Pengembang Tidak Lagi Agresif Bangun Hotel

Pengembang Tidak Lagi Agresif Bangun Hotel

NERACA

Jakarta - Konsultan properti Colliers International menyatakan bahwa pengembang di DKI Jakarta tidak lagi agresif dalam membangun hotel baru di kawasan Ibu Kota.

"Ada kecenderungan pengembang tidak lagi agresif dalam membangun hotel karena performance-nya masih sekitar 60 persen," kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam paparan properti di Jakarta, Selasa (2/4).

Namun demikian, ujar dia, diproyeksikan pada 2019 akan ada tambahan lagi sebanyak 2.593 kamar hotel bintang 3 dan empat yang siap beroperasi di Jakarta pada tiga kuartal terakhir 2019. Kinerja okupansi atau tingkat keterisian hotel pada awal tahun ini dinilai masih lambat karena masih belum banyak aktivitas binsisi.

Apalagi, ia juga berpendapat bahwa kegiatan politik pada Pemilu 2019 ini tidak sebanyak dengan pemilu lima tahun sebelumnya sehingga tidak cukup kuat dalam meningkatkan kinerja perhotelan."Pada 2019i, kami masih melihat belum ada plus factor seperti tahun lalu ada Asian Games 2018 yang cukup mendorong okupansi," ucap dia.

Pada kuartal II-2019 dengan memasuki periode bulan puasa, lebaran dan liburan sekolah, maka diperkirakan tingkat hunian hotel di Jakarta juga masih belum bisa melesat kinerjanya.

Kemudian Ferry juga memaparkan, barulah pada paruh kedua 2019 diperkirakan akan ada banyak kegiatan yang melibatkan pihak hotel karena dinilai termasuk masa penyerapan anggaran pemerintah. Untuk hotel di luar Jakarta, ia juga menyoroti fenomena kenaikan harga tiket pesawat yang dari hasil diskusi beberapa pemilik hotel ternyata juga merupakan hal yang mencemaskan bagi mereka.

"Mereka (pemilik hotel) mengkhawatirkan ini terutama di daerah-daerah yang harus dijangkau dengan pesawat," papar dia.

Namun untuk di Bali, ujar dia, tingkat hunian diprediksi akan mengalami peningkatan seiring tren wisatawan asing yang terus meningkat karena banyaknya rute penerbangan langsung ke Pulau Dewata.

Properti "Coworking Space" Terus Melesat

Sementara dalam kesempatan yang sama, Konsultan properti Colliers International menyatakan bahwa properti "coworking space" atau ruang kerja bersama diperkirakan bakal terus melesat ke depannya meski saat ini masih sangat sedikit jumlahnya dibandingkan perkantoran konvensional."Kita lihat bahwa coworking space masih akan terus dominan pertumbuhannya," kata Ferry.

Ferry mengungkapkan, properti ruang kerja bersama pada 2018 memang masih sekitar 5,1 persen dari seluruh areal perkantoran di kawasan Jakarta, tetapi jumlah ini meningkat dari 2 persen pada 2017. Menurut dia, berdasarkan perhitungan kasar maka pada saat ini total masih ada sekitar 70.000 meter persegi ruang kantor bersama yang terdapat di kawasan sentrabisnis ibukota."Jumlah coworking space diperkirakan terus tumbuh karena kebutuhan untuk itu masih tinggi," ucap dia.

Apalagi, ia berpendapat bahwa kebutuhan untuk ruang kerja bersama tidak hanya lagi datang dari perusahan rintisan tetapi juga dari korporasi besar yang melihat ruang kerja bersama sebagai solusi yang praktis.

Sebelumnya, Senior Associate Director Office Services Colliers International Indonesia Ricky Tarore menuturkan kepopuleran ruang kerja bersama terjadi di semua negara."Coworking space banyak menampung perusahaan startup. Mereka masuknya penyewa besar dan ini tentu akan membantu landlord (pemilik properti)," kata dia.

Menurut Ricky, penyewaan lahan untuk ruang kerja bersama akan membantu pemilik tanah untuk membiayai biaya pemeliharaan. Pasalnya, pemilik tanah membuuhkan paling tidak 65 persen okupansi di lahan mereka.

Seiring perkembangan startup (rintisan), nantinya perusahaan rintisan tentu akan membutuhkan ruang yang lebih besar untuk mengelola usahanya sehingga pasar properti kantor pun bisa ikut bergerak."Nanti mereka berkembang bisa menyewa kantor yang lebih besar. Mereka akan bisa menciptakan permintaan baru, dan itu sudah terjadi," kata dia. Mohar/Ant

BERITA TERKAIT

Klaim Fireworks Jadi Pemegang Hak Tagih Tunggal Dinilai Tidak Benar

Klaim Fireworks Jadi Pemegang Hak Tagih Tunggal Dinilai Tidak Benar NERACA Jakarta - Klaim Fireworks Ventures Limited sebagai pemegang tunggal…

Siapkan Dana Investasi US$ 100 Juta - Saratoga Bangun Rumah Sakit di Bekasi

NERACA Jakarta –Genjot pertumbuhan portofolio investasi, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) terus mengembangkan investasinya. Salah satunya yang tengah dikembangkan…

Fitch Sebut APLN Tidak Layak Investasi

Bila sebelumnya lembaga peringkat internasional Moody's Investors Service menurunkan peringkat PT Agung Podomoro Land Tbk menjadi B2 dari sebelumnya B1,…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

Pemasaran Urbantown PP Urban Capai 90 Persen

Pemasaran Urbantown PP Urban Capai 90 Persen NERACA Jakarta - Urbantown, produk properti milik PT PP Urban menunjukkan performa baik…

Kebijakan Relaksasi Pajak Bisa Lesatkan Apartemen Kelas Atas dan Mewah

Kebijakan Relaksasi Pajak Bisa Lesatkan Apartemen Kelas Atas dan Mewah NERACA Jakarta - Kebijakan relaksasi pajak yang baru dikeluarkan oleh…

Investasi Properti Diperkirakan Terdampak Perang Dagang AS-China

Investasi Properti Diperkirakan Terdampak Perang Dagang AS-China   NERACA Jakarta - Investasi sektor properti diperkirakan bakal terdampak perang dagang antara Amerika…