mengambilnya untuk menjadi hari buruh internasional. Dan militansi itu adalah modal yang sangat berharga untuk melakukan perlawanan terhadap kaum pemilik modal (kapitalis).

Sementara bagi sebagian buruh Amerika, bukan militansi itu an sich yang menjadi menjadi substansi dari gerakan mereka. Tuntutan untuk pengurangan jam kerja adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan kesejahteraan, sama halnya dengan tuntutan kenaikan gaji dan sebagainya.

Meski hari libur nasional setiap Senin pertama September sudah menjadi keputusan pemerintah yang ditetapkan dengan Undang-undang, toh sebagian lain buruh Amerika, terutama yang beraliran militan, tetap memperingati 1 Mei. Bahkan ketika itu, Partai Komunis Amerika menjadi sponsor utama peringatan May Day tersebut.

Aroma pertarungan ideologi politik di balik pemilihan antara 1 Mei atau Senin pertama September ini memang sangat kental. Apalagi beberapa puluh tahun kemudian, seusai Perang Dunia II, Amerika terlibat perang dingin dengan Uni Soviet dan negara-negara blok komunis. Pada tahun 1947, organisasi veteran Perang Dunia Amerika mengusulkan kepada pemerintah agar 1 Mei diperingati sebagai Hari Kesetiaan Nasional.

Tidak diketahui, momen bersejarah apa yang terjadi pada tanggal itu sehingga dikaitkan dengan masalah kesetiaan nasional. Yang jelas, pemerintah mengabulkan tuntutan itu. Hari kesetiaan itu baru mendapatkan “cantelan” ketika Amerika terlibat dalam Perang Vietnam.

Keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam itu ditentang oleh sebagian masyarakat, sehingga dukungan digalang dengan Hari Kesetiaan. Sehingga di masa awal penetapannya sebagai Hari Kesetiaan Nasional, kelihatan sekali bahwa pemilihan tanggal itu memang dimaksudkan untuk menandingi peringatan hari buruh pada 1 Mei yang saat itu masih dilaksanakan oleh aktivis buruh beraliran kiri.

Mengapa di balik penetapan 1 Mei itu ada pertarungan politik yang keras? Jawabnya mudah, karena di dunia internasional buruh adalah kekuatan dahsyat.

Perspektif itu juga terdapat dalam pengelolaan buruh di Indonesia. Di masa Orde Baru, kepentingan politik tetap jadi dasar utama dalam memperlakukan buruh dan organisasi buruh. Organisasi buruh yang sebelumnya puluhan itu dihimpun dalam satu wadah tunggal (mulai dari Federasi Buruh Seluruh Indonesia, kemudian jadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, dan terakhir jadi Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Wadah baru ini pun tak lebih dari bagian strategi mengeliminasi kekuatan buruh, yang –karena syak wasangka pemerintah—dianggap akan bertabrakan dengan kepentingan pemilik modal, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi.

Kini gerakan buruh Indonesia sudah maju setapak. Reformasi politik telah memungkinkan lahirnya beragam serikat buruh. Jelas alat perjuangan jadi semakin banyak.

Masalahnya, apakah buruh sudah menjadi lebih sejahtera? Belum. Buktinya setiap menjelang pergantian tahun, buruh masih terus berunjukrasa mengenai upah minimum dan hak-hak normatif lain.

Mengapa? Karena perjuangan gerakan buruk masih berkutat pada isu purbakala: Upah. Sudah waktunya serikat buruh yang menjadi alat perjuangan buruh menukar cakrawalanya: Bahwa memperjuangkan buruh bukan semata menaikkan upah. Memperjuangkan buruh adalah memperjuangkan martabat kemanusiaan. Dan upah hanyalah satu noktah kecil dari perjuangan besar itu.

Buruh Indonesia juga sudah memasuki gelanggang politik. Dalam May Day tahun lalu, ditandai dengan deklarasi dukungan terhadap pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Ada yang mengkritisi, mengapa peringatan Hari Buruh Internasional itu disisipi dengan aksi politik. Beberapa tokoh buruh yang tak sehaluan juga berkeberatan. Tapi, menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia ( KSPI) Said Iqbal yang menggagas deklarasi tersebut, dukungan terhadap Prabowo merupakan hak buruh. Buruh sebagai warganegara berhak menyatakan sikap politik.

Terlepas dari pro-kontra itu, gerakan buruh di Indonesia sejak awal mula kehadirannya memang selalu bersinggungan dengan politik dan partai politik. Dari sisi buruh, bersentuhan dengan politik itu adalah bagian dari perjuangan mereka mendapatkan kesejahteraan dan keadilan (walfare and justice), yang menjadi tujuan ideal gerakan buruh di dunia.[ (www.nusantara.news)

BERITA TERKAIT

Masyarakat Internasional Apresiasi Perlindungan HAM di Indonesia

  Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Hukum dan Budaya     Indonesia terpilih sebagai anggota Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan…

Melawan Hoax dan Radikalisme Demi Indonesia Maju

  Oleh : Aditya Akbar, Pengamat Sosial Politik Hoax dan Radikalisme merupakan hal yang dapat menghambat kemajuan Indonesia, hoax bukanlah…

Sumber Daya Manusia Unggul

Oleh: Elfindri, Guru Besar Ekonomi SDM dan Direktur SDGs Universitas Andalas Pertanyaan Presdir Metro TV Suryopratomo pada salah satu program…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Jokowi dan Amandemen UUD 1945

  Oleh : Agung Wahyudin dan TW Deora, Kolumnis dan Dosen   Permasalahan terbatas amandemen 1945 kembali memanas ketika terjadi…

Masyarakat Internasional Apresiasi Perlindungan HAM di Indonesia

  Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Hukum dan Budaya     Indonesia terpilih sebagai anggota Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan…

Melawan Hoax dan Radikalisme Demi Indonesia Maju

  Oleh : Aditya Akbar, Pengamat Sosial Politik Hoax dan Radikalisme merupakan hal yang dapat menghambat kemajuan Indonesia, hoax bukanlah…