Mengkritisi Upaya Membuka Pasar Baru Dunia

Oleh: Pril Huseno

Forum “Seminar Perdagangan Nasional dan Dialog Gerakan Ekspor Nasional” yang digagas Kadin, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia dan Euro Cham pada akhir Februari 2019 lalu, menemukan fakta bahwa hampir separuh ekspor Indonesia rupanya hanya tertuju pada lima negara yakni Amerika Serikat (AS), China, Jepang, India, dan Singapura (Kompas,11/3/2019).

Temuan tersebut terasa ironis dan bertolak belakang dengan tekad pemerintah yang sejak dua tahun lalu mencanangkan untuk go internasional, dalam upaya membuka pasar-pasar baru dunia di negara-negara non tradisional bagi penetrasi produk-produk ekspor dalam negeri.

Niat mencari pasar baru mengemuka setelah angin perubahan cenderung membangkitkan kembali agenda proteksionisme negara-negara besar terutama Amerika Serikat, Eropa dan juga India yang memainkan sederet persyaratan ketat bagi impor barang-barang yang masuk ke negara-negara tersebut. Dimotori AS yang menaikkan tarif baja tinggi bagi produk baja China dan beberapa negara lain, juga ancaman pengenaan sanksi ekonomi bagi 14 negara termasuk Indonesia yang dianggapnya berlaku curang sehingga AS mengalami defisit perdagangan parah, terutama dengan China. Kemudian Uni Eropa yang membatasi menerima produk CPO Indonesia maksimal tahun 2022, serta India yang menaikkan tarif bea masuk CPO Indonesia.

Kecenderungan perubahan perilaku ekonomi dunia tersebut tentu saja berisiko besar bagi keberlangsungan pemasaran produk ekspor dalam negeri. Untuk itulah tekad pencarian pasar baru dikumandangkan. Namun, yang terjadi ternyata negara tujuan produk ekspor rupanya masih berputar-putar pada ke lima negara yang disebutkan di atas, sementara tekad perluasan pangsa pasar baru malah belum terdengar signifikan. Padahal, di dunia ini ada sekitar 200 negara. Itu menggambarkan, belum ada upaya serius bagi misi-misi dagang yang berupaya meretas pasar baru di benua-benua Afrika, Asia, Amerika latin, Eropa Timur, Australia dan New Zealand.

Mengapa upaya perluasan pangsa pasar baru yang seharusnya telah berhasil menembus berbagai benua dan negara tujuan ekspor non tradisional belum juga terdengar hasilnya? Padahal, ada 195 negara lain yang merupakan peluang bagi masuknya produk-produk ekspor Indonesia? Apakah karena kurangnya koordinasi, atau kurangnya kompetensi pelaksana terutama para dutabesar yang semestinya menjadi leader dalam menembus pasar mancanegara, atau memang, ketiadaan konsep pemasaran yang semestinya disusun secara cermat dan komprehensif agar berhasil? Bagaimana menjelaskan hal ini?

Penguatan pasar ekspor baru tentu menjadi hal signifikan--jika berhasil baik--bagi pemulihan neraca perdagangan Indonesia disamping meningkatkan nilai cadangan devisa. Defisit neraca transaksi berjalan saat ini terjadi antara lain karena kurangnya nilai ekspor dibanding impor barang yang masuk. Hal itu jika dibiarkan, dalam jangka panjang akan memperburuk daya tahan perekonomian nasional di tengah kecamuk perang dagang dan ketidakpastian ekonomi global.

Satu-satunya cara adalah memperbaiki kemampuan industri nasional dalam menghasilkan produk-produk ekspor yang mempunyai daya saing tinggi. Sehingga seiring dengan upaya masif dan jitu dalam menembus pasar baru dunia, produk ekspor Indonesia dapat diterima oleh negara lain. Namun, pekerjaan rumah paling besar saat ini memang bagaimana caranya agar pertumbuhan dunia industri nasional berhasil melampaui angka pertumbuhan ekonomi. (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Netralitas ASN, TNI dan Polri, Wujud Nyata Upaya Pelihara Demokrasi

  Oleh : Tyas Utami, Pemerhati Sosial Media Jelang Pemilu, hampir semua kalangan masyarakat riuh dengan berbagai pilihannya, namun berbeda…

Diversifikasi Ke Pasar On-Road Truck - Kobexindo Pasarkan Foton Truck dari Beijing

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan penjualan, PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) melalui anak perusahan PT Kobexindo Foton Indonesia resmi menjadi…

Pertimbangkan Kondisi Pasar - Anak Usaha BUMN IPO di Paruh Kedua

NERACA Jakarat – Sejak pembukaan perdagangan di tahun 2019, baru tiga perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Meningkatkan Produktivitas Kota Melalui TOD

  Oleh : Untung Juanto ST. MM, Pemerhati Produktivitas SDM Presiden Joko Widodo di dampingi oleh Gubernur DKI Jakarta Anies…

Bersikap Move On dan Tetap Rukun Pasca Pemilu

  Oleh: Hariqo Wibawa Satria, Pengamat Media Sosial Masyarakat terutama pendukung dan tim kampanye diharapkan dapat kembali bangkit membangun kebersamaan…

Plus Minus Super Holding BUMN

Oleh: Djony Edward Calon presiden Jokowi pada debat kelima mengungkapkan rencananya untuk membentuk super hodling Badan Usaha Milik Negara (BUMN).…