Persaingan E-Money Kian Marak

Maraknya persaingan uang elektronik (financial technology—Fintech) belakangan ini semakin tajam di tengah kondisi perbankan nasional yang melambat. Menariknya, uang yang di tanam dalam bisnis Fintech tidak ada beban bunga yang mengikat, sehingga sangat menguntungkan penyelenggara. Berbeda dengan bank, yang harus menanggung beban bunga simpanan masyarakat.

Kita melihat posisi Go-Pay dan Ovo sebagai “leader” sudah laju melenggang dan meraup dana puluhan triliun rupiah. Sama halnya dengan WeChat dan Alipay yang berhasil menggeser industri perbankan di China, kabarnya juga mulai eksis di dalam negeri. Artinya, gempuran Fintech asing saat ini mau tidak mau perlu dihadapi secara “berjamaah” antarBUMN agar lebih ringan bersaing di pasar bebas.

Kita melihat sejumlah BUMN perbankan dan lainnya tampaknya mulai sadar diri dan siap bergabung untuk menghadapi persaingan meraup dana tunai dan ditanamkan dalam Fintech Lokal melawan Fintech asing.

Menurut data Bank Indonesia, saat ini ada 41 uang elektronik yang sudah beredar, terdiri dari 30 uang elektronik berbasis server dan 11 uang elektronik berbasis chip, dan masih berpotensi untuk bertambah. Ini artinya potensi bisnis pembayaran digital sangat menjanjikan, sehingga tidak heran jika T-Cash, Go-Pay dan OVO akan berebut pelanggan secara sengit.

Menurut riset FT Confidential Research Mobile Payment, Go-Pay yang merupakan bagian dari ekosistem Gojek memimpin pasar. Sebab, jumlah penggunanya mencapai hampir tiga perempat dari total pengguna uang elektronik. Hal ini diakui CEO Go-Pay Aldi Haryopratomo yang menyatakan, pada dasarnya masyarakat Indonesia butuh pendekatan yang komprehensif untuk mengadopsi pembayaran secara digital.

Untuk itu, 40% dari 240 ribu mitra Go-Pay saat ini merupakan UMKM. “Sebagai produk keuangan asli Indonesia, Go-Pay ingin mempermudah akses layanan keuangan bagi jutaan keluarga di Tanah Air terutama masyarakat yang memiliki akses terbatas terhadap layanan keuangan formal.

Ini pembayaran non tunai terutama yang terkait aktivitas sehari-hari merupakan langkah pertama yang disasar Go-Pay, untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan jasa keuangan digital. Caranya, dengan merangkul mitra rekan usaha termasuk UMKM untuk mengadopsi transaksi non tunai.

Laporan Fintech 2018 DailySocial juga menyebutkan, 79,4% dari 1.419 responden menggunakan Go-Pay. Sementara OVO dari PT Visionet Internasional (OVO) digunakan oleh 58,4% responden dan aplikasi pembayaran milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), TCash baru mendapat 55,5% suara.

Sebanyak 70,63% responden mengaku paham mengenai layanan keuangan digital. Ada tujuh alasan mereka menggunakan layanan keuangan digital, yakni kemudahan dalam penggunaan (74,9%); simpel (71%); efisiensi waktu (62,7%); tidak perlu repot pergi ke bank (48,9%); lebih aman (36,4%); adanya promo dan insentif (36,4%); serta, pengelolaan yang lebih baik (29,8%).

Jelas, Go-Pay cepat diadopsi oleh masyarakat Indonesia, terutama UMKM. Bagaimanapun, akar pertumbuhan ekonomi terbesar adalah UMKM. Saat ini UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan serapan tenaga kerja mencapai 97,2%.

Dua platform pembayaran asal China yakni Alipay dan WeChat yang disebut-sebut menguasai sebagian besar transaksi pembayaran di Tiongkok dan membuat bank tak bisa bergerak leluasa di bisnis ritel. Karena kedua dompet digital ini menguasai 80% hingga 90% transaksi pembayaran di China. Bahkan kalangan anak muda lebih mengenal kedua alat pembayaran ini ketimbang uang kartal (uang kertas).

Alipay dan WeChat dikabarnya sudah masuk juga di Indonesia, beberapa pengguna merasa nyaman dengan layanan kedua Fintech asal China tersebut. Tentu saja keduanya menjadi ancaman baru bagi penyelenggara Fintech lokal. Untung saja BUMN penyelenggara Fintech mulai sadar soal perlunya melakukan sinergi dalam menghadapi serangan Fintech asing. Sedikitnya ada enam BUMN penyelenggara Tintech semeperi Telkomsel (T-Cash), Bank Mandiri (e-Money), BRI (T-Bank), BNI (Yap!), BTN dan Pertamina.

BERITA TERKAIT

Tawarkan Kemudahan Belajar - Extramarks Rilis Program Money Back Guarantee

Dukung pengembangan kualitas belajar dan mengajar di Indonesia, Extramarks Indonesia sebagai perusahaan yang menyediakan solusi belajar digital 360 derajat meluncurkan…

Rajut Kembali Perdamaian dan Persatuan Setelah Persaingan

  Oleh : Elita Simorangkir, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Berbagai umbul – umbul bendera partai, baliho maupun stiker kampanye telah diturunkan.…

Upaya Pencegahan Pelanggaran Persaingan Usaha Melalui Program Kepatuhan

Upaya Pencegahan Pelanggaran Persaingan Usaha Melalui Program Kepatuhan NERACA Jakarta – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) selalu berupaya melakukan upaya…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Mari Bersatu Kembali

Tidak bisa kita pungkiri bahwa sebelum digelarnya Pemilihan Umum 2019 kemarin begitu menyerap banyak tenaga dan pikiran. Dalam masa kampanye…

Waspadai Hoaks Soal KPU

Menghadapi pelaksanaan hasil Pemilu yang akan diumumkan KPU pada 22 Mei 2019 tentu akan menjadi perhatian aparat keamanan, khususnya TNI-Polri.…

Jaga Kebijakan Harga

Ketika Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Ombudsman RI mengendus kebijakan impor berbagai komoditas pangan tampaknya terdapat  kekurangsinkronan antara Kementan,…