HK Metal Targetkan Pendapatan Tumbuh 95% - Operasikan Empat Mesin Baru

NERACA

Jakarta –Produsen almunium, PT HK Metals Utama Tbk (HKMU) optimis masih postifnya pertumbuhan ekonomi di tahun politik akan memberikan harapan terhadap pencapaian bisnis perseroan. Oleh karena itu, perseroan membidik pertumbuhan pendapatan hingga 95% secara tahunan pada 2019 seiring dengan penambahan 4 mesin ekstrusi baru pada tahun ini.

Sekretaris Perusahaan HKMU, Imelda Feryani menuturkan bahwa perseroan menambah 4 mesin ekstrusi dan 1 mesin smelter pada tahun ini. Beberapa mesin baru ini melengkapi 3 mesin ekstrusi dan 1 mesin melter yang telah beroperasi pada tahun lalu.Dimana satu mesin baru ekstrusi telah beroperasi pada akhir Februari 2019.

Adapun, dua mesin baru akan beroperasi pada akhir Maret dan 1 mesin baru pada Mei 2019. Sementara itu, mesin smelter baru diperkirakan beroperasi pada kuartal III/2019.Penambahan mesin baru memberikan total produksi menjadi 1.500 ton per bulan dengan kapasitas penuh, dari semula 450 ton per bulan. Emiten dengan kode saham HKMU ini, memperkirakan produksi aluminum ekstrusi tahun ini sebesar 12.000 ton - 13.000 ton, dari semula 3.500 ton pada 2018.“Full year total produksi berkisar 12.000 - 13.000 ton aluminium dari penambahan 4 mesin di tahun ini,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Seiring dengan penambahan kapasitas produksi, perseroan membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 93%-95% secara tahunan pada tahun ini. Proyeksi pertumbuhan ini berasal dari pertumbuhan bisnis manufaktur sebesar 170,2% secara tahunan dan bisnis perdagangan sebesar 66,0% secara tahunan.Bisnis manufaktur diperkirakan akan mengambil porsi lebih besar terhadap pendapatan konsolidasi perusahaan yang diperkirakan 38,5% pada 2019, lebih tinggi dari 2018 sebesar 27,8%. "Total target revenue 2019 akan tumbuh sekitar 93%-95% dibandingkan tahun lalu,"jelasnya.

Menurut riset Sinarmas Investment, bisnis manufaktur HKMU menawarkan margin yang lebih tinggi dan arus kas yang lebih baik. Sinarmas Investment memberikan rekomendasi beli terhadap saham HKMU dengan target harga Rp490 sampai dengan akhir 2019, dengan potensi kenaikan 37,6%.Sementara berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2018, HKMU mencatatkan penjualan sebesar Rp607,69 miliar, naik 73,72% secara year on year.

Adapun, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp51,28 miliar, naik signifikan dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18,05 miliar. Kemudian pacu pertumbuhan bisnis, perseroan akan memperbesar kapasitas pabrik aluminium yang merupakan lini anak usaha yaitu PT Handal Aluminium Sukses. Nantinya dengan peningkatan kapasitas produksi, perseron bisa menggenjot pasar ekspor.

Direktur Keuangan HKMU, Pratama Girindra pernah bilang, saat ini perseroan telah melakukan penjualan ekspor ke Belanda dan juga Amerika Serikat dan di tahun depan membidik pasar ekspor ke Kanada. “Kanada sudah menunggu produk kami didistribusikan ke sana yakni aluminium extrusion. Karena kami lihat potensi penguatan dolar AS kedepan bisa berdampak positif bagi perusahaan,"ujarnya.

BERITA TERKAIT

Perbesar Pasar Ekspor - Sritex Bidik Pendapatan US$ 1,19 Miliar

NERACA Jakarta – Seiring dengan upaya memperbesar pasar ekspor, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex tahun ini mengincar…

Perbanyak Mitra Baru - Kioson Targetkan Penjualan Rp 4,74 Triliun

NERACA Jakarta – Rencanakan menambah mitra baru tahun ini menjadi 70 ribu mitra yang tersebar di Indoesia, PT Kioson Komersial…

Bank NTT Akhirnya Punya Dirut Baru

    NERACA   Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) bakal dinakhodai Direktur Utama (Dirut)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…