Kasus Alergi Kian Parah Seiring Perubahan Iklim

Pemanasan global membuat perubahan iklim kian tak terkontrol. Seiring berjalannya waktu, perubahan iklim membuat musim alergi terasa lebih buruk.Hal itu dibuktikan dalam sejumlah penelitian. Sebuah studi menemukan 1 dari 10 orang Amerika Serikat berjuang melawan demam pada 1970. Angka itu meningkat menjadi 3 dari 10 orang AS menderita demam pada tahun 2000.

Para ahli berpendapat bahwa perubahan iklim bertanggung jawab terhadap meningkatnya jumlah penderita alergi. The Asthma and Allergy Foundation of America mencatat peningkatan tersebut terjadi setiap tahunnya.

Temperatur yang lebih hangat membuat jumlah serbuk sari yang ada di udara meningkat. Serbuk sari tanaman merupakan penyebab alergi paling umum. Satu dari lima orang di dunia pernah mengalamai alergi serbuk sari. "Suhu yang lebih hangat memungkinkan tanaman untuk melakukan penyerbukan lebih awal dan lama," ujar Direktur Komunikasi Asthma and Allergy Foundation of America, Angel Waldron, melansir CNN.

"Kami melihat kini orang-orang mengalami alergi dalam waktu yang lebih lama daripada dahulu. Itu terkait dengan perubahan iklim," tambah Waldron.Tak hanya suhu hangat yang menjadi faktor, jumlah karbondioksida yang kian banyak akibat perubahan iklim disukai tanaman. Sebuah studi menemukan, dalam beberapa tahun ke belakang, jumlah serbuk sari yang dihasilkan tanaman berlipat ganda dengan tingkat karbondioksida yang lebih tinggi.

Lebih Baik Mencegah

Perubahan iklim yang kian mengganas tak berarti membuat Anda harus menyerah pada alergi. Waldron menyarankan Anda untuk mengurangi aktivitas luar ruangan pada pukul 10 pagi dan 2 siang. Atau, waktu di mana Indeks Kualitas Udara menetapkan jumlah serbuk sari yang tinggi.

Jangan lupa untuk menaruh sepatu di luar ruangan dan ganti pakaian jika Anda berada di luar ruangan untuk waktu yang lama. Mandikan pula hewan peliharaan yang terbiasa beraktivitas di luar. Selain itu, Anda juga disarankan untuk mandi pada malam hari. "Ini untuk membersihkan rambut Anda dari serbuk sari yang sangat mungkin menempel di sana," kata Waldron.

Rambut, kata Waldron, sangat dekat dengan hidung. "Itu benar-benar dapat mengganggu Anda," kata dia.

BERITA TERKAIT

Tekanan Makin Berat, Ekonomi Kian Melambat

Oleh: Djony Edward Sepanjang bulan Mei 2019 banyak sekali kabar buruk yang melanda ekonomi kita, setidaknya ada 9 indikator makro…

Kemenkeu Hormati Proses Hukum Terkait Kasus Pengadaan Kapal Patroli

Kemenkeu Hormati Proses Hukum Terkait Kasus Pengadaan Kapal Patroli NERACA Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menghormati proses hukum yang saat…

Kebijakan Publik - Kemenperin dan Polri Sinergi Wujudkan Kondusifitas Iklim Usaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sepakat bersinergi untuk mewujudkan pengamanan di bidang perindustrian…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Batam Antisipasi Penularan Cacar Monyet dari Singapura

Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, mengantisipasi penularan virus cacar monyet atau monkeypox, setelah Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan penemuan penderita…

Cara Tepat Mencegah Dehidrasi saat Berpuasa

Di bulan Ramadan, tubuh menahan haus dan lapar selama lebih dari 12 jam. Artinya, ketika berpuasa, tubuh tidak menerima asupan…

Agar ASI Tetap Lancar saat Bulan Ramadan

Memasuki bulan Ramadan, umat Islam harus beradaptasi dengan penyesuaian waktu makan. Utamanya, bagi ibu menyusui yang membutuhkan asupan demi air…