Bersikap Move On dan Tetap Rukun Pasca Pemilu

Oleh: Hariqo Wibawa Satria, Pengamat Media Sosial

Masyarakat terutama pendukung dan tim kampanye diharapkan dapat kembali bangkit membangun kebersamaan pasca Pemilihan Umum yang berlangsung pada 17 April 2019. Karenanya perang tagar di media sosial diharapkan berganti menjadi hal-hal yang membangun untuk mempersatukan masyarakat.

Ada beberapa tips agar masyarakat terutama pendukung hingga tim kampanye para peserta Pemilu dapat move on atau bangkit kembali terutama untuk menebar persatuan. Jika saat kampanye mereka sukses membuat tagar yang menjelekkan salah satu capres hingga menjadi trending topik di dunia, maka setelah pilpres, seharusnya mereka juga mampu mampu membuat trending topik yang membela kepentingan nasional Indonesia.

Maka supaya panasnya Pemilu tak berlarut-larut pasca pencoblosan. Pertama yang perlu dilakukan yakni melupakan janji-janji aneh yang disampaikan pendukung para peserta Pemilu. Semisal janji potong leher, potong telinga dan lainnya. Artinya, masyarakat diharapkan lebih fokus menagih janji-janji kepada para peserta Pemilu yang memenangi kontestasi itu. Masyarakat agar menghilangkan label negatif yang kerap disematkan pada masing-masing kubu dan pendukung peserta pemilu.

Kedua, yakni menyampaikan konten-konten sejuk semisal ucapan selamat kepada pendukung yang pilihannya memenangi Pemilu dan menjauhi konten yang memprovokasi. Ketiga, menghormati pendukung yang pilihannya kalah dalam Pemilu.

Keempat, agar terciptanya kedamaian pasca pemilu, langkah aparat penegak hukum yang segera melakukan penindakan terhadap berbagai pelanggaran yang ditemukan dalam pemilu.

Kelima, move on bagi yang menang adalah secepat mungkin bekerja merealisasikan janji-janji, bukan memikirkan cara membalas dendam karena sakit hati di masa kampanye. Justru yang harus dilakukan merangkul semua golongan untuk merealisasikan janji-janji tersebut.

Keenam, para calon anggota legislatif (caleg) menyampaikan terimakasih pada masyarakat dan pihak-pihak yang terlibat menyukseskan jalannya pemilu.

Tips terakhir, menyadari akan berharganya sebuah persatuan. Menurut Hariqo, masyarakat terutama pendukung harus mendahulukan kepentingan nasional dibanding kepentingan masing-masing kubu yang berkontestasi dalam Pemilu.

Kepentingan nasional haruslah di atas kepentingan Jokowi-Maruf maupun Prabowo-Sandi. Renungi konten yang kita unggah di medsos, fitnah, hoaks yang kita buat dan sebarkan hanya menguntungkan sementara kandidat yang kita dukung, namun merugikan persatuan dan kesatuan bangsa untuk waktu yang lama.

BERITA TERKAIT

Waspada dan Jangan Terprovokasi Hoaks Jelang Hasil Pemilu

Oleh: Sandra Ariyanti, Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta Pada era globalisasi saat ini teknologi berkembang sangat pesat. Sebagian besar individu telah…

PWI Jabar Santuni Anak Yatim dan Fakir Sepuluh Kota dan Kabupaten

PWI Jabar Santuni Anak Yatim dan Fakir Sepuluh Kota dan Kabupaten NERACA Sukabumi - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat…

MUI Perlu Mengeluarkan Fatwa untuk Jaga Keutuhan Umat dan Bangsa - KOTA SUKABUMI

MUI Perlu Mengeluarkan Fatwa untuk Jaga Keutuhan Umat dan Bangsa KOTA SUKABUMI NERACA Sukabumi - Penolakan terhadap aksi people power…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Perlukah Rekonsiliasi Nasional?

  Oleh : Lutfi Safrudin, Pengamat Sosial Politik Hari pemungutan Suara telah dilewati dengan berbagai berita, hal tersebut menandakan bahwa…

Maraknya Penjualan Data Pribadi, Bagaimana Peran UU Keterbukaan Informasi Publik?

Oleh: Adam Qodar, Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Penjualan informasi data pribadi yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab meresahkan…

"Capital Flight" Berlanjut Karena Belum Ada Perbaikan Signifikan

Oleh: Djony Edward Kabar buruk perang dagang AS-China dan defisit transaksi perdagangan telah membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah…