Dividen Cikarang Listrindo Ikut Terkerek Naik - Berkah Permintaan Listrik Meningkat

NERACA

Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) memutuskan untuk membagikan dividen dengan total US$72,6 juta atau Rp66 per saham untuk buku tahun 2018. Adapun laba bersih perseroan pada 2018 yakni US$78,89 juta.Selain itu, pada November 2018 perseroan telah membagikan dividen interim Rp24 per saham. “Tiga tahun terakhir keuangan meningkat, 2016 kurang lebih Rp55 per lembar, pada 2017 Rp59 per lembar dan 2018 di Rp66 per lembar,”kata Direktur Keuangan Cikarang Listrindo, Christanto Pranata di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, permintaan kilowatt jam (kWh) listrik dari lima kawasan industri tumbuh 4,8% secara tahunan pada 2018. Total penambahan daya tersambung sebesar 20 MVA dan jumlah pelanggan meningkat sebanyak 60 pelanggan. Maka dengan capaian itu, perseroan membukukan penjualan bersih US$574,1 juta atau tumbuh 1,4% secara tahunan pada 2018. Dari situ, laba kotor yang dibukukan senilai US$215,4 juta atau naik 3,6% secara tahunan.

Perseroan mencatat earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) senilai US$221,3 juta pada tahun lalu. Realisasi itu naik 4,5% dibandingkan dengan periode 2017. POWR menyebut pertumbuhan itu disebabkan oleh peningkatan penjualan listrik kepada pelanggan kawasan industri. Selain itu, terjadi efisiensi bahan bakar sebesar 7,3% pada 2018.

Kendati demikian, laba tahun berjalan yang dikantongi oleh perseroan turun 26,49% secara tahunan pada 2018. Pencapaian turun dari US$107,33 juta pada 2017 menjadi US$78,89 juta tahun lalu. Christanto menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh faktor non-recurring dan non-cash. Penyebabnya yakni selisih kurs akibat pemelaham nilai tukar rupiah rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang 2018 sebesar 6,9%.

Selain itu, guna mendongkrak penjualan di tahun ini, perseroan bakal mengkomersialkan penggunaan pembangkit listrik energi baru dan terbarukan. Langkah ini dilakukan sebagai salah satu transformasi perseroan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik. “Sejak 2018 masih penjajakan solar panel dan sedang feasibility study untuk opsi pembakaran biomassa di PLTU Babelan. Tahun ini baru coba apply,”kata Christanto Pranata.

Meski demikian, lanjutnya, perseroan belum dapat memastikan peningkatan daya yang akan dilakukan dengan adanya pembangkit EBT tersebut. Perseroan baru dapat memastikan peningkatan daya setelah proses studi kelayakan tersebut selesai. “Nanti setelah mendapatkan informasi yang baik, kami baru bisa menentukan berapa yang ekonomis,”jelasnya.

Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal berkisar US$40 juta—US$50 juta yang didapat melalui pendanaan internal perseroan. Adapun sekitar US$20 juta—US$25 juta dari belanja modal yang dianggarkan akan digunakan untuk biaya pemeliharan pembangkit listrik tenaga gas dan batu bara. “Selebihnya untuk distribution capex dan pengembangan pembangkit listrik EBT,” ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Kalbe Farma Tebar Dividen Rp 1,22 Triliun

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp1,22 triliun atau Rp26 per saham untuk tahun…

Bagikan Dividen Rp 298,4 Miliar - Saratoga Berharap Bisnis Pulih Pasca Pilpres

NERACA Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) menetapkan dividen senilai…

SMGR Bagikan Dividen Rp 1,23 Triliun

NERACA Jakarta – Hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Semen Indonesi (Persero) Tbk (SMGR) memutuskan untuk membagikan dividen…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…