Revitalisasi Pasar Dorong Peningkatan Penerimaan Daerah

NERACA

Jakarta – Pengamat ekonomi Candra Fajri Ananda meyakini revitalisasi pasar tradisional yang dilakukan pemerintah dapat mendorong peningkatan retribusi pajak serta penerimaan daerah secara keseluruhan.

Candra menjelaskan peningkatan retribusi pajak dapat terjadi karena pembenahan manajemen pasar yang disertai perbaikan kapasitas dapat menyumbang kegiatan ekonomi lebih besar. "Pajak daerah pasti naik, kalau pasar tradisional itu direvitalisasi," kata pengajar Universitas Brawijaya, disalin dari Antara.

Candra menambahkan revitalisasi pasar rakyat juga dapat meningkatkan omzet para pedagang serta memperkuat kegiatan ekonomi pelaku usaha kecil agar lebih kompetitif dan tidak kalah bersaing dengan ritel besar.

Meski demikian, ia mengingatkan upaya meningkatkan daya saing pasar tradisional bukan hal yang mudah karena pasar modern telah memiliki manajemen maupun pasokan logistik yang lebih unggul.

Dalam kesempatan terpisah, Pengelola Pasar Rakyat Purbolinggo, Lampung Timur, Budi Hariyanto mengakui revitalisasi pasar tradisional memberikan manfaat bagi kegiatan perekonomian di daerah.

Menurut dia, tidak hanya kualitas pelayanan yang meningkat, namun juga terdapat perbaikan dari sisi manajemen maupun pengelolaan pasar, terutama dari sisi kebersihan. "Dengan tampilan beda, pengunjungnya semakin bertambah kurang lebih 20 hingga 30 persen. Ini penambahan konsumen," katanya. Selain itu pengelolaan retribusi untuk kios maupun sampah menjadi lebih teratur sehingga memberikan peluang bagi tercapainya target Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sementara itu, Pengelola Pasar Gunung Sari, Kota Cirebon, Edi Mahdi mengatakan upaya pembenahan pasar tradisional telah memberikan kesadaran kepada pedagang untuk terlibat dalam isu pengelolaan sampah.

Untuk itu, pengelola meminta pedagang guna memperhatikan masalah kebersihan kios maupun lingkungan sekitar dengan menertibkan aktivitas pembuangan limbah. Penertiban ini telah mendapatkan sertifikasi dari pemerintah provinsi, Standar Nasional Indonesia (SNI) maupun pemerintah pusat sehingga pasar ini layak disebut sebagai pasar yang sehat.

Kementerian Perdagangan berupaya menyempurnakan data perdagangan di pasar, mengingat pendataannya saat ini masih kurang lengkap. Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita usai menggelar Forum Group Discussion (FGD) bersama para mantan menteri perdagangan di Kantor Kemendag. "Jadi, memang data masih menjadi persoalan besar, tapi harus bisa kita dapatkan," kata Mendag Enggar di Jakarta, disalin dari Antara.

Enggar menyampaikan hal tersebut merupakan masukan dari mantan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Khrisnamurti yang hadir dalam FGD tersebut. Sementara itu, Bayu mengatakan, pemerintah membutuhkan sebuah teknologi untuk memonitor bukan hanya harga barang di pasar tradisional, namun juga memantau pergerakan arus barang yang ada di pasar tersebut. "Karena sampai sekarang kita sangat sulit membuat kebijakan yang komprehensif untuk pasar dalam negeri, karena tidak ada datanya," ungkap Bayu.

Menurut Bayu, data tersebut perlu mencakup perdagangan, mengingat data produksi yang ada tidak selalu sama dengan realitas perdagangan. "Jadi bayangkan, kalau ada 5.200 pasar direvitalisasi dan itu dilengkapi dengan mekanisme untuk memantau arus barang tadi, maka itu akan menjadi instrumen yang luar biasa bagus," tukas Bayu.

Pengamat ekonomi Ahmad Heri Firdaus mengatakan upaya pemerintah melakukan revitalisasi pasar tradisional merupakan langkah tepat untuk menggeliatkan kembali kegiatan ekonomi rakyat. Ahmad menyatakan revitalisasi ini tidak hanya menarik minat masyarakat untuk berbelanja, namun juga meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan belanja. "Kaitannya pertama, menarik kembali konsumen-konsumen supaya mau belanja ke pasar. Kemudian juga meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan utama," kata Ahmad.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini menjelaskan saat ini masyarakat cenderung menyukai untuk berbelanja di tempat yang nyaman. Oleh karena itu, tambah Ahmad, perbaikan fasilitas pasar tradisional diperlukan agar pasar rakyat tidak sepi pembeli dan kegiatan ekonomi terutama UMKM makin berkembang luas. "Kalau pasarnya sudah langka terus sudah banyak yang rusak sana-sini, ini perlu ditingkatkan kembali dan diperluas kapasitasnya," katanya.

BERITA TERKAIT

Diversifikasi Ekonomi Daerah

Prediksi sejumlah ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 (yoy) sebesar 5,2%, ternyata meleset pada hanya mencapai 5,07%, atau naik tipis…

Pansel Capim KPK Akan Cari Kandidat dari Daerah

Pansel Capim KPK Akan Cari Kandidat dari Daerah NERACA  Jakarta - Panitia Seleksi Calon Pimpinan (Pansel Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi…

BEI Delisting Pencatatan Efek SIAP di Pasar

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menghapus pencatatan efek saham milik PT…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ini Penjelasan Harga Cabai Merah Stabil Tinggi

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mencatat harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di sejumlah pasar tradisional menunjukkan peningkatan…

Perang Dagang Diharapkan Tidak Semakin Gerus Ekspor RI

NERACA Jakarta – PT. Bank Central Asia Tbk mengingatkan perlunya antisipasi dari pemerintah agar berlarutnya konflik perdagangan antara Amerika Serikat…

Reformasi WTO Untuk Mengembalikan Kredibilitas

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan reformasi terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dapat mengembalikan fungsi lembaga tersebut terhadap…